![Ketua Umum Fatayat Nahdhatul Ulama, Anggia Ermarini di Jakarta. Sabtu, (3/4). [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/134df812-d581-4dd1-8b75-606ecd5f9023.jpg)
Menurutnya, jihad paling relevan, islami, dan pasti bernilai pahala adalah jihad membebaskan diri dari kemiskinan, kebodohan, serta membantu kesulitan ekonomi orang lain. Terutama, jihad yang dengan melaksanakan protokol kesehatan dan ikut vaksinasi. Inilah jihad saat ini, angan justru disimplifikasi dan direduksi makna hakikatnya.
“Pada zaman Rasulullah dulu, jihad dengan berperang itu memang jelas mati syahid. Situasi umat Islam saat itu diperangi orang kafir, sehingga perlu mempertahankan diri. Kalau sekarang, di negara yang damai seperti Indonesia tiba-tiba menyatakan jihad, itu sedang memerangi siapa? Bukannya mati syahid, itu jelas mati sangit (hangus),” ujar Anggia di Jakarta. Sabtu, (3/4).
Ketua DPW PKB Sumbar ini juga meminta, agar orang tua lebih memperhatikan pergaulan anak-anak remajanya yang mulai memasuki usia sekolah dan kuliah. “Pergaulan di lingkungan SMP, SMA, dan kampus harus diawasi betul, termasuk aktivitas organisasinya. Pelajaran dari Zakiah Aini, remaja perempuan yang meneror Mabes Polri, ternyata orang tuanya baru tahu anaknya terpapar paham radikal setelah mengecek akun instagramnya,” katanya.
Anggia mengingatkan, mumpung belum telat, para orang tua harus lebih aware terhadap aktivitas media sosial serta pergaulan keseharian anak-anaknya. “Milenial itu incaran empuk kelompok teroris karena mereka lebih mudah dicuci otak. Terutama yang baru belajar agama saat usia dewasa, harus didampingi betul agar tidak salah pengajian dan salah guru pengajarnya,” ingatnya. (frl)
![Ketua Umum Fatayat Nahdhatul Ulama, Anggia Ermarini di Jakarta. Sabtu, (3/4). [foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/134df812-d581-4dd1-8b75-606ecd5f9023.jpg)
Tinggalkan Balasan