Gema Tradisi Tionghoa dalam Pluralitas

Lastry Monika
(Alumnus Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada)

 

Bermula dari Perdagangan

Dapat dikatakan, tidak sulit mencari keberadaan orang Tionghoa di setiap sudut negeri ini. Mereka menyebar luas dan hampir selalu ada di setiap kota. Meskipun demikian, hal itu tidak membuat etnis ini menjadi homogen dan kaku.

Di Sumatera Barat misalnya, etnis Tionghoa telah berakulturasi sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan bangsa ini ke Sumatera Barat diperkirakan bersamaan dengan kedatangan bangsa Belanda. Ketika itu, Pulau Sumatera menjadi lokasi strategis antara dua jalur laut yang penting, yaitu Selat Malaka dan Selat Sunda. Colombijn dalam “A Moving History of Middle Sumatera” menyebut bahwa pesisir Sumatera menjadi pasokan produk ekspor dan lokasi yang menarik bagi wisatawan Asia, termasuk Cina.

Berdagang merupakan aktivitas yang identik dengan orang Tionghoa. Awal kedatangannya ke pantai barat Sumatera ialah untuk aktivitas yang tidak jauh dari hal tersebut hingga kedatangannya pun dikatakan mengikuti masuknya VOC di Sumatera Barat pada abad ke-17.

Di Sumatera Barat, tidak lama setelah kedatangan bangsa Tionghoa untuk kali pertama, mereka memiliki kelap atau perkumpulan. Perkumpulan itu semacam kongsi untuk menggabungkan tujuan ekonomi, sosial-budaya, serta politik. Contohnya ialah untuk menggalang kontak di antara sesama Tionghoa, membantu pemakaman dan pernikahan, serta membantu sesama yang mengalami kesulitan.

Hingga kini, beragam perkumpulan tersebut masih bertahan dan memiliki peran, salah satunya untuk melanjutkan tradisi leluhur di negeri yang jauh dari tempat mereka bermukim. Setiap tahun selalu ada perayaan khusus yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa. Menariknya, saat ini perayaan tersebut tidak hanya dirayakan oleh mereka keturunan Tionghoa saja, tetapi juga ikut dirayakan oleh masyarakat non-Tionghoa, bahkan dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

Bertradisi dalam Pluralitas

Masyarakat Tionghoa di Sumatera Barat menghadapi berbagai gempuran. Di masa perjuangan kemerdekaan mereka dihantam penjarahan dan pembunuhan karena dianggap sebagai mitra Belanda. Pada peristiwa pemberontakan 1965, warga Tionghoa kembali menjadi korban kekerasan, terlebih di Pariaman. Meskipun di tahun-tahun setelah kemerdekaan imigrasi mereka sempat dihentikan oleh pemerintah Indonesia, peningkatan jumlah masyarakat Tionghoa tetap berlangsung di Padang. Disebabkan beragam gempuran yang terjadi di masa sebelumnya, warga Tionghoa juga sempat menghindari kegiatan politik.

Meskipun demikian, Kahin menyebut bahwa sebetulnya masyarakat Tionghoa di Padang berbaur dengan baik. Salah seorang yang bernama Oei Ho Tjong, bahkan pernah tercatat menjadi anggota LKAAM. Karena dapat berbaur dengan baik, kehadiran orang Tionghoa di Sumatera Barat bukanlah sekadar untuk tujuan ekonomi atau berdagang. Tempat mereka bermukim sekaligus dijadikan sebagai ruang untuk berkebudayaan.

Keberadaan masyarakat Tionghoa di negeri lain yang jauh dari negeri asalnya tidak membuat mereka tertutup dan membatasi diri. Etnis ini di Padang justru turut aktif mengedepankan kesenian hingga kesusastraan yang mereka punya. Selain memiliki seni pertunjukkan khas yang rutin dihelat setiap tahun (hingga sekarang), mereka juga aktif mengekspresikan diri melalui kesusastraan.

Pada tahun 1930, orang-orang Tionghoa di Padang menerbitkan sebuah surat kabar bulanan bernama Doenia Baroe. Surat kabar yang dikelola oleh mayoritas keturunan Tionghoa ini bukanlah penerbitan pertama yang pernah ada. Charles Chen dalam pembuka terbitan pertama Doenia Baroe merincikan bahwa sebelumnya telah ada terbitan Hoa Po (1914–1916), Tjin Lian (1917–1918), dan Hoa Pit (1927). Namun, ia mengatakan karena satu dan lain hal weekblad tersebut terpaksa diberhentikan penerbitannya. Lalu muncullah Doenia Baore sebagai wujud harapan yang sudah lama diangan-angankan. Pada halaman perkataan pembuka itu pula dikatakan bahwa haluan dan tujuan Doenia Baroe bersifat liberal dan terbuka untuk semua golongan, terutama untuk bangsa Asia.

Pada cetakan pertama, setidaknya ada dua tulisan yang bertujuan meluruskan anggapan-anggapan keliru tentang orang Tionghoa. Tulisan pertama berjudul “Pokok Kebadjikan” yang ditulis oleh Tjoa. Di sana ia mengungkap kekhawatiran tentang saling ‘tjoeriga’ dan saling ‘menindis’ antarkelompok (?). Menurutnya jalan keluar dari persoalan itu ialah melalui pokok perundingan agar terbentuknya pertukaran pengetahuan antara yang berselisih. Tulisan kedua terkait hal itu bejudul “Orang Tiong Hoa dengan Pembesarnja” yang ditulis oleh Thio Tjin Boen.

Selain esai-esai yang memuat opini dan berkaitan dengan keadaan Tiongkok, Doenia Baroe juga memuat cerita pendek, cerita bersambung, dan sajak. Dominannya, Doenia Baroe membahas tetang kondisi masyarakat serta tradisi Tionghoa, baik yang berada di Tiongkok maupun yang berada di nusantara, terutama di Padang. Di edisi kedua yang terbit 15 Februari 1930, terdapat tulisan yang menarik dari L. Siauw Tjoe berjudul “Doeloe dan Sekarang”. Ia membahas tentang Tionghoa serta pengaruh kemodernan dengan penekanan untuk tetap berada di garis kesopanan dan adat istiadat Tiongkok yang luhur.

Seperti kebanjakan pemoeda-pemoeda jang kapalang tanggoeng, dengan gampang lempar pergi marika poenja kesopanan timoer dengen kesopanan barat, jang mentrengnja tjoema di koelit, djadi barang sepoehan.” Tulis L. Siauw Tjoe dalam tulisannya. Meskipun demikian, Tjoe tetap berpandangan optimis karena menurutnya sebagian pemuda yang mendapat pendidikan barat justru tetap mementingkan adat kesopanan bangsanya yang sudah ada sejak ribuan tahun.

Adat kesopanan Tiongkok adalah kekuatan batin yang tersembunyi. Kunci yang menjadikan Tiongkok tetap berdiri utuh meski tidak putus-putusnya digempur oleh bangsa asing. Nyatanya pernyataan  L. Siauw Tjoe tersebut dapat dikatakan tetap berlaku hingga sekarang. Barangkali,  prinsip itu pulalah yang menjadikan orang Tionghoa berbaur dengan baik di tempat ia berada.

Selain tercatat dengan harian Doenia Baroe di tahun 1930, masyarakat Tionghoa juga mengembangkan berbagai kesenian, baik seni pertunjukkan maupun instrumen musik. Melalui musik misalnya, dalam sebuah artikel berjudul “Kesenian Gambang sebagai Identitas Etnis Tionghoa di Kampung Pondok Kota Padang” yang ditulis oleh Rizdki, Nursyirwan, dan Ediwar, dikatakan orang Tionghoa memiliki padu padan instrumen Gambang sebagai identitas etnis di Pondok (Kota Padang).

Sebetulnya terdapat dua pendapat berbeda mengenai asal-usul kesenian Gambang, di antaranya dikatakan sebagai tradisi yang dibawa oleh pendahulu dari Tionghoa melalui perdagangan, pun dikatakan berasal dari Jawa Tengah dan Betawi, namun kemudian dipadukan dengan instrumen seperti Tehyan Kecapi Cina dan Kohyan dari Tiongkok. Meskipun demikian, bagi masyarakat Pondok Gambang telah menjadi identitas sosial-budaya tersendiri. Gambang sering dihadirkan dalam perayaan-perayaan etnis Tionghoa layaknya Imlek, Cap Go Meh, Tahun Baru, Natal, dan lain sebagainya.

Kesenian Gambang yang ditampilkan telah berpadu dengan berbagai instrumen kesenian di nusantara. Dari segi penggunaan instrumen, gambang menggunakan beberapa alat musik dari Jawa dan beberapa alat musik lainnya yang berasal dari Cina. Pertunjukan Gambang yang ditampilkan pun berbeda di antara perayaan-perayaan yang disebutkan sebelumnya. Misalnya dalam perayaan Natal, Gambang dimainkan hanya secara instrumental, sedangkan dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh dimainkan dengan iringan vokal lagu Mandarin, Minang, Barat, dan Batak.

Kesenian gambang yang dimainkan dalam beragam macam perayaan tersebut juga menjadi sarana interaksi masyarakat dari berbagai etnis. Dalam satu kelompok pertunjukkan, gambang dimainkan oleh beberapa orang dari etnis yang berbeda, seperti Cina, Jawa, Minang, Nias, hingga India. Gambang menjadi sarana interaksi seniman-seniman dari bermacam marga dan suku. Mereka tergabung dalam perkumpulan sosial dan kebudayaan seperti Himpunan Bersatu Teguh (HBT) (Hong Beng Tong dalam bahasa Tionghoa) dan Himpunan Tjinta Teman (HTT) (Hok Tek Tong dalam bahasa Tionghoa).

Selain kesenian Gambang sebagai salah satu identitas etnis Tionghoa di Pondok  Kota Padang, mereka juga memiliki tradisi Sipasan yang bahkan telah ada sedari zaman kolonial Belanda. Sipasan biasanya menjadi salah satu rangkaian acara dalam Festival Cap Go Meh. Di tahun 2013, arak-arakan Sipasan dalam festival tersebut, bahkan mendapat rekor MURI dengan panjang 215 meter dan ditunggangi oleh 223 orang.

Sipasan merupakan salah satu tradisi unik dalam perayaan Cap Go Meh yang hanya ada di Kota Padang. Arak-arakkan ini menyerupai lipan tetapi memiliki ekor naga. Sipasan dipikul oleh orang dewasa dan menandu anak-anak yang memakai pakaian tradisional dari berbagai daerah di nusantara. Inilah yang kemudian melambangkan keberagaman dalam arak-arakan tersebut.

Meskipun dalam perayaan Cap Go Meh kental dengan tradisi Tionghoa, tradisi Sipasan justru melambangkan keberagaman etnis di Kota Padang. Hal ini juga terlihat dalam kesenian Gambang yang menyatukan beragam etnis dalam satu pertunjukkan. Tradisi Tionghoa di Kota Padang pada akhirnya menjadi semacam ruang yang cair dan terbuka untuk masyarakat yang plural.

Ruang untuk Tionghoa

Di Padang, masyarakat Tionghoa memiliki ruang tersendiri untuk merayakan tradisi dan adat istiadatnya. Pondok bukan sekadar ‘tempat’ untuk bermukim, melainkan sebuah  ‘ruang’. Dalam ruang inilah tradisi dapat dirayakan dan digemakan. Ruang bagi masyarakat Tionghoa di Kota Padang bukan sekadar untuk tinggal, melainkan juga untuk melangsungkan kebudayaan.

Ruang yang cair dan terbuka menegaskan bahwa yang ada di dalamnya memiliki hak prerogatif atas identitas. Inilah lokus yang menjadikan etnis Tionghoa berhak merasa aman dan dilindungi ketika bertradisi dalam pluralitas meskipun mereka minoritas.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *