Antisipasi Macet Rirayo

 

Oleh: Alfitri
(Dosen FISIP Universitas Andalas)

Hampir setiap rirayo (Lebaran), sebelum pandemi, saya dan keluarga selalu mudik atau pulkam ke Parabek, di tepi Kota Bukittinggi. Menurut Umar Kayam (2000) mudik atau pulkam adalah tradisi Indonesia asli yang selaras dengan ajaran Islam untuk merawat silaturahim.

Sejak dulu, sejak medsos dan berita-berita viral belum ada, dari koran pun kita sudah tahu bahwa setiap rirayo jalan Padang-Bukittinggi selalu macet. Menyadari situasi itu, kami pun mengantisipasi dengan melakukan penyesuaian pilihan waktu dan jalur. Ini penting dilakukan karena jalan macet adalah di luar kendali kita. So, lakukan apa yang dapat dikendalikan.

Karena itu, kami pilih pulkam di rirayo pertama menjelang atau setelah zuhur. Masih sempat open house di Padang setengah hari dan siangnya sudah otw pulkam.

Rirayo pertama biasanya jalan masih rada lengang. Di beberapa ruas paling ramai lancar karena itu dipilih jalur biasa saja via Sicincin, Padang Panjang, terus sampai Padang Luar belok kiri arah Parabek. Selain masih longgar, jalur ini dipilih karena sudah menjadi SOP untuk mampir makan sate Mak Syukur di Padang Panjang. Setelah Ashar biasanya saya sudah sampai di kampung. Lalu sorenya dan sesudah magrib sudah bisa bersilaturahim ke rumah-rumah keluarga.

Besok paginya di rirayo kedua kami bisa berwisata tipis-tipis di sekitar Bukittinggi. Kadang jalan pagi dan mampir sarapan Pical Sikai di pusat Kota Bukittinggi, kadang ke Janjang Saribu Koto Gadang, atau Puncak Lawang. Namun, begitu orang mulai ramai, menjelang zuhur kami segera balik ke rumah di kampung.

Rirayo ketiga, ketika arus kendaraan memuncak, pukul 10-an kami balik ke Padang via Malalak. Lalu menjelang Sicincin belok kanan arah Pariaman terus lanjut arah Tiram, BIM, Simpang Duku belok kanan ke Lubuk Buaya atau terus ke By Pass, sampai lah di Padang. Biasanya situasi jalan ramai lancar, dan sesekali di beberapa titik padat merayap. Selambatnya sekitar jam 3 siang kami pun sampai kembali di rumah.

Rirayo tahun 2022 ini, setelah 2 tahun di masa pandemi menahan diri untuk tidak pulkam, kami pun pulkam lagi. Khusus untuk rirayo kali ini, pemerintah mengestimasi ada 85 juta orang secara nasional yang akan mudik (CNN, 09/04/2022). Khusus untuk Sumatera Barat diestimasi 1,8 juta orang pulkam (mediaindonesia.com, 17/4/2022). Menyadari itu, kami pun mengantisipasi lagi. Tetap pulkam pada rirayo pertama pada jalur biasa setelah zuhur, tapi tidak mampir lagi makan Sate Mak Syukur. Mobil di parkirannya sudah meluber sampai di jalan.

Alhamdulillah, rirayo pertama Senin yang lalu kami sampai di kampung jam 5an sore. Menjelang dan sesudah magrib dapat silaturahim ke rumah keluarga di Parabek. Sebagai ganti makan Sate Mak Syukur, sore itu kami sempatkan makan Sate Mak Anjang di Jambu Aia, Bukittinggi. Tidak terlalu ramai, tapi satenya enak juga.

Antisipasi lain, kami memutuskan untuk cuma nginap di kampung semalam saja. Biasanya dua malam karena itu, pada rirayo kedua Selasa lalu pukul 10 pagi kami sudah otw balik, tapi mau ke Payakumbuh dulu lantaran anak-anak taragak maksi di Rumah Makan Pergaulan dan beli oleh-oleh.

Alhamdulillah, situasi jalan menuju Payakumbuh masih ramai lancar dan cuma di beberapa titik padat merayap, terutama di Pasar Baso. Pukul 11an kami sudah sampai Payakumbuh. Sayang sekali, Rumah Makan Pergaulan masih tutup, akhirnya langsung beli oleh-oleh. Toko oleh-olehnya lengkap dan mantap. Pelayanan bagus dan harga bersahabat. Menjelang balik kami maksi di tempat yg menjadi plan B. Makanan lumayan enak karena perut juga sudah lapar.

Setelah maksi, kami segera balik ke Padang. Jalur Payakumbuh-Bukittinggi yang kami lewati masih ramai lancar dan di beberapa titik pada merayap. Setelah lewat Pasar Baso, kami belok kiri ambil jalan pintas ke Canduang terus Sungai Pua dan keluar di Koto Baru. Banyak pemandangan yang elok dan indah di ruas ini. Ruas ini lumayan lancar. Sesekali saja merayap. Kami shalat zuhur di salah satu masjid di pinggir jalan di Canduang.

Seperti yang disinggung oleh kawan saya Prof. Werry Darta Taifur, di sepanjang jalan saat rirayo ini memang banyak remaja yang meminta sumbangan. Baik untuk pembangunan dan beberapa kegiatan lokal, maupun karena mereka membantu mengatur kelancaran kendaraan di beberapa titik persimpangan. Saya memilih untuk memberi pada titik titik di mana mereka membantu mengarahkan dan menertibkan persimpangan yang rawan kemacetan itu. Menariknya, kalau saya beri lembaran dua ribu rupiah mereka akan bilang terima kasih pak, tapi ketika diberi lembaran lima ribu rupiah mereka bilang terima kasih Om.

Selepas Koto Baru, arus kendaraan arah ke Padang umumnya masih ramai lancar, tapi dari arah Padang ke Bukittinggi sudah lebih dominan padat merayap. Kami sudah otw balik ke Padang ketika yang dari Padang memasuki waktu puncak “menyerbu” Bukittinggi. Pukul 5-an sore pun kami sudah sampai di Air Tawar dan mampir sekejap di tempat anak-menantu. Alhamdulillah, Magrib kami sudah tiba kembali di rumah. *


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *