Ditinggal Kontraktor 2 Tahun, Masyarakat Protes Kelanjutan Jembatan Sialang Gaung

Penampakan tiang pondasi proyek jembatan Nagari Sialang Gaung, tahun 2019 yang ditinggal kontraktor begitu saja dengan berdalih sering banjir.

Dharmasraya, Scientia – Masyarakat Nagari Sialang Gaung, Kecamatan Kotobaru, kabupaten Dharmasraya mengeluhkan proyek pembangunan jembatan di wilayahnya yang ditelantarkan rekanan.

Masyarakat berharap Pemkab Dharmasraya segera menindak rekanan proyek jembatan yang dianggap tidak bertanggung jawab tersebut.

Pasalnya, jembatan penghubung antara dua nagari itu ditinggalkan kontraktor (rekanan), begitu saja dengan kondisi pekerjaan yang belum selesai.

Proyek jembatan itu menghubungkan dua nagari, antara Sialang Gaung dan Kotobaru, tembusan jalan dari Koto Sialanggaung ke jorong Palo Padang Kelok S Kotobaru.

Warga merasa pekerjaan proyek itu hanya merugikan masyarakat, pasalnya masyarakat sangat menginginkan pembangunan proyek jembatan ini selesai karena masyarakat sudah bersedia memberikan tanah untuk proyek tersebut tanpa ganti rugi. Informasinya sudah dua tahun lebih rekanan tidak melanjutkan pekerjaan proyek jembatan tersebut.

Sementara itu Walinagari setempat, Sahrial juga mengungkapkan kekesalannya terhadap proyek jembatan yang terbengkalai tersebut.

“Kalau tidak salah ini anggaran nya dari pusat APBN,Sudah lebih dua tahun pengerjaannya ditinggalkan mulai tahun 2019 yang lalu hanya 3 persen yang dikerjakan tapi pengerjaannya sudah dihentikan sampai sekarang,” ujarnya, Selasa (23/11/2021).

Lanjutnya jembatan ini sangat-sangat penting bagi kami dan terutama bagi petani atau pekebun.

Sambungnya, alasan permasalahan yang menyebabkan rekanan pengerjaan meninggalkan proyek karena air sungai sering banjir dan meluap.

“Mereka tidak tanggung jawab, mereka tinggalkan pekerjaan dalam kondisi begitu menyeramkan semak-semak belukar dan bangunan dasar yang sudah dipenuhi rumput-rumput liar.Jembatan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat, karena ini juga akses terdekat ke arah lintas sumatra dan jalan para petani kebun seperti karet dan sawit,” paparnya.(dln)


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *