Setetes Air dalam Bensin

Cerpen: Armini Arbain

 

Pesawat Garuda Boeing 800 lepas landas. Tepat pukul lima sore, pesawat yang membawa calon jemaah haji Indonesia membumbung tinggi meninggalkan landasan pacu Lapangan udara Polonia Medan menuju Bandara King Abdul Azis Jeddah. Begitu pesawat lepas landas,  terdengar suara jamaah melantunkan talbiyah dengan semangat namun syahdu. Labbaika Allahuma Labbaik, Labbaika laa syarikalakka Labbaik. Air mata ini berlinang mendengarkan suara talbiyah yang sangat syahdu. Aku sangat bersyukur tahun ini  dipanggil Allah ke Makkah Al Mukarahmah untuk menunaikan ibadah haji.

Beberapa jam di udara, warna syafak merah yang menyala kini mulai mulai meredup. Pertanda  waktu magrib pun masuk. Pak Amri, pembimbing ibadah  kloter haji kami memberi petunjuk cara bertayamum dan cara melakukan salat di atas pesawat. Setelah bertayamum jamaah melaksanakan  salat jamak magrib dan isya dengan khusuk. Tak lama,  terdengar pula lantunan lirih dan isak tangis mereka dalam doa. Ada kebahagiaan yang tak terhingga di relung hati para jamaah.

Selesai salat, pramugari pun membagikan makan malam. Dengan lahap jamaah pun bersantap dengan  tertib. Namun, karena jemaah banyak yang sepuh dan sulit makan sambil duduk, apalagi makan dengan sendok dan garpu sehingga pramugara dan pramugari harus turun tangan memantau dan menuntun para jemaah yang sudah tua.

Aku dan kedua sepupuku merupakan anggota jamaah yang masih berusia muda, bahkan adik sepupuku Reni  adalah jamaah termuda dalam rombongan itu.  Mungkin karena usia itulah rasa keinginantahuan dan perhatian kami pada  jamaah yang ada dalam kloter sangat tinggi, apalagi  ketika Gubenur Sumbar melepas keberangkatan kami di Asrama Haji. Ia berpesan dan meminta kami sebagai jamaah yang berusia muda untuk memperhatikan dan membantu jamaah yang berusia lanjut.

Aku dan kedua adik sepupuku  duduk paling depan sehingga tidak melihat serunya acara makan malam di belakang kami namun gelak tawa terdengar nyaring.  Setelah makan, aku bangkit dari kursiku dan berjalan ke belakang. Aku melihat dan menyapa jamaah yang duduk di belakang. Dengan ramah kusapa jamaah satu per satu. Mereka pun membalas sapaanku dengan ramah. Ada rasa kekeluargaan yang tinggi di antara kami.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *