![Pagelaran saluang bagurau di Bukittinggi. Sabtu malam, (23/10).[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/10/IMG-20211024-WA0001.jpg)
Pantauan Scientia.id di lapangan, pagelaran musik tradisional Minangkabau bertema Great Bukittinggi dalam Seni tersebut dihadiri pula para pecinta saluang klasik dari luar kota seperti Payakumbuh dan Agam.
Pagelaran ini menghadirkan, lagu-lagu kisah kehidupan masyarakat Minangkabau yang didendangkan tiga wanita mengiringi musik yang dikeluarkan dari sepotong bambu (saluang). Tiupan saluang itu terdengar mendayu-dayu memecah ruangan mewah Balairung Rumah Dinas orang nomor 1 di kota itu.
Para hadirin pun tanpa dibatasi, diperbolehkan request lagu yang mereka inginkan.
T. Datuak Laweh selaku karajo nan bapokok, silang nan bapangka atau tuan rumah merasa bangga atas terselenggaranya acara saluang bagurau tersebut.
“Kami sebagai tokoh masyarakat yang hadir senang dan bangga dilaksanakan nya musik kesenian asli Minangkabau ini. Hendaknya kesenian tradisional ini diadakan secara berkala agar kesenian daerah semakin terjaga kelestariannya,” ujar Datuak Laweh.
Dia berharap Pemerintah Kota Bukittinggi, terus mendorong dan mengayomi kesenian daerah yang ada di kota sejarah dan wisata itu.
“Benar, kita harapkan Pemko terus mendorong pagelaran setiap kesenian tradisional yang ada dalam Kota Bukittinggi. Termasuk kesenian daerah lain melalui paguyuban-paguyuban,” katanya.
Hingga berita ini dikirim ke redaksi pagelaran Great Bukittinggi dalam Seni masih berlangsung. (aef)
![Pagelaran saluang bagurau di Bukittinggi. Sabtu malam, (23/10).[foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/10/IMG-20211024-WA0001.jpg)
Tinggalkan Balasan