Puisi-puisi Elly Delfia

Museum Luka

Dalam tragedi luka yang paling lara
Kau tidak dapat menyalahkan sesiapa
Malin Kundang, Siti Nurbaya, Hayati,
Sangkuriang, hingga Cleopatra
Atas penghianatan ataupun cinta yang menyemai luka
Luka hanya perlu kau museumkan di tempat terjauh dalam dirimu
Tak perlu ada ratap untuk segala yang meretakkan harap
Tak perlu memupuk benci untuk semua yang menghitamkan hati

Padang, Maret 2022


Perang Ini

Perang ini tentang rasa benci paling endemik dalam dirimu
Bukan tentang sesuatu yang pernah hilang
Ataupun tentang sesuatu yang telah direnggut dari dirimu

Tak ada kemenangan yang sejati dan kekalahan yang abadi
Semua hanya tentang ambisi yang tak pernah bisa kau jinakkan
Menang akan menjadi arang, kalah akan menjadi abu

Padang, Maret 2022


Negeri yang Kau Tuju

Negeri berbatu-batu hitam
Negeri para nabi berjubah putih
Negeri yang makmur dengan pohon-pohon kurma mendulang awan
Negeri dengan susu-susu onta menganak sungai
Negeri di mana jalan menuju surga lebih lapang dari jalan tol
Negeri  di mana doa-doa  serupa mantra yang candunya menyapu langit
Negeri itulah yang ingin kau tuju
Negeri tempat rindumu berpaut

Padang, Maret 2022


Penikmat Kopi

Han, penikmat kopi sejati
Ia menyeduh kopi dengan filosofi melebur kasta
Di hadapan kopi semua manusia adalah sama

Han, mencintai kopi sejak dini hari
Sejak dari bunga yang mekar putih laksana bidadari
Hingga putik-putik hijau, lalu matang merah kehitaman

Han memanen, menyortir, menjemur, melepas kulit ari,
menggiling, menyeduh, hingga meresapi aroma
yang mengantarnya ke negeri-negeri jauh
ke mimpi-mimpi paling purba dalam diri manusia

Han, penyuka kopi
Bukan hanya sekadar suka, tetapi juga mencinta
Bukan hanya sekadar mencinta, tetapi juga tergila-gila
Bukan hanya sekadar tahu, tetapi memahami
Baginya tak butuh alasan untuk mencintai kopi
Seperti kakeknya dan juga ayahnya
Kopi adalah diri mereka sendiri

Padang, Maret 2022

 

Biodata Penulis:

Elly Delfia merupakan penulis dan Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya,Universitas Andalas. Buku-bukunya berjudul Musim Manggaro (2009), Kupu-Kupu Banda Mua (2017), Linguistik dalam Bingkai Kekinian (2020).


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *