Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Erma Rini. [Foto : ist]

Anggia Erma Rini : Kemampuan Adaptasi Perempuan Fatayat NU, Kunci Hadapi Tantangan Masa Kini

Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Erma Rini. [Foto : ist]
Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Erma Rini. [Foto : ist]
Jakarta, Scientia – Perempuan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) harus mampu menghadapi berbagai tantangan perkembangan masa kini. Kuncinya dengan meningkatkan kemampuan adaptasi dan mulai melakukan perubahan dengan kreativitas dan kegigihan. Supaya sikap, perilaku, karakter, dan aktivitas kader relevan dengan perubahan yang terjadi.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Fatayat NU, Anggia Erma Rini dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-71 organisasi perempuan tersebut di Jakarta. Menurutnya, ada empat tantangan nyata yang sedang dihadapi bersama. Yakni, revolusi teknologi, generasi baru, revolusi ekonomi, dan revolusi sosial.

“Di sinilah kemampuan beradaptasi kita diuji. Apalagi guncangan akibat pandemi yang telah menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia. Mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, transportasi, dan berbagai sektor lainnya,” ujar Aggia. Sabtu, (24/4)

Ketua DPW PKB Sumbar ini menjelaskan, tantangan pertama yaitu, revolusi teknologi, mulai dari perkembangan artificial inteligence (kecerdasan buatan), akselerasi teknologi informasi, big data, pembiayaan digital, machine learning, criptocurrency, dan lainnya.

“Kecerdasan buatan telah menjadi salah satu tren teknologi baru karena efeknya yang menonjol pada cara kita hidup dan bekerja dengan gaya baru. Jika dapat dimanfaatkan secara positif, maka kecerdasan buatan dapat membantu aktivitas keseharian kita,” katanya

Kedua adalah generasi baru atau generasi Z, yakni generasi yang lahir pada rentang 1997-2012. Ini adalah generasi pasca milenial (kelahiran 1981-1996) yang menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai orang tua perempuan.

“Ciri-ciri generasi Z adalah kebebasan, integritas, kolaborasi, hiburan, dan kecepatan. Generasi ini cenderung menyukai kebebasan dan enggan diatur atau ditekan. Mendidik dan membimbing mereka butuh seni tersendiri karena lingkungannya sudah jauh berbeda dibanding masa kecil kita dulu,” terang Anghota Komisi IV DPR RI tersebut.

Ketiga, revolusi sosial yaitu, sekitar 93 persen keputusan konsumen untuk membeli dipengaruhi oleh sosmed atau dunia maya. Kemudian, satu dari tiga pernikahan dimulai dari hubungan secara daring. Artinya, ini merupakan pergeseran cara bersosialisasi manusia.

Sedangkan tantangan keempat, adalah revolusi ekonomi yang kini bergerak ke bidang bisnis website.

“Zaman dulu kita berada pada era industri, kemudian menjadi perusahaan yang memperluas jaringannya menjadi multinasional, dan sekarang bisnis web dan memiliki kerjasama secara missal,” tuturnya.(Frl)


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *