
Oleh. M. Yunis
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Metode penanggalan kuno telah lama diterapkan oleh masyarakat Pesisir Minangkabau. Sistem penanggalan lama ini menjadi acuan dan penentu utama dalam agenda kegiatan, baik berupa kegiatan adat maupun ritual keagamaan. Komunitas adat ini belum berani dan tidak bisa melakukan aktivitas jika tanggal tidak sesuai, misalnya dalam menentukan pelaksanaan seremonial perkawinan. Orang akan mengacu pada model penanggalan kuno ini. Mulai dengan prosesi perjodohan, mengundang masyarakat, dan melaksanakan acara. Prosesi tersebut disesuaikan dengan hari baik dan bulan baik menurut mereka. Jika prosesi di atas tidak sesuai dengan kalender, dikhawatirkan acara tersebut akan merugikan penyelenggara. Masyarakat yakin acara tersebut akan menghadapi banyak masalah, seperti datangnya hujan dan lain-lain.
Kalender kuno memiliki sistem astrologi sendiri yang berbeda dengan Astrologi umum. Kalender ini memiliki glyph (simbol) sendiri dan setiap glyph menentukan waktu. Glyph yang digunakan berasal dari alam sekitar misalnya manusia, hewan, lingkungan, dan lain-lain. Pergerakan atau posisi glyph ditafsirkan memiliki pengaruh pada urusan manusia dan alam dunia, sedangkan astrologi memiliki glyph berupa planet dan lambang zodiak.
Balamurugun (2018: 5–7), menjelaskan bahwa astrologi adalah ilmu yang mempelajari ilmu bintang, ilmu kuno yang didasarkan pada planet, perputaran matahari dan bintang bulan. Dia menekankan bahwa tujuan akhir astrologi adalah untuk membantu orang menjadi sadar akan energi konstruktif dan destruktif yang secara teratur dilepaskan oleh kelompok sembilan entitas astronomi. Menurutnya, pergerakan dan posisi benda langit diartikan memiliki pengaruh terhadap urusan manusia dan alam.
Penulis melihat bahwa penanggalan kuno juga dipengaruhi oleh posisi bintang di langit. Kehadiran glyph pada kalender dapat diartikan sebagai kondisi realitas yang hadir di bumi pada saat itu. Penafsiran glyph sebagai penanda waktu baik atau buruk adalah salah satu buktinya. Alhasil, ada pilihan tanggal dan waktu yang direkomendasikan untuk kegiatan. Namun, studi tentang kalender kuno harus didekati oleh ilmu bahasa. Sebab, dalam penelitian ini sarat dengan penggunaan simbol-simbol bahasa. Simbol bahasa perlu diinterpretasikan lebih dalam agar dapat dipahami dan dipahami.
Penulis melihat bahwa hubungan antara linguistik dan astrologi dapat membuka peluang pengembangan ilmu baru dalam ilmu sosial. Linguistik sebagai ilmu sosial yang fokus pada studi tentang tanda dan simbol, bekerja sama dengan bidang ilmu Astrologi yang fokus pada ilmu bintang. Hal ini dilakukan untuk membawa linguistik ke ranah medan terbuka. Untuk mendapatkan kajian yang lebih beragam, sudah sepantasnya ilmu linguistik berkolaborasi dengan ilmu lain yang disebut Astrolinguistik.
Tradisi penanggalan kuno ini dianggap sakral oleh pemiliknya, sehingga tidak semua orang tahu dan ahli dalam penanggalan ini. Penanggalan kuno sering disebut sebagai strategi lintas sektor. Strategi ini digunakan untuk mengorganisir gerakan masyarakat Minangkabau. Cara kerja penanggalan hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, seperti ulama sataryah dan guru silat tradisional. Tradisi penanggalan ini dipraktekkan dengan berbagai cara, seperti menentukan hari baik dalam sebulan, baik untuk acara saremonial adat, mencari jodoh, saat bekerja di sawah, ladang, perjalanan jauh, dan lain sebagainya.
Tradisi kalender ini sarat dengan tanda dan simbol bahasa. Tanda dan simbol tersebut diinterpretasikan berdasarkan kondisi bintang di langit yang direpresentasikan oleh simbol alam. Apakah perubahan konstelasi menyebabkan perubahan cuaca menjadi lebih baik atau buruk. Tanda dan lambang pada kalender ini diposisikan berpasangan, dimana lambang dan lambang tersebut ditempatkan pada setiap sudut yang berbeda. Pada sudut vertikal urutan sepuluh hari ditempatkan, dan pada sudut horizontal urutan lima waktu dalam sehari. Dua sudut posisi tanda dan simbol yang berbeda bertemu pada garis silang yang berbentuk kotak, pada persilangan ini terlihat adanya simbol-simbol yang menempati. Persilangan antara hari dan waktu yang diwakili oleh lambang ini menjadi rumus waktu yang dikategorikan baik atau buruk. Keterkaitan simbol-simbol ini mengingatkan cara kerja Astrologi. Oleh karena itu, penanggalan kuno bisa disebut sebagai salah satu ilmu bintang klasik yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau.
Secara sederhana, Astrolinguistik sendiri dirumuskan menjadi cabang ilmu linguistik yang mengkaji tanda, simbol bahasa, dan hubungannya dengan Astrologi. Di sini, juga dijelaskan pengaruh tanda dan simbol yang digunakan terhadap keberlangsungan aktivitas manusia. Terkait dengan astrologi, Rudresh M Shastri dan A Rajagopal dalam tulisannya yang berjudul “Sebuah Studi tentang Penentuan Gender melalui Astrologi Weda: Menggunakan teknik data mining (2018) telah mempelajari Astrologi Weda yang mencakup hampir semua fase penting kehidupan manusia.
Hal ini juga serupa dengan Balamurugun dalam tulisannya Evaluation of Disease Through Astrological Theory of Siddhars (2018) yang menyatakan bahwa Astrologi adalah ilmu yang mempelajari ilmu bintang, ilmu kuno yang berbasis planet, perputaran bintang matahari, dan bulan. Dia menekankan bahwa tujuan akhir astrologi adalah untuk membantu orang menjadi sadar akan energi konstruktif dan destruktif yang secara teratur dilepaskan oleh kelompok sembilan entitas astronomi. Menurutnya, pergerakan dan posisi benda langit diartikan memiliki pengaruh terhadap urusan manusia dan alam.
Alexander Ollongren (2011) pernah menulis tentang Lingua Cosmica. Ia menjelaskan bahwa pesan antarbintang dirumuskan dalam bahasa yang sulit dipahami. Sementara itu, penerima pesan tidak memiliki sistem linguistik yang sama dengan pengirim pesan tersebut. Untuk membaca pesan tersebut, Ollongren menawarkan sistem Lingua Cosmica atau LINCOS yang dapat digunakan untuk konstruksi pesan kosmik. Sistem ini digunakan untuk membaca pesan yang memiliki simbol lingual yang berbeda dengan pembaca pesan.
Selain itu, Ivan (2009) bahwa terdapat hubungan antara benda langit dengan aktivitas manusia di bumi karena setiap orang memiliki peta langit dan bagan kelahiran mereka sendiri. Bagan kelahiran ini menunjukkan posisi planet-planet dan lokasi relatifnya satu sama lain pada tanggal dan waktu tertentu. Ivan mencoba mempelajari secara ilmiah bahwa peristiwa di bumi didasarkan pada posisi bintang-bintang di langit. Hal ini ia gambarkan dalam referensi sederhana berupa peta kelahiran langit, terkait dengan hubungan matahari, mars, Jupiter, dan benda langit lainnya.
Dari sekian banyak penelitian di atas terlihat, jelas bahwa manusia terikat oleh simbol-simbol yang terdapat dalam konsep adat istiadat dan kebiasaan. Simbol-simbol ini dibuat sesuai dengan kebutuhan untuk menghadapi segala kemungkinan dan untuk mengatasi segala rintangan dalam melindungi kehidupan. Simbol berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diteruskan kepada generasi penerus yang hidup di masyarakat.
Kajian astrolinguistik pada kalender kuno bertujuan untuk mengungkap makna budaya melalui tanda dan simbol linguistik dan hubungannya dengan astrologi. Tanda dan simbol bahasa ini dipandang sebagai arsip utama untuk pembacaan dekonstruktif sistem nilai dan filosofi di tingkat terdalam.
Bentuk astrologi kalender ini dapat dijelaskan dalam bentuk dan sistem kalender yang digunakan, pembagian hari dalam sebulan, dan pembagian waktu satu hari. Sistem penanggalannya lebih mirip dengan penanggalan Hijriah dalam Islam, namun berbeda pelafalannya. Pembagian bulan dalam kalender ini tetap dua belas bulan. Menariknya, sistem kalender ini tidak berhenti pada pembagian hari saja, melainkan terus membagi waktu dalam satu hari menjadi lima waktu penting.
Pada sistem kalender ini, terdapat penamaan dua belas bulan. Di antaranya bulan Sura 30 hari, bulan Sapa 29 hari, bulan Muluk 30 hari, Adiak Muluk 29 hari, Adiak Muluk Kaduo Bulan 30 hari, bulan Caghai 29 hari, bulan Sambagheh 29 hari, bulan lamang 30 hari hari, bulan puaso 30 hari, bulan gayo 29 hari, bulan adiak gayo 30 hari, dan bulan haji 29 hari.
Pembagian waktu satu hari kalender dibagi menjadi lima waktu dan setiap waktu dilambangkan dengan simbol. Glyph atau Simbol-simbol ini meliputi; anak-anak kecil, perempuan, orang banyak, silang, dan kosong. Pembagian waktu dalam satu hari kalender dimulai dari jam 12 siang atau malam hari. 12 jam ini harus dibagi lima dan masing-masing akan bertambah menjadi 2 jam 40 menit. Proses penghitungan waktu dengan membagi jam di atas disesuaikan dengan pembagian hari dalam satu bulan. Tanggal bulan yang berbeda akan menghasilkan rumus langkah yang berbeda untuk setiap hari. Pada 12: 00-02: 40 kita dapat menemukan simbol yang berbeda setiap hari. Jika suatu saat kita bertemu dengan simbol anak, pada saat itu kita tidak diperbolehkan melakukan aktivitas.
Jika suatu saat kita bertemu dengan simbol wanita, pada saat itu, tidak disarankan untuk melakukan aktivitas. Demikian pula, waktu yang ditandai dengan simbol silang termasuk waktu yang tidak disarankan, sedangkan waktu yang dianggap baik adalah waktu yang ditandai dengan simbol kosong. Setiap hari, simbol kosong kalender yang berbeda dapat ditemukan dan terkadang tidak ditemukan. Waktu yang dilambangkan dengan simbol kosong dianggap waktu yang tepat dan direkomendasikan untuk melakukan aktivitas.
Sebagai contoh, pada tanggala 17 bulan lamang, akan berada di kotak kedelapan dalam perhitungan waktu. Penghitungan menghasilkan lima simbol dalam sehari yang dihitung sebagai 12 jam. Perhitungan waktu dilakukan dengan menghitung secara vertikal secara berurutan dari kiri ke kanan hingga kotak kesembilan yang sudah berisi simbol-simbol tersebut. Kemudian, hitungan ke 10 kembali ke kotak pertama di sebelah kiri dan seterusnya hingga hitungan mencapai 17 hari kalender. Pada kotak hitung hari ke-17, terdapat lambang anak, lambang lima titik, lambang salib, lambang kosong, dan lambang perempuan. Representasi struktur semiotik dan hipersemiotik dari mesin terbang kalender pada pembagian waktu hari ke-17 dapat dijelaskan seperti di bawah ini.

Simbol-simbol yang dihasilkan pada hari ke-17 di atas berdasarkan pada pembagian waktu menjadi lima bagian setiap hari. Setiap waktu memiliki porsi 2 jam 40 menit. Setiap waktu memiliki mesin terbangnya sendiri seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas, yang merepresentasikan simbol anak kecil, keramaian, salib, kosong, dan parampuan.
Pada uraian tabel di atas, analisis semiotik diakhiri dengan signified, sedangkan pada analisis hipersemiotik signified sebenarnya kembali ke signified 2 dan signified 3. Landasan pemaknaan seperti ini mengacu pada konsep hipersemiotik produksi makna. Tanda 3 merepresentasikan waktu yang buruk termasuk waktu yang tidak disarankan untuk melakukan aktivitas. Waktu tidak baik ini diwakili oleh simbol untuk anak kecil, titik lima, silang, dan parampuan. Sedangkan waktu baik adalah waktu yang dilambangkan dengan simbol kosong.
Berbeda dengan Astrologi umum, pengaturan waktu di kalender di atas hanya berdasarkan lima glyph. Kelima glyph atau simbol ini dipandang sebagai sesuatu yang berkaitan dengan karakteristik atau sifatnya. Dalam hal ini, sifat perempuan, sifat anak-anak, sifat silang, sifat keramaian, dan sifat hampa. Sifat fisik simbol ini kemudian diartikan sebagai pertanda baik atau pertanda bahaya yang akan terjadi pada saat itu.
Kesimpulannya, di dalam sistem penanggalan kuno ini terdapat 12 bulan sebagai acuan. Di antaranya; bulan sura, bulan sapa, bulan muluk, bulan adiak muluk, bulan adiak muluk kaduo, bulan caghai, bulan sambagheh, bulan lamang, bulan puaso, bulan gayo, bulan adiak gayo, dan bulan haji. Pembagian waktu dalam kalender ini dilakukan setiap hari kalender. Setiap hari ada lima bagian waktu, dua kali buruk, satu kali terlarang, satu kali lebih baik, dan satu kali berbahaya. Setiap waktu diwakili oleh glyph berdasarkan sifatnya. Glyph tersebut mencakup titik satu mewakili sifat anak kecil, titik lima mewakili sifat kerumunan, silang mewakili sifat terlarang, tanda kosong mewakili sifat kebaikan, dan tanda titik berkaki dua mewakili sifat perempuan.

Tinggalkan Balasan