
Padang, Scientia – Ketua DPD HNSI Sumatera Barat Syaharman Zanhar, S. Sos mengungkapkan persoalan sampah di Kota Padang sangat dikeluhkan para nelayan, terutama bagi nelayan pukat.
Akibat kondisi ini, bahkan kata dia, dalam sehari itu nelayan ada yg tidak mendapatkan tangkapan ikan. Yang masuk kedalam jaring itu justru sampah. Ikannya tidak ada.
“Sampah yg paling dominan adalah sampah plastik, kaleng botol minuman, botol dan gelas minuman kemasan plastik. Sampah sampah tersebut yg diproduksi oleh rumah tangga,” ujar Zanhar di Padang, Senin (11/10/2021).
Menurut dia, keadaan sekarang bertambah parah, karena tidak ada kesadaran masyarakat memikirkan akibatnya. Air sungai kotor menyebabkan laut juga kotor. Selain meresahkan nelayan juga memperburuk dan merusak lokasi objek wisata Pantai Padang.
“Pembinaan sangat kurang dari pemerintah kepada masyarakat yg berdomisili atau bermukim di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Pertanyaannya apo dan manga sajo Dinas Lingkungan Hidup tu karajonyo?,” ujarnya.
Selaku Ketua DPD HNSI Sumbar dia menghimbau Gubernur Sumbar dan Walikota Padang segera mengantisipasi hal ini. Tumpukan sampah yg ada dalam laut akan merusak ekosistem laut. Ikan akan menjauh dari sampah yg dihanyutkan ke laut. Bagi sampah yg mengapung akan didorong oleh ombak kembali ke pinggir pantai. Tapi ada sampah yg terbenam didasar laut.
“Ini bisa menjadi serius. Pemda sumbar dan pemko tidak boleh abai,” ujarnya.
Ini sampah yang berasal dari daratan, dibuang masyarakay yg betdomisili di sepanjang aliran sungai yang bermuara ke laut.
“Jumlahnya setiap hari belasan ton. Lokasi disepanjang pantai, terutama yg dekat dengan muara sungai,” ungkap dia.
Di padang ada beberapa muara antara lain, muara sungai batang Arau, muara sungai banda bakal di purus, muara sungai di Air Tawar, muara Sungai Muara Penjalinan, muara sungai di Muaro Anai dan Muara Baru,” ujarnya. (pzv)

Tinggalkan Balasan