Kenangan di Yogyakarta (3): Dari Mirota Cah Lanang Pulang Sendiri

Oleh: Ronidin
(Dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Jika Dunsanak pernah menetap di Yogyakarta, pastilah mengenal Mirota Kampus.  Nah, di Mirota yang Dunsanak kenal itu, kisah yang akan saya ceritakan ini terjadi. Sebuah kisah yang sulit dilupakan. Kenang-kenangan hidup selama di Yogyakarta. Mirota Kampus bukan tempat kuliah, melainkan tempat berbelanja berbagai jenis kebutuhan dan perlengkapan sehari-hari. Semua barang yang kita perlukan tersedia di sini. Berjubel orang datang ke Mirota untuk berbelanja. Ada juga yang ke sana hanya untuk sekedar cuci mata dan melihat-lihat label harga, lalu membeli sikat gigi dan  odol, atau gunting kuku. Kawan saya yang ke Mirota untuk membeli cok round  harus mengantre di kasir selama tiga puluh menit karena saking banyaknya orang yang mau membayar belanjaannya.

Mirota Kampus yang saya maksud bukan yang berada di Godean, melainkan yang di perempatan C. Simanjuntak, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Di perempatan ini terlihat lalu lintas begitu sibuk dan jalannya sempit.  Lokasinya masih dalam kawasan kampus UGM. Di sekeliling Mirota kita bisa menemukan tukang becak yang menawarkan jasa bagi para penumpang yang berbelanja maupun yang lalu lalang. Di perempatan juga ada pengamen jalanan dan anak-anak sekolahan.

Jika Dunsanak  sedang di Mirota dan mengedarkan pandangan ke arah barat, Dunsanak dapat melihat gedung MAN 1 Yogyakarta persis di seberang Mirota. Di depan pintu gerbang MAN 1 itu ada kedai lotek yang racikannya uenak tenan. Di sebelah kiri MAN 1 di Jalan Prof. Sardjito terdapat deretan lapak kaki lima untuk permak jeans dan sol sepatu. Di belakang Mirota ke arah timur, Dunsanak bisa menemukan bundaran UGM dan Rumah Sakit Panti Rapih. Dekat dari situ ada pula kantor pusat PP Muhammadiyah. Ke selatan Mirota membentang Jalan C. Simanjuntak. Di ujung Jalan C. Simanjuntak kita dapat berbelanja di Pasar Terban. Sebaliknya, arah yang berlawanan dengan C. Simanjuntak ke utara adalah kawasan utama kampus UGM. Ke utara lagi adalah Jalan Kaliurang (Jakal). Jika Jakal ini kita tempuh lurus saja tanpa berbelok, kita akan sampai di Kaliurang puncak, dekat Gunung Merapi.

Siang itu istri saya ke Mirota berdua dengan cah lanang (anak laki-laki) saya yang masih lima setengah tahun. Anak perempuan saya di rumah bersama saya. Hari itu hari Minggu. Saya tidak ke kampus. Minggu pagi menjelang siang kami cuci mata ke Sunday Morning di Lembah UGM. Selepas itu kami berjalan-jalan ke flyover Stasiun Lempuyangan. Di sana kami melihat kereta yang datang dan akan berangkat.  Dari flyover kami ke stasiun dan sempat berfoto-foto di gerbong kereta tua yang sudah dipensiunkan. Menjelang zuhur kami pulang dari Lempuyangan. Selepas salat Zuhur, istri saya pamit ke Mirota untuk berbelanja kebutuhan dapur yang sudah kosong.

Foto 1. Istri dan anak penulis di depan gerbong kereta yang sudah dipensiunkan di Stasiun Lempuyangan

Istri dan anak laki-laki saya ke Mirota dengan naik becak. Ongkosnya lima ribu rupiah. Walaupun jarak Mirota dengan rumah kontrakan kami di Jetisharjo dekat dari Mirota, istri saya ogah jalan kaki. Dia juga tidak berani membawa motor karena khawatir menyeberangi perempatan Mirota yang ramai. Istri saya waktu itu baru belajar mengendarai motor.

Singkat cerita sampailah istri saya di Mirota. Istri saya membayar ongkos becak sepuluh ribu rupiah karena tukang becaknya tidak mau menerima lima ribu dengan alasan penumpangnya dua orang. Setelah itu, istri saya masuk ke Mirota melalui pintu barat. Seperti biasa, istri saya berbelanja di lantai bawah.  Di sana segala keperluan dapur, seperti bahan makanan, sayur, buah, bakery, dan barang-barang pecah belah dapat ditemukan. Hanya kadang-kadang saja dia ke lantai dua untuk melihat-lihat baju, tas, sepatu, dan perlengkapan anak. Kalau saya biasanya ke lantai tiga untuk mencari  kertas dan ATK.

Ketika istri saya sedang asyik-asyiknya memilih-milih barang kebutuhan harian, tanpa terperhatikan anak laki-laki saya yang awalnya mengikuti ibunya menghilang. Istri saya tidak menyadari kalau anaknya sudah tidak lagi bersamanya karena asyik menimang dan mematut belanjaan. Manakala dia menyadari bahwa anaknya sudah tidak bersama, dia mencari ke lorong-lorong rak belanjaan yang lain. Dia mencari ke sana ke mari. Lama. Berputar-putar. Tidak ketemu juga. Dicari ke lantai dua juga tidak ada. Ke lantai tiga tetap nihil. Lalu ke gerai bakery, siapa tahu dia di sana, ternyata juga tidak ada. Ke gerai mainan juga tidak ada.

Setelah sekian lama mencari ke sana ke mari, istri saya bertanya pada satpam. Hasilnya tetap nihil. Satpam tidak melihat anak saya. Istri saya bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitar itu. Tidak seorang pun di antara mereka yang melihat anak saya. Lalu istri saya bertanya pada tukang becak yang mangkal di depan Mirota, juga tidak ada yang melihat anak saya.Tak seorang pun yang melihat anak lima setengah tahun melintas di depan mereka. Waktu itu belum ada CCTV.

Istri saya cemas bukan alang kepalang. Ke mana perginya cah lanang-nya. Dia kalimpasingan, tidak tahu akan berbuat apa (lagi). Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya. Istri saya tidak bisa menghubungi saya karena ponselnya tertinggal di kontrakan. Tidak terpikir pula olehnya untuk meminjam telepon siapa pun di Mirota agar bisa menghubungi saya di rumah. Dalam kekalutannya yang sedemikian itu, istri saya meminta tolong pihak Mirota mencarikan anak saya. Namun, tidak ada petunjuk sama sekali ke mana perginya anak saya itu. Memang anak laki-laki saya seorang yang agresif. Dia tidak berhenti bergerak. Bahasa lainnya tidak mau diam. Di rumah dia tidak kerasan. Dia bermain ke sana dan ke mari. Di sekitaran kontrakan kami di Jetisharjo, anak kami itu dikenali oleh para tetangga kami karena keagresifannya. Gara-gara agresif itu pula dalam waktu dekat dia punya banyak teman.

Istri saya berlari pulang meninggalkan Mirota. Tujuannya memberi tahu saya. Barang-barang yang tadi telah dimasukin ke dalam keranjang dibiarkannya saja. Entah di mana letaknya. Panggilan tukang becak yang menawarkan jasa tak dihiraukannya. Dia menyeberang perempatan Mirota tanpa menengok kiri-kanan. Katanya waktu itu badannya sudah tak berasa apa-apa. Yang ada dalam pikirannya ke mana anaknya. Istri saya terus berlari pulang secepatnya. Dia berlari sekuat yang dia mampu. Tidak terbayangkan oleh saya bagaimana roman mukanya pada waktu itu.

Istri saya terus berlari. Di dekat Apotek UGM, dia berpapasan dengan Bapak tukang becak yang tadi mengantarkannya ke Mirota. Bapak itu dari Jetisharjo hendak ke Mirota lagi dengan penumpang yang lain. Refleks istri saya bertanya pada Bapak itu. Bapak itu mengatakan bahwa dia melihat anak saya tidak jauh dari jembatan Sardjito. Anak saya seorang diri berjalan ke arah Jetisharjo.

Berkat penjelasan Bapak tukang becak itu, istri saya agak merasa tenang. Setelah itu, dia kembali berlari pulang. Sesampai di pintu rumah tanpa salam dia memanggil nama anak laki-lakinya. Saya heran. Bukannya tadi mereka pergi bersama. Ternyata cah lanang yang dicarinya tidak ada sampai ke rumah. Setelah meminum segelas air putih, istri saya mengatakan bahwa anak laki-laki saya hilang di Mirota.

Kini tidak hanya istri saya yang dilanda kecemasan. Sontak saya juga dilanda kecemasan sebagaimana istri saya. Ke manalah bocah itu. Tanpa bertanya lagi, saya segera ke lapangan di dekat masjid As Salam di Jetisharjo. Siapa tahu dia di sana. Beberapa anak saya temukan bermain di sana, tetapi tidak ada anak saya. Saya lalu berlari ke Paud Melati tempat biasanya dia bermain seluncuran juga tidak ada. Penat saya berkeliling ke beberapa tempat bermain di Jetisharjo, tetap tidak menemukan dia. Saya pulang ke kontrakan, siapa tahu dia telah ke rumah. Tidak juga. Istri saya juga sudah menyusuri beberapa arena bermain yang ada di sekitaran kami itu sambil menggendong anak perempuan kami. Hasilnya tetap tidak bertemu. Menjadi-jadilah kalut kami berdua.

Foto 2: Cah lanang, anak lelaki yang diceritakan di depan plang salah satu arena bermain di Yogyakarta

Sampai menjelang sore, cah lanang kami itu belum juga ditemukan. Di ujung asa kami, pada akhirnya anak itu ditemukan sedang bermain di dalam rumah seorang temannya di pinggiran Kali Code. Bu Ambar, seorang guru mengaji di TPA masjid As Salam yang memberitahu kami tempat bermainnya itu. Kami ke sana dan menemukannya sedang asyik bermain bersama beberapa temannya. Kami membawanya pulang ke kontrakan. Saya memarahi anak itu. Istri saya merangkulnya erat-erat.

Nduk, kenapa tadi kamu meninggalkan Ibu sendirian di Mitora?” tanya ibunya ketika kami makan bersama
selesai menunaikan salat Magrib.
“Habis, Ibu lama kali. Bolak balik sana sini, milih macam-macam,” jawabnya polos.
“Bagiamana caranya kamu menyeberang dan tahu jalan ke sini?”
“Aku menyeberang saja ketika tidak ada mobil lewat!”
“Kamu tidak takut? Di luar sana banyak lho orang yang suka nyulik anak-anak! ”
“Tidak,” jawabnya. “Kata Bu Ambar, kita selalu diawasi sama Allah,” lanjutnya.
NdukNduk….”

Begitulah, pada hari itu kami mendapat pengalaman berharga di Mirota Yogyakarta. Ibrahnya, pengalaman itu mengajarkan pada saya dan istri untuk mawas diri. Jika dalam waktu sekejap saja anak-anak yang lepas dari pengawasan kita bisa membuat kita cemas dan kalimpasingan, bagaimana kalau kita sebagai orang tua benar-benar berlepas diri terhadap pengawasan pada anak. Entah apa yang akan terjadi? Bila orang tua telah berlepas diri dari pengawasan terhadap anak-anaknya maka kemudian dapatlah kita merasakan akibatnya. Sejauh ini banyak fenomena di sekitar kita di mana ada anak-anak yang diculik, ada yang dibunuh, ada yang disodomi, ada anak yang justru melarikan diri dari orang tuanya, ada anak yang terjerumus pada pergaulan bebas, ada anak yang durhaka pada orang tua, ada anak yang songong, ada anak yang suka pamer harta kekayaan orang tuanya, dan sebagainya. Itu merupakan akibat buruk yang nyata bila orang tua telah abai pada anak-anaknya.

Pengalaman cah lanang yang lari dari Mirota di Yogyakarta karena perhatian ibunya terpecah oleh benda-benda yang pada akhirnya membuat kami kalimpasingan sebagaimana diceritakan di atas, kami jadikan refleksi. Kisah ini  saya bagikan kepada Dunsanak supaya kita para orang tua istiqomah menjaga dan mengawasi titipan Ilahi yang diamanahkan pada kita. Baik buruknya generasi bangsa ini di kemudian hari tergantung bagaimana kita mendidik dan mengawasi anak-anak kita hari ini. Wallahualam bissawab.

Catatan:
Cah Lanang = anak laki-laki
Kalimpasingan = kebingungan, tidak tahu apa yang akan dilakukan
Dunsanak = sapaan kekeluargaan di Minangkabau
Mirota Kampus = swalayan tempat berbelanja
Uenak tenan = enak sekali
Sunday Morning = pasar/bazar Minggu pagi di sekitaran Lembah UGM


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *