USDEK

Oleh: Alfitri
(Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas)

Tulisan ini tidak terkait dengan Manifesto Politik Presiden Soekarno yang terkenal pada tahun 1960-an itu, tapi tentang pengalaman saya pada suatu hari Minggu siang saat menghadiri kondangan perkawinan seorang teman kuliah di Bantul 30 tahun yang lalu.

Acaranya di gedung.  Saya berasa sangat excited mengikutinya, karena ini adalah momen pertama kalinya menghadiri kondangan perkawinan gaya Jogja. Gamelan mengalun mengiringi acara dengan volume suara dan irama yang enak didengar.  Tidak terkesan berisik, seperti kalau ada musik organ tunggal dalam acara kenduri perkawinan di daerah saya. Di ruangan gedung, tamu undangan duduk rapi dan tertib dengan susunan kursi model kelas.  Bukan duduk dengan model mengitari meja-meja bulat seperti di hotel.

Saya terkesiap kagum, ketika sejumlah petugas catering dengan setelan kemeja putih dan celana hitam berdasi kupu-kupu hitam dengan sigap dan terampil membawa nampan kayu memberikan makanan kecil atau camilan khas Jawa plus minuman sirup dingin pakai es batu ke semua tamu undangan.  Kalau di hotel bintang 4 atau 5 ini semacam “welcome drink” penanda keramahan selamat datang.  Ini namanya “Unjukan”,   kata teman di sebelah. Makanan pembuka.

Tak lama kemudian, sekitar sepuluh menitan sesudah itu, petugas catering berseragam itu beredar lagi membawa nampan membagikan “sop” kepada para tamu.  Sop hangat dengan campuran irisan wortel dan sayur brokoli ini adalah lanjutan makanan pembuka, kata teman di sebelah lagi. Lalu sekitar dua puluh menitan kemudian petugas catering beredar lagi.  Kali ini petugas membagikan nasi lengkap dengan lauk pauknya.  Nah, ini “Dahar”, makanan utamanya, kata teman saya yang aslinya Umbul Harjo, Jogja itu.

Setelah para tamu menikmati dahar dengan tenang, sekitar dua puluh menitan kemudian, petugas catering pun kembali beredar mendatangi para tamu.  Kali ini membagikan “Es krim”.  Wuis, mantap tenan iki, gumam saya dalam hati.  Ini makanan penutup, kata teman saya lagi. Setelah menikmati es krim, satu-persatu tamu undangan antri salaman dengan pengantin. Setelah salaman langsung kondur atau pulang. Dalam perjalanan pulang, teman saya memberitahu rumus urutan tampilan menu di kondangan tadi dengan USDEK: Unjukan, Sop, Dahar, Es, dan Kondur.

Pada suatu kuliah, antropolog Prof. Sjafri Sairin menjelaskan makna urutan sajian USDEK pada hajatan orang Jawa, antara lain, dijelaskan bahwa demikianlah cara orang Jawa menghormati tamu undangan di hajatan mereka, baik di resepsi perkawinan, selamatan khitanan, maupun arisan keluarga. Semua sajian makanan diantar ke tempat duduk tamu undangan. Tidak perlu antrian dekat meja prasmanan yang kadang terkesan berebutan.

Supervisor dari pihak catering akan memantau agar tak ada tamu yang terlewatkan pada setiap urutan sajian makanan.  Tiap tamu mendapat porsi secukupnya, tapi adil merata.  Umumnya, generasi yang lebih tua senang dengan model USDEK ini, karena makanan di antar, tidak perlu repot antrian, tetapi sebagian  generasi muda dan teman saya yang orang Jawa itu kurang suka dengan kondangan model USDEK ini karena tidak bisa ambil makanan sesukanya dan tidak bisa nambah.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *