
Pasbar, Scientia – Pegiat Literasi Pasaman Barat Denni Mailizon kecam aktifitas tambang ilegal yang kembali beroperasi di Nagari Batahan, Pasaman Barat, Sumbar.
“Kemaren beberapa hari air sungai Batang Batahan jenih, dan hari ini mulai keruh kembali, para perusak ekosistem harus bertanggung jawab,” katanya.
Ia sendiri heran dengan fenomena tersebut. Ia pun sedih melihat efek samping air keruh yang diterima masyarakat.
“Hari panas berdengkang. Puasa separuh bulan lagi. Sumur makin dangkal. Air bersih kian berkurang. Apakah kemarau yang tiba?,” paparnya berpuisi.

Kami punya sungai besar. Namanya Batang Batahan. Dulu airnya jernih dan jika kemarau tiba kami tak kuatir sebab sungai Batang Batahan menghidupi dengan keberlimpahan. Tetapi hari ini, kenapa keruh pekat begitu Batang Batahan ini?
Hari ini airnya kotor dan berlumpur. Batang Batahan kian kecil. Padahal sungai besar ini adalah tumpuan kehidupan puluhan ribu orang dari hilir hingga mudik. sejak Sigantang hingga jauh ke Muaro Batahan. Siapakah yang telah menjadi brengsek dan bedebah hingga bisa membuat keruh sungai Batahan kami?
Air Batang Batahan harus jernih dan menghidupi kembali. Yang merusak ekosistimnya harus bertanggungjawab. Saya sumpahi pencong mulutnya, pontong kakinya apabila sampai sepekan ini Batang Batahan masih keruh pekat dan kotor oleh lumpur tanah liat.
Kenapa mengutuk? Yang dizalimi hanya punya senjata kutukan. Sebab jika kami berdoa kepada Allah agar yang berlaku zalim dicabut nikmat hidupnya, modar kamu nanti. Bisa binasa seperti ulat yang disirami besi cair.
Sementara itu, Ketua DPD KNPI Pasaman Barat Tri Tegar Marunduri mengatakan, pihaknya sudah memberitahukannya kepada Mabes Polri. Ia berharap tambang emas ilegal dapat ditertibkan kembali sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
“Kita inginkan pihak Polda Sumbar dan Polres Pasbar agar menindak tegas pelaku penambangan emas ilegal yang beroperasi di Pasbar akhir-akhir ini,” tegasnya

Tinggalkan Balasan