Puisi-puisi Diego Alpadani

Berbahasa

Memperkaukan dalam mempercobakan
telah kuganti dengan proses setelah kekesalan
membentuk memperkaukan pada pergantian

Dengan sangat, aku mencoba agar diperkau bukan
Kesalahan dalam kebarbaran berbahasa. Selama ini
dan sesingkat kau terdiri dari tiga bunyi yang tak
bermakna gramatikal sebelumnya. Begini diperkau
begitu memperkaukan. Aku megap-megap mencari
obat formula mempercobakan dalam
memperkaukan atau diperkau. Berterima

namun masih ada yang mengganjal untuk
memperkaukan dalam memperpadakan

Padang 2021

 

Berbahasa II

Berkesekian kali keterkitaan lepas di
anjungan komplikasi bahasa yang dipaksa
berkombinasi menjadi keterakuan dan
keterkauan. Seperti cinta-cinta memperseliwerkan
dada musang betina, kau bawa aku ke utara
membayang-bayangkan kasat-kusut berkebudakan
ketololan keterkitaan

“Ada apa di sana?” kau tanya itu sebelum
memperkali-silangkan komplikasi bahasa,
sudah seperti matematika. Sudah seperti
mempermalukan diri di hadapan mesin penghitung

“Ada banyak kombinasi cinta!”
Jawabku. Padahal berkesekian belum
lepas dari keterkitaan

Padang, 2021

 

Berbahasa III

Kau sangka ini hanya sekedar onomatope
hujan, gelembung air dalam galon, air
membasahi kerongkongan. Kau telah
dipertidakkan oleh satuan-satuan yang kau
sebut Tata Cara. Pemersamaan itu hanya
ketidakterbuktian

Tahukah kau onomatope rindu,
temu, belagu?

Itu adalah kedalaman keseonomatopean
kau dan aku yang menjadi keterkitaan

Padang, 2021

 

Berbahasa IV

terpendar-pendar juga bahasa kelam
di muara pertemuan kita, Sayang. Penyelesaian
rindu yang beradu kambing akhirnya
sapi kesampaian memahami. Pada keranjingan
sapi sempat protes, mengapa tidak kersapian atau
kerkambingan. Ia kelam mata karena mata sapi
selalu ditelurkan. Atau kambing selalu dihitamkan

Di muara kita ranjing sekali, Sayang. Bukan
dari anjing yang memperbebal pemikiran
sapi ketidakadaan kesetaraan

Padang, 2021

 

Berbahasa V

“bersayang-sayanglah ritem di adonan
sirup berbuka puasa.” Aku tidak mengerti

Selain di dapur kau mengaduk-aduk itu
sirup, juga bahasa tetap dikenakan ngeduluin
tutup botol terbuka

“Ogah aku memper-ondehmandeh-kan
bahasa dalam sirup berbuka puasa!”
Lafalku tidak memakai nun agar tak kau
sangka bahwa awal mula adalah ketakteraturan

Padang, 2021

 

Biodata Penulis

Diego Alpadani memiliki hobi duduk di Lepau Wo Wat sambil mendengarkan Ota Lapau dan meminum teh telur. Ia sangat berharap agar dapat duduk di Lepau Wo Wat bersama Pevita Pearce menikmati Ota Lapau dan teh telur.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *