
PAYAKUMBUH, SCIENTIA – Sering kali perempuan dan para istri bertanya tentang kebiasaan suaminya yang lama menghabiskan waktu duduk di Lapau atau warung.
“Antah manga lah laki-laki lamo pulang dari Lapau? Kok ka maota atau minum kopi bisa dirumah, manga harus di Lapau?”, (Entah kenapa laki-laki lama pulang dari Lapau? Kalau mau ngobrol atau minum kopi bisa juga dirumah, kenapa harus di lapau?).
Secara kasat mata Lapau memang terlihat sederhana, baik dari bangunannya atau aktivitas di dalamnya.
Kebanyakan fisik Lapau biasa saja, rata-rata terbuat dari kayu atau bambu, kalaupun sudah berdinding batu tapi Lapau tetap dengan ciri khasnya yang tampak sederhana dan tak semewah Cafe.
Menu yang di tawarkan di Lapau juga tak menguras kantong celana, dari dulu itu ke itu saja seperti kopi, teh, susu, goreng pisang, godok, ketan, makanan pabrikan dan lainnya.
Tapi Lapau adalah tempat yang tak pernah kesepian, selalu ramai dikunjungi laki-laki Minangkabau walaupun telah menjamurnya Cafe dan tempat nongkrong modern di Sumatera Barat.
Lapau tak sesederhana itu. Lapau tak saja tempat pelepas penat setelah bekerja.
Lapau tak hanya sekedar minum kopi penghilang dahaga, tapi Lapau adalah sebuah institusi multi fungsi yang terasa kurang dalam hidu kalau tidak dikunjungi.
1. Lapau tempat diskusi
Barangkali kita sering mendengar istilah ‘Ota Lapau”?
Kalau diartikan adalah sebuah obrolan yang tidak berkesudahan dan tanpa solusi, apa yang tak mungkin akan mungkin terjadi di Lapau.
Apa saja diperbincangkan akan menjadi topik yang hangat seperti persoalan ekonomi, sosial, budaya, politik, olahraga dan lainya walau akan berujung selalu ngambang karena akan di diskusikan pada pertemuan di Lapau berikutnya.
Tapi di balik itu adakalanya diskusi akan bermakna kalau sudah membicarakan tentang kehidupan sehari-hari yang sering dialami, misalnya cara membasmi hama cabai, mengusir tikus sawah dan lain sebagainya.
2. Lapau sarana sosialisasi
Kebanyakan Sumando atau laki-laki yang menjadi menantu di suatu daerah di Sumatera Barat menjadikan Lapau sebagai tempat bersosialisasi atau mengenal lebih dekat dengan masyarakat dikampung istrinya.
Di Lapau pula para Sumando ini akan terlihat bagaimana karakternya, baik atau buruk dan akan tampak dari cara ia berbicara atau memainkan gestur tubuh.
Lapau, Tak Sesederhana Yang di Pikirkan Perempuan.
Di Lapau, segala macam informasi sangat mudah di dengar, ada saja pengunjung Lapau yang akan memberikan kabar walau tanpa ada yang meminta.
Tidak itu saja, sering kali ketika akan ada hajatan maka tuan rumah akan mengundang laki-laki dengan mencarinya ke Lapau.
Praktisnya hanya dengan sekali berbicara maka sekumpulan pengunjung Lapau terundang.
Begitu juga dalam hal pekerjaan, kebanyakan transaksi terjadi di Lapau, misalnya meminta tolong mencangkul sawah atau membersihkan ladang.
5. Lapau penghilang stres.
Nah, ini tak kalah penting bagi laki-laki Minangkabau menjadi alasan wajib untuk mengunjungi Lapau.
Jadi tak heran pagi, siang dan malam Lapau selalu ada penghuninya.
Setelah bekerja maka Lapau tempat penawar lelahnya. Obrolan ringan diselingi lelucon jadi obat mujarab pelepas penat.
Ada persoalan rumah tangga maka Lapau menjadi tempat menenangkan diri ditemani secangkir kopi, hempasan batu domino atau main kertas ceki (kowa).
Minangkabau yang memakai sistim kekerabatan matrilineal yang mana rumah identik milik perempuan maka Lapau, Surau dan Rantau menjadi pilihan untuk dikunjungi laki-laki Minangkabau.
Jadi Lapau tak sesederhana yang di pikirkan. Lapau tak saja tempat membuang-buang waktu, tapi banyak hal positif yang di dapatkan di Lapau kalau tentunya kita bisa memilah dan memilih.
Apa yang harus dibawa kerumah dan apa yang hanya untuk dianggap sekedar lelucon penghilang lelah.

Tinggalkan Balasan