Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

Pulang Padamu

Padamu Alif, aku pamit
Saat selat menjadi sempit
Hanya biru sejauh pandang
Tak putus-putus
Aku tercepuk-cepuk di atasnya

Hujan harusnya datang Oktober nanti
Tapi mataku sudah basah begini

Alif, lain waktu ‘kan kutulis surat buatmu
Tentang awan sisik Januari
Mengapung di atasku yang pedih tak terperi
Juga tentang bunga-bunga bakung ungu
Mereka buang muka padaku

Bukan main sakitnya pulang dengan penuh kekalahan
Semua mata menusuk
Aku asing di tanah sendiri

Alif, kau yang selalu percaya
Pada setiap mimpiku
Langitkan doamu yang seharum vanili
Tuhan selalu menyertai

Esok aku ke medan
Bertempur di sana

Aku akan jadi nyala api
Jadi panah dan peluru
Lalu pulang padamu sebagai sungai

 

Pram

Wajah lelaki di bawah payung hitam
Pakaiannya hitam
Matanya hitam seperti malam
Jiwanya hitam memeluk seluruh warna yang diredupkan

Sore-sore, ia datang padaku
Bercerita tentang Lisa yang ingin pulang ke rahim ibunya

Malam-malam aku di hadapannya
Bicara perempuan bernama Mariyuana
Bicara tentang tobacco dan Rabiya Adawiya

Ia adalah kemerdekaan yang aku inginkan
Napasnya adalah kebebasan

Tengah malam lewat sedikit,
ia bertanya “peradaban seperti apa yang kau inginkan?”

 

Tamu di Rumah Ibu

Aku menjelma tamu di rumah ibu
Muka rumah menjadi asing
beserta lantai, dinding, dan pemiliknya

Sejak hatiku terbelah dua
Aku mempertanyakan kepulanganku untuk siapa

Rumah kosong tanpa cinta
Tiada siapa-siapa

Ibu menggantung lukisan padi,
Pantai merah muda yang sepi,
dan Mekah yang berseri

Ibu suka balkon dengan jendela besar,
Rak buku kayu kauka,
dan bunga-bunga segar

Tapi ini tetap bukan tempat pulang
Hanya tempat singgah musafir yang akan berangkat bila fajar datang

Ranti

Ia berlayar ke Depok
Hidup adalah perjalanan, katanya
seperti Nyanyian Angsa
Pagi hina
Siang bertaubat
Pastor tak terima
Ia pergi ke pinggiran kota
Senja di sungai jernih bercahaya
Bertemu kekasih dan pergi ke surga

Namun, ia singgah ke Solo
Menyaksikan peninggalan
dari cerita duka yang lama
tentang orang yang dipaksa hilang
Ranti menemukan yang tersisa
Fajar Merah

 

Biodata Penulis:
Amalia Aris Saraswati merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Anggota FLP Sumbar, dan Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Cabang Padang. Selain menulis cerpen dan puisi, karya-karyanya juga sudah dimuat dalam beberapa media cetak dan daring.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *