Puisi-puisi Julian Makhmudasa

Kepada yang Esa

dalam pertemuan ini, ingin kusampaikan
bahwa segala yang tunduk pada senja
ialah jingga yang melilit tubuhku
dan segumpal cahaya terpenjara di dalamnya

saat berkata tentang pelik yang bergumul
bertandang bagai hidangan semerawut
tak ada lagi nisbi yang meranggas
pada tubuh yang kian sesak bernapas

melodi-melodi aneh menjelma alunan kekusutan
angin bertiup mengantarkan perkabungan
pengap dan lelap menemu naas
kubaringkan badan pelangkahan kepada yang Esa

Padang, 2021

 

Rabuk Air Mata

di sana, planet sedang baik-baik saja
seperti awal yang kau lihat dari kedatangan
di sini, bumi menangis terus-menerus
barangkali, ia kembali lahir setelah dimatikan manusia

tangis berkepanjangan menemu luka
disayat sembilu semesta bermata dunia
keduniaan yang membuat segalanya seakan-akan fana
seperti waktu yang tak dapat dihentikan

namun segala yang bermula
akan menjalani
lalu menemukan pengakhiran
seperti sebuah fase yang terus dihukumkan ke segalanya

di sini, masih tiris dengan rabuk-rabuk air mata negeri!

Padang, 2021

 

Ia Tak Pernah Kembali

sekujur tubuhku berselimut debu
ia tak juga datang ke sini
dalam lamunan panjang selalu kusaksikan
betapa bahagianya kau menari sembari tersenyum

saat gelap menyungkup segalanya
kelopak mata juga kelopak bayang-bayang
menenggelamkannya di dalamnya
hingga hilang entah ke mana

aku bergerak mundur ke utara
bersenggama dengan angin yang bertiup sendu
dan tak mendatangi bayang lagi
hanya kehampaan yang kian meluas kian hari

Padang, 2021

 

Laju Waktu

padamu, semua itu kutujukan
bila kefanaan telah mengancam akal sehat
dan cinta bukanlah rubik yang harus dituntaskan begitu saja
maka akan kuselami kedalaman rindu
mencari lubuk kasih yang membenamkan diriku dalam keabadiannya

pada hari yang tiba-tiba berpatahan
kuhentikan laju waktu
agar kita tetap biru pada cumbu
meski sunyi menjelma bahagia yang lain
bergerak di sepertiga malam
membunuh kasih di belahan dada kita

Padang, 2021

 

Jalan Pulang ke Palungmu

bila kau ditelan sepi
maka temuilah aku di bawah malam
saat rembulan berada di puncaknya
bintang-bintang membentuk persegi

akan kau ciumi aroma sedap terbalut embun
dari singgasana tak kusebutkan namanya
segumpal gelap yang melayang di pelupuk matamu
itulah aku dengan nur dan dzatNya

sedang meniti jalan menuju pulang ke palungmu
kulepaskan beribu belenggu di tubuhmu
dan bila esok kau kembali
bawakan aku mahkota yang tersemat dalam dadamu
kemudian akan kubawa kau mengudarai cakrawala selamanya

Padang, 2021

 

Biodata:

Julian Makhmudasa lahir di Padang, 23 Juli 1999. Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand. Bergiat di Teater Langkah dan Labor Penulisan Kreatif (LPK).


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *