
Padang, Scientia – Transisi energi menuju net zero emission menjadi fokus pemerintah Indonesia saat ini. Salah satu upaya itu dengan menggalakkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) di Tanah Air.
Salah satu daerah yang mendukung upaya itu ialah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), yang disampaikan dalam Seminar Nasional Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Sumbar, Kamis (9/3). Terlebih transisi energi ini juga sesuai arahan khusus Presiden Joko Widodo.
Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy mengaku, Sumbar mulai perlahan melakukan persiapan dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Saat ini sudah tiga Stasiun Pengisian kendaraan Listrik Umum (SPKLU) atau charging station yang berkolaborasi dengan PT PLN, seperti di Padang, Payakumbuh dan Kota Solok.
“Ekosistem itu bukan hanya mobil, tapi juga sarana dan prasarana pendukungnya, seperti charging station dan lainnya. Ekosistem ini memang baru saja terbentuk, tapi ini masa depan. Jadi pelan-pelan kita support untuk melengkapi ekosistemnya,” kata Audy.
Menurutnya, jumlah SPKLU ini bakal terus bertambah di beberapa kota lainnya. Apalagi, pengembangan ekosistem kendaraan listrik merupakan bagian dari target pemerintah untuk optimalisasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Saat ini Sumbar termasuk provinsi dengan penggunaan EBT tertinggi di Indonesia.
“Secara nasional ditargetkan 23 persen di tahun 2025. Sumatera Barat sudah mencapai target, yakni capaian 28,19 persen, lebih tinggi dari rata-rata penggunaan EBT nasional sebesar 14 persen. Jadi pembangkit energinya itu dari matahari, air, dan biothermal,” jelasnya.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumbar, Eric Rossi Priyo Nugroho menuturkan, kecukupan daya untuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik tidak perlu dikhawatirkan. Apalagi saat ini beban puncak daya di Sumbar berkisar 600 MW dengan kapasitas supply dari pembangkit sebesar 720 MW.
Ditinjau dari segi green energy, menurutnya kurang lebih 400 MW atau lebih dari 50 persen daya yang dihasilkan berasal dari pembangkit EBT. Dengan begitu, ia menilai Sumbar siap menjadi kontributor utama net zero emission di Indonesia.
Sementara itu, Ketua MKI Pusat, Evy Haryadi menegaskan pihaknya aktif memberikan masukan pada pemerintah, DPR, maupun DPD dalam pembentukan regulasi berkaitan dengan net zero emission maupun ekosistem kendaraan listrik.
Masukan itu, di antaranya mengenai standardisasi baterai EV untuk kendaraan roda dua maupun roda empat, percepatan pengembangan infrastruktur pendukung EV, serta digitalisasi sistem kelistrikan transmisi dan distribusi retail.
Dia juga mengapresiasi prakarsa MKI Sumbar atas seminar nasional dengan tema “Strategi Mewujudkan Ekosistem Kendaraan Listrik: Komitmen Indonesia Mencapai Net Zero Emission“. Baginya ini menunjukkan komitmen kuat MKI Sumbar dalam mewujudkan Net Zero Emission di Indonesia.
“Ini menunjukkan komitmen dan pemikiran visioner MKI Sumbar dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di Sumatera Barat,” ujar Evy yang juga menjabat sebagai Director of Transmission and System Planning itu.
Seminar nasional ini menghadirkan pembicara dari Kementeran ESDM, Kadin Indonesia, Ketua Umum MKI Pusat, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Perkumpulan Pemangku Kepentingan Penunjang Jasa Ketenagalistrikan (PPKPJK) dan peneliti dari Universitas Andalas dan MKI. (ADPSB)

Tinggalkan Balasan