
Oleh: ALFITRI
(Dosen Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)
Tahun 2014 saya beserta isteri berangkat menunaikan ibadah haji bersama KBIH Nurzikrillah milik Haji Nurli Zakir. KBIH ini dipilih karena sewaktu menunaikan umrah bersamanya tahun 2009 saya merasa puas. Dengan pengalamannya yang tinggi, penanganan dan pelayanannya di perjalanan sangat bagus.
Pada musim haji tahun 2014 itu, kami tergabung dengan kloter kedua yang terdiri dari jemaah calon haji Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Kami berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Jeddah dengan pesawat Garuda. Kemudian, dari Jeddah lanjut ke Madinah dengan bus. Terbang dari BIM sekira pukul 11:00 siang dan sampai di Madinah menjelang subuh esok harinya.
Di Madinah kami diinapkan di hotel yang dekat dengan Masjid Nabawi. Saking dekatnya, tatkala azan mulai berkumandang lantas melangkah keluar hotel menuju masjid dan kami masih bisa shalat sunat tahiyatul masjid sebelum iqamat. Di Madinah, sesuai tuntunan, kami pun melaksanakan ibadah arbain atau shalat wajib secara berjamaah sebanyak 40 waktu berturut-turut.
Setelah 10 hari di Madinah, kami pun berangkat menuju Makkah naik bus sekitar 6 jam. Sebelumnya, kami sudah mulai berihram dengan melakukan miqad di masjid Bir Ali. Dengan demikian, sesampainya nanti di Makkah kami bisa langsung melaksanakan umrah wajib.
Sesudah melaksanakan umrah wajib dan juga umrah sunat, pada hari ketiga di Makkah, rombongan KBIH Nurzikrillah jalan-jalan (one day tour) ke Jeddah. Ini adalah kota pelabuhan dan perdagangan yang kosmopolit. Biasanya jemaah umrah dan haji mampir di kota ini untuk membeli oleh-oleh karena memang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan Madinah dan Makkah.
Pagi jam 8:00 dengan menumpang tiga bus, rombongan KBIH Nurzikrillah konvoi menuju Jeddah. Di Jeddah, setelah bersantai di pantai dan shalat di masjid terapung di tepian Laut Merah, kami pun bergerak menuju pusat perdagangan Kota Jeddah.
Pusat perdagangan yang dikunjungi adalah tempat favorit orang Indonesia umumnya, yakni Al Balad, Corniche. Di sini juga terdapat Toko Ali Murah yang sangat terkenal di kalangan jemaah umrah/haji Indonesia. Seperti juga toko-toko lainnya di sekitar itu, sebagian pelayannya dapat berbahasa Indonesia. Selain itu, mereka pun dapat menerima pembayaran dengan uang rupiah.
Di kawasan pertokoan Al Balad itu rombongan pun menyebar mencari oleh-oleh sesuai dengan minat masing-masing. Isteri saya dan sejumlah teman jemaah yang lain ke Toko Ali Murah, sedangkan saya sendiri melipir ke deretan toko sepatu. Saya ingin membeli sepatu Clarks yang sudah lama diidamkan. Sebelumnya, setiap ada kesempatan ke Jakarta atau Kuala Lumpur, sepatu ini selalu saya cari tapi tidak ada yang pas.
Setelah cukup lama keluar masuk toko sepatu, akhirnya saya temukan sepatu merk Clarks seperti yang diinginkan. Sayang sekali ukurannya tidak ada yang cocok. Ukuran sepatu saya 39 atau 40, tapi yang ada ukuran 42. Saya pun keluar dari toko sepatu tersebut seraya membatin bahwa mungkin tidak semua yang kita inginkan harus didapatkan. Saya merasa tercerahkan dan mendapat pelajaran bahwa adakalanya kita harus menahan diri dan selera.
Menjelang balik ke Makkah, saya dan sebagian teman rombongan mampir dulu makan bakso Mang Oedin yang juga ada di pertokoan Al Balad itu. Setelah itu, kami pun ke parkiran bus untuk bersiap balik ke Makkah. Di bus saat kami menunggu teman-teman lain datang, ada anak perempuan kecil yang bolak-balik minta sedekah, tapi entah kenapa tak ada seorang pun di antara kami yang memberi. Pada hal duit-duit kecil kembalian belanja oleh-oleh atau makan bakso Mang Oedin pasti ada tersisa dan cukup banyak.
Setelah rombongan lengkap, tiga bus rombongan kami pun konvoi balik menuju Makkah. Akan tetapi, baru saja meninggalkan Kota Jeddah, bus yang saya tumpangi ban belakangnya tiba-tiba meletus. Duarrr. Kami semua terkejut dan sebagian terdengar istigfar. Sontak saya teringat pada anak perempuan kecil yang minta-minta tadi. Tak seorang pun di antara kami yang memberinya. Saya pun istigfar. Astaghfirullah hal’adzim.
Konvoi bus pun berhenti menepi. Saya dan teman-teman turun. Rupanya bus ini tidak pula punya ban serap. Saya lihat Pak Haji Nurli sibuk dengan hp-nya menelpon anggotanya agar dikirim bus pengganti, tapi karena akan memakan waktu menunggu bus pengganti, kami sepakat untuk menggabung saja naik dua bus yang lain, biarlah bersempit-sempit dan berdiri di bus untuk balik ke Makkah.
Akhirnya, dua bus rombongan kami pun bergerak kembali menuju Makkah. Senja mulai turun. Sebagian teman kelihatan masih tercenung dengan kejadian tadi, sebagian lagi tampak letih. Tetiba Pak Haji Nurli dengan setengah bercanda nyelutuk, “mungkin ada yang lupa bersedekah tadi ndak…?” Seorang teman saya menjawab, “Iya Pak Haji…lupa saja kami. Sudah dapat pelajaran kami hari ini Pak Haji.”
Esmara (1993) menyatakan bahwa perjalanan berhaji adalah perjalanan spiritual untuk lebih memahami diri di hadapan Allah Swt, sekaligus proses penyadaran untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Benar belaka. Bagi saya pribadi ada dua pelajaran di Jeddah hari itu. Pertama, di toko sepatu, untuk lebih menahan diri. Kedua, di atas bus tadi untuk suka memberi.*

Tinggalkan Balasan