Puisi-puisi Hutami Febrianti

Ribang Sua

Ada temu yang ingin diulang
Harap kau bisa kembali pulang
Bersama kisah-kisah  usang
Yang telah lama terbentang

Lihatlah kursi klasik itu
Kita pernah duduk bersama
Menyemai masa depan berdua
Menjamah segala tentang cita

Lihatlah pepohonan rindang
Di sana kita pernah berbincang
Menuai mimpi yang kian hilang
Menjadikan kisah kita bersambung

Bak merpati yang kehilangan,
Bukan makanan namun pasangan
Layu memang layu bagai tertendang
Kembalilah maka hati akan senang

Lembayung terlalu cepat diputar
Jagat raya penuh ingar-bingar
Raga terasa berketar-ketar
Memaki diri yang kian berkoar-koar

Anila, tolong sampaikan pada gadis berkerudung biru
Kepada siapa aku mengadu
Perihal rindu kian memburu
Menanti hadirmu di tahun baru

Malam ini indurasmi terpancar
Aku menatapnya berbinar-binar
Parasnya  kian tergambar
Dalam lamunan terasa tawar

Pariaman, 17 Oktober 2020

 

Penggalan Kisah Pilu

Aku terjebak dalam imajinasi tentang kita
Berharap senyummu hadir tetapi nyatanya tak ada apa-apa
Terperangkap afsun nan memikat aksa
Sungguh indah memesona

Aku begitu cua
Ketika rahsa singgah dan  menggelora
Ia hanya memberi jejak bercalar
Begitu pahit, atma tak lagi berpijar

Harap kian hancur
Tentangmu telah lebur
Namun, kau kembali hadir
Membawakan kisah lama nan getir

Dulu, kau adalah syair paling merdu
Tempat bermuara segala rindu
Kini semuanya telah berlalu
Menghadirkan luka pilu
Sadari diri hanya mengejar bayangan semu

Percuma kau kembali hadir menyapa
Menghadirkan sejuta rasa
Meminta untuk memutar masa
Lalu merajut kembal asmara bersama

Penggalan kisah telah sirna
Kini semuanya hanya kenangan tersisa
Tak akan ada lagi bait kerinduan
Kau dan aku hanya pemeran kehidupan

Padang, 14 Maret 2021

 

Masa lalu yang terkenang

Menyepi ditemani sepasang kursi
Hening tanpa ada asap ataupun api
Lamunan menghampiriku kembali
Untuk mendatangkan sosok kekasih hati

Duduk sendiri di taman kota
Menikmati sepiring soto Mang Jaja
Ditemani segelas fanta bersoda
Bersama kekasih bak apsara

Aku tahu daun waru itu indah
Meneduhkan siapa saja yang menadah
Untuk menghampirimu pun aku tak pernah
Tapi isyarat rindu tetap gelabah

Mawar itu terlihat cantik
Kamu sangatlah menarik
Membuat hati kian tertarik
Seakan terasa terbolak-balik

Hadirmu membuat candu
Masa abu-abu kini menjadi pilu
Perihal rindu yang kian menggebu
Hanya menyisakan awan kelabu

Kutulis secarik surat tentang kita
Yang tengah dimabuk asmara
Diberi gelar budak cinta
Dunia serasa milik berdua

Pandanglah es yang mencair atas matahari
Perhatikan ranting yang terbakar oleh api
Itu diriku saat bersamamu
Aku lebur oleh pandangan kelopak matamu

Datanglah kemari ke rumahmu
Aku menjadi tempat berkeluh kesah ketika kau meragu
Menceritakan pahitnya hidup di negeri penuh tipu
Yang kini butuh sandaran bahu

Pada bulan yang menyinari malam
Pada mentari yang menyinari siang
Pada kekasih yang menemani siang dan malam
Jiwa raga ini ‘ku persembahkan terlalu dalam

Hey, sadarlah ini hanya sekadar bayang-bayang
Masa lalu nan terkenang
Di atas awang-awang
Kini kian menghilang

Pariaman, 17 Oktober 2020

 

Biodata:

Hutami Febrianti merupakan alumni MAN Kota Pariaman dan yang sedang merampungkan studi di UIN Imam Bonjol Padang Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *