Kondisi Jalan Luhuang, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman. [foto : ist]

Akses Jalan Padang Pariaman-Agam Telah Bisa Dilewati Kembali

Kondisi Jalan Luhuang, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman. [foto : ist]
Kondisi Jalan Luhuang, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman. [foto : ist]
Padang Pariaman, Scientia – Kondisi Jalan di Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging yang mengubungkan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam yang sempat terputus, telah bisa dilewati. Meskipun demikian, jalan milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat itu masih bersifat darurat dan mesti memerlukan kehati-hatian melewatinya.

“Jalan itu bersifat darurat yang merupakan usulan dari pemerintah nagari kepada Pemprov Sumbar,” kata Wali Nagari Kuranji Hulu, Salman Hardani di Sungai Geringging kepada Media.

Salman mengatakan, usulan yang disampaikan itu juga dikarenakan terganggunya beberapa akses di Luhuang, Kuranji Hulu pasca terputusnya jalan tersebut. Di antaranya, akses ekonomi, pendidikan, sosial, agama masyarakat setempat.

Menurutnya, menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemprov Sumbar langsung membangun jembatan darurat untuk sepeda motor dan dan mobil pribadi. Tetapi, tanah penyangga pada jembatan selalu tergerus oleh air, dan kembali tidak bisa dilewati. Kemudian jembatan itu dibuka dan dibangun jalan darurat.

“Karena kondisi tersebut, jembatan darurat itu dibuka dan langsung dilakukan pembangunan jalan darurat,” katanya.

Salman menjelaskan, pembangunan jalan darurat, dilakukan dengan penimbunan tanah yang dipagari dengan bambu. Agar struktur timbunan tanah dapat bertahan lama dan tidak mudah tergerus air.

“Kami berharap, Pemprov Sumbar segera melakukan pembangunan jembatan permanen, karena mengingat kondisi air yang tidak bisa dipastikan. Apalagi jalan itu merupakan akses penting yang digunakan oleh masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, dalam pembangunan jalan darurat, Pemerintah Nagari Kuranji Hulu membebaskan enam lahan warga untuk pembangunan selokan atau pemecah air bah. Sekaligus itu juga merupakan permintaan Pemprov untuk rencana pembangunan jembatan permanen.

Selain itu, salah seorang pengendara, Rendi Hakimi Sadri (32) mengatakan, semenjak akses jalan tersebut terputus dirinya harus melewati alternatif jalan alternatif sangat jauh.

“Kalau Jalan Luhuang sudah bisa dilewati, tentu kami sebagai pengendara diuntungkan, dan saya rasa pedagang yang bergantung dengan jalan ini pun juga terbantu,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang Sumbar mengatakan, pembongkaran jembatan darurat itu, dikarenakan kondisi tanah penyangga selalu tergerus air dan dikhawatirkan membahayakan pengendara. Yang paling utama, potensi jatuhnya jembatan itu sangat besar.

“Kami memasukkan rencana pembangunan jembatan ini pada Rencana Kerja (Renja) untuk 2023 dengan nilai anggaran Rp11,5 milyar,” katanya. (Ajo)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *