Tanah Datar, Scientia – Rektor IAIN Batusangkar, Marjoni Imamora mengatakan, proses pendidikan dimasa pandemi Covid-19 memaksa seluruh pelaku pendidikan harus akur dan akrab dengan teknologi, yang juga memiliki banyak dampak negatif.
Tantangan seperti ini harus disikapi dengan bijak, terutama dalam mengembangkan pendidikan ke depan. Apalagi, tantangan itu adalah untuk membawa mahasiswa dan pelajar agar berkompeten, baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor di Abad ke-2.
“Kita yakin bahwa teknologi dapat melatih afektif peserta didik di Abad ke-21. Yaitu dengan pemberian materi yang dikombinasikan dengan cerita keseharian dan sisipkan dengan nilai-nilai karakter,” ujar Marjoni saat memberikan orasi ilmiah pada sidang yudisium mahasiswa sarjana Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di Aula Serbaguna, Sabtu, (28/8/2021)
Menurutnya, keterampilan yang paling penting dimiliki pada Abad ke-21 adalah self directed learning atau pembelajaran secara mandiri. Dengan membiasakan diri belajar sendiri, praktikum sendiri dan presentasi sendiri.
“Kebiasaan ini dapat dipastikan akan stabil dan melebur dalam perubahan saat ini. Bahkan guru pun sudah semakin cekatan dalam menyampaikan materi secara daring,” katanya.
Semua tantangan, kata Marjoni tidak perlu dikeluhkan, apalagi dengan saling menyalahkan situasi. Namun harus diurai secara bersama, sehingga dapat menemukan peluang-peluang dan melahirkan kemahiran-kemahiran baru.
Dia juga mengibaratkan, seperti ikan didalam lautan. Jika dia terus hidup maka dagingnya tidak akan asin, tetapi ketika sudah mati dagingnya akan asin yang disebabkan oleh asinnya air laut.
“Artinya kita dituntut untuk bersikap dinamis pada perubahan alam yang sangat drastis akibat pandemi ini. Kalau tidak dinamis, kita akan tergilas oleh perubahan itu,” katanya. (Ajo)

Tinggalkan Balasan