Malaikat Terhebat dalam Hidupku

Cerpen : Aghitsna Malika Putri

Tuwa’* pernah berkata padaku bahwa jiwa yang memiliki rasa sabar tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh apa pun. Seberapa besar sakitnya, sebanyak apa pun deritanya, jiwanya akan selalu kuat, layaknya karang, dan selalu ada seperti angin. Saat itu, mungkin aku belum paham apa maksud dari perkataan Tuwa’. Namun, semakin aku dewasa, aku mulai sadar bahwa yang Tuwa’ katakan memang benar adanya. Selama aku hidup, jiwaku telah diuji ribuan kali untuk membuktikan perkataan Tuwa’ yang tak pernah luput dari ingatanku.

Wa’, mada ma lao sakolah wa’u”*, pamitku pada Tuwa’selepas sarapan.

“Hati-hati di ncai, dula sakola lao lalo aka tolo*, jawab Tuwa’ sambil mencium keningku.

***

Bulan ini adalah musim panen di sawah yang Tuwa’ garap. Aku hanya hidup berdua dengan Tuwa’ di rumah hijau sederhana, di pelosok Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Aba Tato* dan Dae* telah meninggal lima tahun silam karena tenggelam di sori* saat air pasang ketika sedang memandikan kuda. Sejak saat itulah, Tuwa’ mencoba berbagai cara untuk melanjutkan hidup dengan mencoba berbagai usaha. Berbagai hal Tuwa’ lakukan untuk menghidupi Yumna kecil yang sangat penakut. Hingga saat ini, kehidupan kami masih sangat bergantung pada hasil panen di sawah yang Tuwa’ garap milik pak Lurah. Jika musim panen belum tiba, Tuwa’ akan pergi ke kota untuk berjualan berbagai bahan pangan yang sekiranya bisa di jual di pasar kota.

Aku tidak pernah merasa keberatan dengan kehidupan yang bisa dikatakan serba berkecukupan ini. Tuwa’ selalu berkata kepadaku bahwa semua manusia itu sebenarnya mampu, yang menjadi permasalahannya adalah seberapa besar rasa sabar yang Ia miliki karena semenyakitkan apapun kehidupan seseorang, jika Ia memiliki rasa sabar yang besar, kehidupannya pun akan terasa indah.

***

“Assalamualaikum, Wa’ “, teriakku keras ketika sampai di sawah.

“Eh, wa’u ra dula sakola, mai ta ake nak”*, jawab Tuwa’ sumringah menyambutku.

Aku langsung berlari kecil ke gubug di pinggir pematang sawah. Tuwa’ yang telah selesai membersihkan kaki dan tangannya langsung menyusulku ke gubug untuk makan siang bersama. Aroma wangi sayur lodeh kebanggakan Tuwa’ menyeruak masuk ke hidungku ketika rantang dibuka. Aku tersenyum. Aku bersyukur bisa berada di posisi ini. Bercengkrama hangat dengan Tuwa’ untuk makan bersama di tengah sawah yang dimanjakan dengan sepoi angin sawah yang sangat menyejukkan. Teman-teman sekolahku yang berasal dari kota pernah berkata padaku kalau mereka tidak pernah merasakan hal menyenangkan seperti yang aku rasakan. Ketika itulah, aku menyadari bahwa kehidupan yang indah bukanlah diukur dari materi. Bahwa kebahagiaan hidup tidak hanya melulu tentang persoalan sebanyak apa harta yang dimiliki, tetapi kebahagiaan sejati ada pada diri kita sendiri. Dari hati kita dan dari bagaimana cara kita menciptakan kebahagiaan tersebut. Hal itu yang selalu Tuwa’ ajarkan kepadaku.

Setelah selesai makan, aku langsung beberes merapikan rantang yang telah bersih dari sayur lodeh dan tempe buatan Tuwa’. Aku bergegas melinting celana dan lenganku untuk menyusul Tuwa’ yang telah lebih dulu turun ke lahan berlumpur lengket dengan dipayungi sinar Mentari yang terik nan panas siang ini. Berbeda dengan wajahku yang masih terbalut rapat dengan kain tembe nggoli* sehingga dapat terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung. Tuwa’ku memang wanita yang tangguh, gumamku sambil berlari ke tengah sawah menyusul Tuwa’.

***

Pernah suatu ketika, Sumbawa dilanda hujan yang berkepanjangan. Sinar mentari pagi yang selalu menyapa indah pagiku, digantikan oleh awan kelabu yang menjadikan hariku berwarna abu-abu dan terasa sendu. Suara petir bersaut-sautan menggemakan langit Sumbawa. Aku meringkuk takut di pelukan Tuwa’ sambil memejamkan mata. Tak henti-hentinya Tuwa’ melantunkan bacaan kalam-Nya dengan terus mengelus lembut kepalaku untuk menenangkanku dengan sesekali mencium keningku.

“Sabar, Nak. Rahmat Allah wunga londo. Doa wa’u, yuk. Petir samporo wali”, suara Tuwa’ yang lembut menenangkan jiwa gelisahku.

Entah sejak kapan aku mulai takut dengan suara petir. Setiap ada suara petir aku selalu berlari mencari Tuwa’ dan memeluknya erat. Ketika saat itu jugalah, Tuwa’ selalu mengelus lembut kepalaku dan terus menenangkanku. Suara petir selalu mengingatkanku dengan suasana pemakanan Aba tato dan Dae. Suaranya yang terus bersautan di atas makam Aba dan Dae membuatku merasa takut. Tenagaku seperti terkuras habis ketika mendengarnya. Terhitung sejak musim hujan lebat melanda Sumbawa, aku tak berani jauh dengan Tuwa’. Di dekat Tuwa’, aku merasa tenang. Di pelukannya, aku merasa nyaman. Aku menangis dan mempererat pelukanku di tubuh Tuwa’ yang mulai ringkih karena usia. Tubuhku menggigil. Mulutku tak berhenti mengigau yang membuat kecemasan Tuwa’ memuncak. Tuwa’ makin mengeraskan lantunan ayat suci-Nya. Pelukan Tuwa’ di tubuhku semakin kuat. Tubuhku menggigil kuat. Tanganku bergetar hebat. Bibirku pucat pasi. Aku tak kuasa melihat wajah tua Tuwa’ yang sangat takut dan cemas dengan kondisiku saat ini yang makin tak karuan. Tuwa’ berlari ke dapur dan membawakanku sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk mengompresku.

Hingga lewat tengah malam, tubuhku tak makin membaik. Panas tubuhku malah bertambah. Aku mencoba membuka mata perlahan. Kulihat Tuwa’ yang tertidur lelah di sampingku sambil memelukku. Aku menangis. “Allah, terima kasih telah kirimkan malaikat sehebat Tuwa’ di hidupku”, gumamku pelan sambil mengeratkan pelukan di tubuh tua Tuwa’.

***

Aku membuka mataku perlahan. Suara deras hujan masih terdengar berisik di luar. Awan kelabu masih nyaman bersinggah di langit Sumbawa. Aku kaget ketika sudah tidak melihat Tuwa’ di sampingku. Aku berusaha membangkitkan tubuhku untuk mencari Tuwa’ sambil terus menangis. Aku takut. Aku takut jika petir datang lagi. Di mana? Di mana Tuwa’? Aku berjalan tertatih menyusuri seluruh ruangan. Namun, tak kunjung aku menemukan Tuwa’. Di setiap sudut ruangan telah kucari, Tuwa’ pergi. Aku menangis kencang. Aku meringkuk takut di sudut kamar. Tubuhku bergetar hebat. Tuwa’ kemana, Allah? Aku memeluk erat selimut tua peninggalan Aba. Wajahku telah kuyup dibanjiri air mata. Aku takut Tuwa’ pergi.

Pukul dua dini hari, aku terbangun oleh suara lembut lantunan ayat suci yang sangat familiar di telingaku. Aku menoleh ke samping. Aku melihat Tuwa’ yang sudah berada di sisiku sambil mengelus lembut rambutku.

Ra lao mu tabee, Tuwa’?, Yumna dahu”*, keluhku sambil menangis.

Eh, sayang,wa’u ra tu’u? Maaf, nak. Ina wa’u ra dula weli lo’i di ru’u Yumna”*, jawab Tuwa’ lembut.

Yumna dahu midi diuma kesena”*, rengekku manja.

“Iya, sayang. Weli lo’i diru’u Yumna eoci ku ra taho”*, ucap Tuwa’ menenangkan.

Saat itu, aku tak kuasa membayangkan begitu kuatnya Tuwa’ menerobos hujan lebat dan banjir hanya untuk membelikanku obat di kota yang berjarak cukup jauh dari desaku. Bagaimana bisa Tuwa’ berjalan sendirian di malam yang dingin, sepi, dan dipenuhi suara petir?. Bagaimana bisa semua itu tidak menghalangi seorang wanita tua untuk berjalan ditengah kegelapan dengan sandal jepit usangnya? Saat itulah aku sadar bahwa perkataan Tuwa’ memang benar. Bahwa rasa sabar tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh apapun. Sebesar apapun rintangannya. Sesakit apapun penderitaannya. Kalau dalam jiwannya sudah memiliki rasa sabar, dunia tidak akan mampu mengalahkannya. Tuwa’ adalah wanita tersabar yang Tuhan kirimkan kepadaku.

***

Aku mungkin pernah kesal dengan Tuwa’. Lebih tepatnya sering, sih. Aku selalu marah ketika Tuwa’ membangunkanku di sepertiga malam untuk bercengkerama dengan-Nya. Aku membentak, meninggikan suaraku, ketika Tuwa’ memaksaku untuk membaca Kalam-Nya. Aku selalu mengomel setiap Tuwa’ mengulang-ulang perkataannya ketika mengingatkanku untuk selalu bersabar. Aku salah. Kini aku sadar bahwa semua yang Tuwa’ ajarkan kepadaku dahulu adalah bekal untukku saat ini dan nanti, di akhirat. Kini, Tuwa’ telah tiada. Yumna kecil yang dulu selalu minta dipeluk ketika suara petir menggema di langit, kini telah tumbuh dewasa di tempat yang lebih layak dari sebelumnya.

Yumna kecil yang dahulu hanya tinggal di pelosok Sumbawa, kini telah singgah dan menetap di Negeri Paman Sam. Kini, aku telah tumbuh dewasa menjadi wanita yang tangguh dan kuat seperti Tuwa’. Semua itu berkat perempuan sehebat Tuwa’. Rasa sabar Tuwa’ dalam merawat dan mengajarkanku banyak hal hingga aku bisa sampai di titik ini, tidak akan pernah bisa kulupakan. Bahwa orang yang memiliki rasa sabar di dalam jiwannya, tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh apa pun. Jiwanya akan selalu kuat, layaknya karang dan selalu ada, seperti angin.

Aku yakin, Tuwa’ akan bangga padaku jika melihatku saat ini dari peraduannya. Aku sangat yakin bahwa Tuwa’ akan tenang di sana karena ditemani oleh malaikat-malaikat baiknya Allah, seperti Allah yang telah kirimkan malaikat terbaik di kehidupanku. Jika semua Ibu di dunia ini seperti Tuwa’, mungkin negeriku telah jaya sejak dulu. Karena di dalam rahim wanita yang tangguh, akan terkandung calon-calon pemuda yang tangguh pula. Karena wanita  yang hebat, akan melahirkan anak-anak yang hebat pula.

Catatan:

*Panggilan untuk Ibu di Sumbawa.
*Bu, aku berangkat sekolah dulu.
*Hati-hati dijalan nak, setelah pulang langsung ke sawah ya.
*Panggilan untuk Ayah di Sumbawa.
*Panggilan untuk orang yang lebih tua (kakak) di Sumbawa.
*Sungai.
*Eh, anakku sudah pulang, sini nak.
*Sarung penutup untuk menutupi wajah anak perempuan yang belum menikah.
*Sabar ya, nak. Rahmat Allah sedang turun, nih. Berdo’a dulu, yuk. Petirnya sebentar lagi berhenti.
*Ibu, darimana? Yumna takut.
*Eh, sayang. Kok sudah bangun? Maaf,nak. Ibu kemarin dari kota untuk membeli obat untuk Yumna.
*Yumna gamau ditinggal sendiri, Bu. Yumna takut.
*Iya, sayang. Ibu beli obat agar Yumna cepat sembuh. Sekarang tidur lagi ya.

 

Cerpen ini Pemenang Harapan II Lomba Menulis Cerpen Scientia 2020 dengan tema “Ibu, Perempuan yang Merawat Negeri” 

Biodata:

Aghitsna Malika Putri lahir di Yogyakarta, 5 Maret 2002. Sekarang, ia tinggal di Sleman, Yogyakarta dan sedang kuliah pada semester satu di Universitas Gadjah Mada. Ia dapat dihubungi melalui alamat email aghitsnamalikaputi@gmail.com atau melalui Instagram @yeahitsalika, ataupun melalui whatsapp 0813 2682 8545

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *