![Foto bersama seluruh peserta upacara peringatan hari santri oleh Yapis Silaut di Ponpes Bahrum Ulum Silaut. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/10/IMG-20211023-WA0006.jpg)
Ia menceritakan, kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari bantuan dan semangat juang para santri. Peristiwa ini bermula dari kekuatiran Presiden Soekarno atas kedatangan pasukan sekutu dan Belanda. Menanggapi kekuatiran itu, Soekarno kemudian menemui salah satu ulama yaitu Hadratus Syaikh Mbah Hasyim Asy’ari.
Pada kesempatan itu, Bung karno bertanya, “Apa hukumnya membela negara, bukan membela agama?. Kemudian langsung dijawab Mbah Hasyim, “membela negara hukumnya wajib bagi setiap insan di dalamnya”. Berdasarkan jawaban ini lah lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dimulai dari seruan KH Hasyim Asy’ari kepada para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagi penjuru Indonesia.
Instruksi tersebut berisi semangat membulatkan tekad dalam melakukan jihad membela tanah air dan menyebar cepat, sehingga menjadi kekuatan bagi perlawanan umat Islam.
“Itulah yang melatarbelakangi adanya peringatan Hari Santri Nasional. Sekaligus sebagai bukti bahwa santri juga terlibat dalam sejarah perjuangan melawan penjajah untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Subyanto saat memberikan sabutan pada upacara peringatan HSN di lingkungan Ponpes Bahrul Ulum, Silaut.
Dia juga berpesan, sebagai generasi penerus bangsa sekaligus penerus ulama, santri adalah penggerak bangsa yang akan pembina umat nantinya. Santri tidak boleh terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang akan menghancurkan NKRI.
“Kita semua harus tetap jaga keutuhan NKRI, artinya semua yang ada di dalamnya harus kita jaga, termasuk Kebhinekaan tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, maupun wilayah NKRI. Inilah arti sesungguhnya dari santri siaga jiwa raga. Yang paling penting, jadilah generasi penerus bangsa yang berkarakter, cerdas dan berakhlak mulia,” sampainya.
Selain itu, Kepala Madrasah Aliyah (MA) Istiqomah YAPIS, Eko Wahyudi juga mengatakan bahwa penetapan HSN bertujuan untuk meneladani semangat jihad yang telah didengungkan kepada para seluruh santri untuk senantiasa menjaga keutuhan NKRI, atas semangat dan amanat yang digelorakan oleh para ulama.
“Ini adalah sebuah pengakuan resmi dari pemerintah atas peran besar umat Islam berjuang, merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Eko.
Eko juga mengajak seluruh peserta upacara untuk membumikan dan menggelorakan momentum peringatan Hari Santri Nasional 2021 sebagai wujud komitmen bahwa santri merupakan penggerak di semua lini kehidupan masyarakat yang inspiratif, yang rahmatan lil alamin.
“Tidak perlu malu menjadi santri, nyatanya apapun yang didapat oleh orang lain juga bisa didapat oleh santri,” tutup Eko yang juga merupakan Sekretaris DPW PKB Sumbar. (Ajo/Frl)
![Foto bersama seluruh peserta upacara peringatan hari santri oleh Yapis Silaut di Ponpes Bahrum Ulum Silaut. [foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/10/IMG-20211023-WA0006.jpg)
Tinggalkan Balasan