Sawahlunto,scientia– Sempat mati suri pada 2014 lalu, kini raungan lokomotif uap E 1060 Mak Itam kini mulai terdengar lagi.
Suara raungannya mengembalikan ingatan warga ‘Kota Arang’ Sawahlunto akan kejayaan tambang batubara di masa lalu.
Mak Itam mengembalikan memori bagaimana lokomotif uap ini lalu lalang setiap hari membawa mutiara hitam hasil bumi Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Kota Padang.
Untuk pengoperasian Mak Itam tidak sepenuhnya bisa dilakukan setiap hari dan jarak tempuhnya juga dibatasi hanya sampai stasiun Muarokalaban.
Tapi tidak apalah, yang terpenting icon wisata sejarah Sawahlunto itu kembali mengaung dan mengasap, serta diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata untuk datang ke Sawahlunto.
Dikarenakan secara operasional Mak Itam tidak dapat optimal, Lokomotif uap yang didatangkan dari Museum Ambarawa pada 2008 lalu itu dibantu jalannya oleh lokomotif diesel yang didatangkan dari Padang beberapa waktu lalu.
Mengutip pernyataan Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia Didiek Hartantyo saat peresmian reaktivasi ‘Mak Itam’ pada Selasa (20/12/22) lalu, kereta api wisata dari Sawahlunto menuju Muaro Kalaban segera dibuka secara reguler untuk umum.
Didiek menyebut sekarang disediakan satu gerbong dengan kapasitas maksimal 30 orang penumpang.
“Nanti akan dilayani oleh dua lomotif yaitu lokomotif uap E1060 Mak Itam dan lokomotif diesel BB3037804. Untuk Mak Itam ini kita batasi sekali atau dua kali saja seminggu, kalau yang beberapa kali seminggu itu nanti menggunakan lokomotif diesel,” ujarnya.
Pengoperasian kereta api wisata itu juga sangat disambut baik oleh masyarakat dan juga pelaku usaha wisata yang ada, salah satunya pelaku wisata tour travel berbendera Dakoga Tour and Travel.
Mak Itam Jadi Magnet Wisata
Owner Dakoga Tour and Travel, Insan Kamil, berharap sebagai icon wisata sejarah Sawahlunto, Mak Itam diharapkan mampu menjadi magnet wisata, baik untuk wisatawan lokal, nasional maupun wisatawan mancanegara.
“Diharapkan juga, jalur kereta api wisata ini bisa lebih diperpanjang, seperti jalur kereta api yang terdahulu, yakni melewati Solok, Singkarak, Padang Panjang, Pariaman dan Padang, sehingga akan dapat memancing animo wisatawan untuk berwisata ke Sawahlunto dan Sumatra Barat umumnya,” kata Insan.
Insan menilai, Sawahlunto yang ditetapkan sebagai kota warisan dunia oleh UNESCO dengan Ombilin Mining Coal Heritage of Sawahlunto, sudah selayaknya menjadi tujuan wisata dunia.
Tentunya didukung dengan koleksi bangunan – bangunan tua peninggalan Kolonial dan sarana serta prasarana pendukung lainnya.
“Ditambah dengan aktifnya lokomotif uap pelaku sejarah penambangan batubara tertua di Indonesia itu, semestinya mampu membangkitkan dunia pariwisata Sawahlunto dan Sumatra Barat serta Indonesia. Kami pelaku usaha wisata berharap, menjadi bagian dalam bangkitnya pariwisata ini,” harap Insan.(riyu).

Tinggalkan Balasan