Dari Anomali hingga Perayaan Sejarah di Masa Kini

Lastry Monika
(Alumnus Magister Sastra UGM)

 

“Melayu tidak akan pernah hilang dari bumi”, begitulah kira-kira ungkapan orang-orang Melayu ketika mereka berhadapan dengan berbagai tantangan dan gempuran dari kebudayaan lain. Ungkapan itu pulalah yang menjadi semacam tameng yang membuat Melayu bertahan dan berkembang hingga saat ini. Seperti yang dikatakan oleh Gusti Asnan dalam tulisannya yang bertajuk “Pusat–Pinggiran Dunia Melayu di Nusantara: Dahulu dan Sekarang”, Melayu tidak hanya sekadar mewakili nama kerajaan namun juga berkembang menjadi nama ras, budaya, dan peradaban yang bahkan dapat dikatakan mewakili Asia Tenggara.

Namun, Melayu yang dikenal hingga saat ini memiliki sejarah yang panjang. Melayu yang berkembang justru lebih dikenal sebagai peradaban milik Malaysia hingga ia dikenal sebagai ‘Melayu asli’. Pemahaman itu muncul disebabkan oleh kuatnya upaya dan praktik yang dilakukannya hingga mencantumkan dalam undang-undang. Padahal, banyak daerah lain di Indonesia yang menjadi inti keberadaan Melayu di masa dulu. Oleh sebab itu, karena sejarah selalu berlangsung dalam pengalaman yang tragis sekaligus harmonis, diperlukan pembahasan berulang agar tidak menciptakan kekeliruan pemahaman.

Meluruskan Pemahaman Ekspedisi Pamalayu

Setidaknya, hingga saat ini, masih terdapat beragam versi pemahaman yang terkait dengan Ekspedisi Pamalayu. Pertama, ekspedisi yang terkenal di abad ke-13 itu dikatakan sebagai bentuk penaklukkan Singasari atas tanah Melayu. Kedua, ekspedisi tersebut dikatakan sebagai bentuk ekspansi Singasari di luar Pulau Jawa untuk membendung serangan dari Mongol yang dipimpin oleh Kubilai Khan.

Oleh sebagian sejarawan, pemahaman pertama adalah pemahaman yang keliru.  Hal ini salah satunya diungkap dalam seminar bertajuk “Menyingkap Tabir Sejarah Dharmasraya” dalam perhelatan pertama Festival Ekspedisi Pamalayu pada tahun 2019 silam. Di sana, Wenri Wanhar sebagai salah satu narasumber mengatakan ‘penaklukkan’ sengaja dihadirkan kolonial Belanda sebagai bagian dari politik pecah-belah di tanah air. Selain itu, kemunculan kata ‘penaklukkan’ juga berkemungkinan berasal dari istilah ‘pamalayu’ yang dalam sastra Jawa Kuno berarti “perang melawan Melayu”. Oleh sebab itu, Ekspedisi Pamalayu cenderung dianggap sebagai bentuk penaklukkan Jawa atas Melayu.

Namun faktanya, dalam catatan sejarah justru tidak disebutkan terjadinya pertumpahan darah apabila Ekspedisi Pamalayu ditujukan untuk menaklukkan atau memerangi. Kemudian disimpulkan bahwa dalam ekspedisi terdapat anomali dalam penggunaan istilah ‘Pamalayu’. Ekspedisi justru dilakukan sebagai inisiatif Raja Kertanegara untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan Kubilai Khan―selain untuk memperluas wilayah kekuasaannya sendiri (Proborini, 2017).

Pada ekspedisi tersebut, Raja Kertanegara mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Sesampainya di Melayu, pasukan ini juga mulai mengambil alih jalur perdagangan di pelabuhan Melayu. Dari hal itu, memang terkesan adanya keinginan untuk menguasai dan menaklukkan bumi Melayu. Namun, kekuatan yang digunakan ialah dalam bentuk soft-power sehingga tidak ditemukan adanya konflik atau peperangan pertumpahan darah (hard-power). Dengan kata lain, kedatangan Singasari bukanlah untuk menaklukkan bumi Melayu.

Kembali terdapat kesimpulan bahwa tujuan Singasari ialah untuk membendung meluasnya serangan Mongolia. Seperti yang dikatakan Bade (2013), bangsa itu sebelumnya telah melakukan serangan terhadap Jepang hingga Myanmar pada tahun 1274. Hal lain yang menguatkan kesimpulan ini ialah arca Amoghapasa yang melambangkan cinta (prasasti di belakangnya mengatakan tentang keindahan, kebajikan, dan harapan perdamaian) ke tanah Melayu. Menurut Proborini (2017), di masa itu Singasari terkenal dengan seni memahatnya dibandingkan kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa. Pemberian arca tersebut merupakan simbol diplomasi kultural dan disambut dengan sukacita oleh Raja Tribuwanaraja Mauliwarmadewa.

Ekspedisi Pamalayu berhasil membendung masuknya Tiongkok. Namun, bukan berarti Melayu didominasi oleh Singasari. Melayu pada akhirnya menjadi pihak yang netral. Ia tetap menjalin hubungan baik dengan Tiongkok. Hubungan itu dibuktikan dengan pengiriman utusan dari Melayu untuk penghormatan terhadap Dinasti Yuan pasca-Ekspedisi Pamalayu, tepatnya pada 1281 (Hall, 2011). Di samping itu, Melayu juga tetap mengembangkan kerja sama dengan Singasari. Di masa itu dibuka pelabuhan Melayu untuk menunjang kepentingan ekonomi keduanya. Hubungan baik keduanya pun pada akhirnya menghasilkan keturunan Melayu-Jawa dengan bergabungnya kedua putri raja Tribuwanaraja Mauliwarmadewa (Dara Jingga dan Dara Petak) dengan kerajaan Singasari melalui pernikahan.

Merayakan Sejarah di Masa Kini

Selain Melayu yang identik atas penaklukkan oleh Jawa, Budaya Melayu pada perkembangannya juga kadung dikenal sebagai budaya dan peradaban milik Malaysia. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal dalam peristiwa sejarah. Pertama, orang-orang Eropa mengidentikkan Melayu dengan Kerajaan Malaka dan Tanah Semenanjung Malaysia. Hal itu kemudian diterima sebagai realitas sejarah dan dijadikan sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah. Kedua, unsur-unsur kebudayaan Malaysia diarahkan berkembang memiliki unsur-unsur kemelayuan hingga Malaysia dikenal sebagai ‘Melayu asli’. Ketiga, kebijakan nasional Indonesia pada dekade 1960-an membuat sebagian wilayah yang sebetulnya tak terpisahkan dari Melayu enggan mengatakan diri sebagai Melayu dan menghilangkan identitas Melayunya.

Namun, seiring membaiknya hubungan diplomatik Indonesia dengan Malaysia, yaitu dekade 1970-an, dunia Melayu mulai mendapat perhatian dan apresiasi. Terlebih sejak 1980-an, berbagai daerah di Indonesia gencar menyemarakkan festival dan pekan budaya yang terkait dengan Melayu. Mulai dari simbol kebudayaan melayu hingga peninggalan arkeologisnya ditampilkan dan mendapatkan perhatian khusus.

Semarak seperti di atas terus diaktualkan hingga saat ini. Daerah yang sebelumnya tergolong sebagai wilayah kunci Melayu mulai merayakan kembali kemelayuannya. Dharmasraya misalnya, merayakan sejarah dengan menggelar berbagai macam acara terkait kesenian, kebudayaan, dan tradisi yang tidak terlepas dari unsur historisnya. Salah satunya ialah pagelaran Festival Pamalayu terkait Ekspedisi Pamalayu yang berlangsung pada abad ke-13 silam, tepatnya pada tahun 1275 M.

Festival Pamalayu pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019. Festival tersebut ditujukan untuk menjaga eksistensi budaya luhur, terutama untuk meluruskan pemahaman mengenai Ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi yang kadung dimaknai sebagai penaklukkan Jawa atas Melayu. Pada tahun 2022 ini, festival yang sama kembali digelar. Festival Pamalayu Kenduri Swanradhipa 2022 yang berlangsung pada 18 hingga 23 Agustus itu mengusung tema “Keselarasan Alam Raya”. Festival Pamalayu bukan sekadar pertunjukkan terkait peradaban, melainkan turut menyertakan ajakan dan gerakan untuk menjaga lingkungan dan sosial budaya agar tetap lestari hingga masa yang akan datang. Hal itu yang dikatakan Sutan Riska Tuanku Kerajaan selaku Bupati Dharmasraya ketika festival berlangsung.

Pada perayaan kedua ini, perhelatan diwarnai oleh beragam rangkaian kegiatan seperti expo UMKM, pentas seni, seminar, pameran artefak kuno, sekolah lapangan ekskavasi, parade kuliner tradisional, hingga Arung Pamalayu sebagai acara puncak. Arung Pamalayu merupakan kegiatan susur sungai yang diikuti oleh puluhan peserta dari kalangan peneliti, akademisi, mahasiswa, dan komunitas budaya.

Susur sungai Batanghari yang berhulu di Dharmasyaya serta berhilir di Jambi tersebut diikuti oleh rangkaian kegiatan seperti praktek ekskavasi, pertunjukkan seni budaya dari masyarakat yang disinggahi di sepanjang aliran sungai hingga melakukan diskusi budaya. Diskusi itu berlangsung dalam sebuah seminar dengan tajuk “Batanghari Dulu, Kini, dan Nanti”.

Batanghari adalah sarana transportasi utama di masa lalu. Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan menyatakan bahwa di sepanjang aliran sungai Batanghari tidak hanya tersimpan peninggalan nenek moyang yang luar biasa. Di sana tidak hanya terdapat candi, tetapi juga menyimpan sumber pengetahuan tradisonal mengenai alam dan lingkungan, serta kearfian lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Hasil dari kegiatan tersebut membuahkan kesepakatan antarpemeritah pusat dan daerah untuk saling menjaga kelestarian dan potensi Sungai Batanghari sebagai sumber peradaban manusia dari masa lalu hingga masa yang akan datang.

Dari Peristiwa hingga Pariwisata

Peristiwa sejarah selalu dapat dikenang dan dirayakan  dengan beragam perhelatan yang membawa manfaat untuk beragam aspek seperti ekonomi, pariwisata, lingkungan alam, dan sosial budaya di daerah perayaan. Itulah yang tengah berlangsung di Dharmasraya setelah pelaksanaan Kenduri Swarnabhuminya. Festival Pamalayu menjadi modal bagi pemerintah setempat yang dapat mengubah peristiwa sejarah menjadi destinasi pariwisata, bahkan mulai dari Sumatera Barat hingga Jambi. Destinasi pariwisata itu juga meliputi aspek yang kompleks, mulai dari pengetahuan sejarah hingga pelestarian budaya dan lingkungan alam sekitar.

Pariwisata menjadi salah satu sektor penting  dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan begitu, tidak jarang Pemerintah Daerah gencar mempromosikan destinasi-destinasi wisata, terutama yang berkaitan dengan peristiwa sejarah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara. Pemerintah Dharmasraya melalui laman dharmasrayakab.go.id memuat sejumlah tempat wisata sejarah, yaitu Candi Pulau Sawah dan Candi Padang Roco. Kedua lokasi itu tentu tak terlepas dari peninggalan Kerajaan Swarnabhumi di masa lalu. Salah satu lokasi wisata sejarah tersebut, yakni kawasan Candi Pulau Sawah dijadikan sebagai lokasi utama pelaksanaan Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi 2022.

Bagi Dharmasyara, festival tersebut ialah perayaan untuk menggaungkan kembali peristiwa sejarah. Pelaksanaan festival itu menjadi jembatan yang efektif untuk menyadarkan masyarakat bahwa tanah kelahiran mereka memiliki peran yang luar biasa dalam peristiwa sejarah masa lampau. Daerah ini pernah menjadi ibu kota dan pusat pemerintahan dari Kerajaan Melayu yang dikatakan tertulis dalam prasasti Padang Roco. Kerajaan yang muncul setelah jatuhnya Kerajaan Sriwijaya. Dengan berlangsungnya festival, orang-orang mulai menyadari bahwa terdapat situs budaya di Dharmasraya yang perlu dilindungi dan dilestarikan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Peristiwa sejarah yang dirayakan adalah sebentuk usaha dalam memuliakan peradaban di masa lalu yang membentuk masa kini. Perayaan dari peristiwa itu pun dapat menjadi destinasi wisata yang kaya akan nilai-nilai seperti Kenduri Swarnabhumi. Perayaan yang memuat aspek edukasi sejarah, pelestarian lingkungan alam, pelestarian seni tradisional dan kebudayaan, hingga mempererat hubungan dengan daerah-daerah lain yang masa silam turut menjadi daerah inti bumi Melayu.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *