
Padang, Scientia – Embun pagi belum kering. Anak manusia sudah bertebaran mencari penghidupan. Tak terkecuali, Kintan Mutiahaya (23) dengan segala keterbatasan fisik.
Kintan, gadis berkaki satu. Sejak kecil kakinya diamputasi. Kendati begitu, asa dan semangatnya terus menyala. Terlebih sejak orang tuanya memilih berpisah sejak 10 tahun silam. Kini dia lah tulang punggung keluarga.
“Ya, saya harus datang lebih awal agar tercapai target jahitan,” ucap Kintan di sela-sela menjahit baju di Kampung Jahit Maharani Padang, pada Senin (8/5).
Alumnus Jurusan Tata Busana SMKN 6 Padang ini telah menjadi mitra Kampung Jahit Maharani sejak 2021 lalu. Tepatnya, di Jalan M Hatta Nomor 55, Simpang Koto Tingga, Kelurahan Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.
Awalnya tak punya penghasilan karena terdampak COVID-19, dan kondisi ekonomi keluarganya saat itu sempat berada di titik terendah. Sementara dia harus menghidupi ibu dan kedua adiknya yang masih di bangku SMA.
“Waktu itu benar-benar gak ada penghasilan. Sempat kerja di taylor atau konveksi tapi jarang ada order, sehingga tidak ada pemasukan. Sejak di Maharani setiap hari ada orderan yang dijahit,” jelasnya.
Kini, sejak bermitra di Kampung Jahit Maharani, warga Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur ini mampu mengantongi Rp600-Rp700 ribu setiap pekannya. Rata-rata setiap bulannya mendapat upah Rp2,4 juta bahkan Upah Minimum Provinsi (UMP).
“Biar kaki saya cacat, saya juga harus cepat selesai sesuai target, karena dibayar per helai baju,” kata Kintan yang setiap hari berangkat menunggangi motor matic hasil jerih payahnya menjahit.
Pernyataan itu dibenarkan Elsa Maharani, selaku pendiri Kampung Jahit Maharani. Dia merekrut Kintan karena soal keterbatasan fisik, tapi kemampuan dan semangat berani bangkit yang dimiliki warga Padang Timur itu.
“Meski (maaf) keterbatasan fisik, satu kaki, tapi justru Kintan yang paling cepat menjahit dan capai target selama ini,” tutur perempuan 33 tahun itu.
Tekad Bangkit Bersama
Kampung Jahit Maharani dirintis Elsa Maharani sejak tahun 2016 lalu. Kendati tak mudah, namun tekad bulatnya mampu menjadikan puluhan dapur rumah tangga tetap “ngebul” dari hasil jahitan.
“Ya, rumah jahit ini kita dirikan untuk pemberdayaan, terutama bagi kaum perempuan,” kata Elsa yang akrab disapa Uni Eca itu saat dihubungi Scientia.id di Padang.

Keberadaan Kampung Jahit Maharani ini sangat dirasakan masyarakat Kota Padang, apalagi kawasan Koto Tingga. Sejak empat tahun terakhir, ekonomi masyarakat setempat berubah drastis. Terutama pasca ekonomi dihantam COVID-19.
Setidaknya, kini 70 penjahit yang mayoritas perempuan menopang hidup sebagai mitra Kampung Jahit Maharani. Puluhan penjahit tersebut berasal dari beragam latar belakang, bahkan ada korban PHK akibat COVID-19.
“Ada yang tidak bisa menjahit kita latih. Kita jadikan mitra, agar bisa bangkit kembali, yang awalnya putus kuliah bisa berpengjasilan Rp500-700 ribu per minggu,” terang alumnus Universitas Andalas (Unand) Padang ini.
Anak kedua dari 10 bersaudara ini memang bertekad ingin memiliki bisnis pambangkiak batang tarandam. Mimpinya tak hanya sebatas untuk membantu adik-adiknya, tapi secara ekonomi juga ingin bangkit bersama masyarakat di lingkungannya.
“Karena mimpi kita tak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk membantu orang lain. Sebab, sebaik-baiknya manusia itu kan yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” tutur Uni Eca ini.

Membangun Kampung Jahit Maharani ini butuh proses panjang, bukan secara tiba-tiba. Sejak di bangku kuliah, dia sempat jualan online beragam produk. Salah satunya menjadi reseller hijab, dan memegang 17 brand ternama yang dijual di marketplace.
Tak hanya itu, Uni Eca juga berhasil menjadi distributor 5-6 brand hijab secara nasional. Keberhasilan dan pengalaman malang-melintang selaku distributor pakaian muslim itu, ibu dua orang anak nekad jadi produsen di rumah sendiri.
“Juga dengan adanya dukung dari suami, Fajri Gufran Zainal, akhirnya jadi produsen, bikin brand sendiri dengan nama Maharani,” ungkap alumnus SMAN 3 Padang ini.
Atas kerja keras dan tekad bangkit bersama, Kampung Jahit Maharani kini berhasil meraup omset Rp300 juta per bulannya. Tak hanya meraih beragam penghargaan, produksi pakaian pakaian muslimnya juga berhasil menjajal daerah Malaysia, Singapura, Taiwan, Qatar, dan Mesir.
“Target kita semakin bertumbuh, makin banyak pula memberi manfaat bagi orang banyak, terutama untuk bangkit dari segi ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Pernyataan Elsa tersebut dibenarkan Yelfi Dianti (44), warga Simpang Koto Tingga, Kelurahan Pasar Ambacang Padang. Dia telah menjadi mitra sebagai penyetrika di Kampung Jahit Maharani ini sejak 2021 lalu.
“Pemasukan gak ada sejak COVID-19, sejak kerja bersama Maharani, bisa membantu ekonomi keluarga,” tutur perempuan tiga anak ini.

Ungkapan yang sama juga dituturkan Fina Febriani (25), yang kembali bangkit bersama Kampung Jahit Maharani. Betapa tidak, dia sempat hidup terkatung-katung di Kota Padang karena kehabisan uang.
Tak hanya itu, kuliahnya di Universitas Negeri Padang (UNP) juga sempat terbengkalai selama dua semester karena tak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mencapai Rp4 juta setiap semesternya.
“Pada Maret 2019 pernah tidur di Masjid Raya Sumbar, puasa dari Senin sampai Jumat selama dua minggu karena gak ada uang untuk makan,” ungkap perempuan asal Pekanbaru ini lirih.
Setelah bergabung dengan Kampung Jahit Maharani, anak guru mengaji di Pekanbaru ini kembali lega. Betapa tidak, kini dia mampu menghasilkan Rp2,8 juta per bulan, dan melanjutkan kuliah Jurusan Tata Busana di UNP yang sempat terbengkalai.
“Sejak bersama Maharani, saya bisa bayar hutang sama teman-teman kampus, bayar uang kuliah, bahkan bisa mengirim uang untuk orang tua di kampung,” tuturnya.
JNE Jadi Pilihan
Sejak dimulai tahun 2016, perkembangan Kampung Jahit Maharani sangat signifikan. Dari satu orang penjahit awalnya, kini berkembang menjadi 70 mitra sebagai penjahit.
Dengan jumlah itu, Kampung Jahit Maharani bisa memproduksi 3000 helai pakaian setiap bulannya. Lalu semua produk lebih 80 persennya dijual secara online melalui 150 agen dan reseller seluruh Tanah Air.
“Kita bahkan ekspor untuk sebuah mall di Selangor, Malaysia sejak pertengahan 2022 lalu. Terus kita punya reseller di Taiwan, Singapura, Qatar, dan Mesir,” kata Manager Kampung Jahit Maharani, Tia Aklima di Padang.
Dengan perkembangan bisnis Kampung Jahit Maharani tersebut, pihaknya harus lebih hati-hati dalam memilih jasa ekspedisi. Hal ini tak hanya soal khawatir tertipu, tapi juga agar tak ingin mengecewakan costumer.
Pengakuan Tia, sejak Kampung Jahit Maharani berdiri 2016 silam, pihaknya memilih jasa perusahaan logistik dan ekspedisi barang, PT Tiki Jalur Nugraha Eka Kurir atau yang dikenal dengan JNE Express.

Terlebih sebut Tia, jaringan dan jangkauan area distribusi JNE lebih dari 83 kota, dengan lebih dari 8000 titik gerai. Dengan jumlah tersebut, pengiriman barang melalui JNE bisa menembus daerah pelosok.
“Kita di Maharani memakai jasa pengiriman JNE yang selalu di hati, sebab lebih dipercaya, layanannya cepat, dan ongkosnya juga lebih terjangkau,” tuturnya.
Selain itu, JNE juga memiliki kemudahan sistem bagi costumer. Terutama JNE banyak menawarkan diskon untuk pengiriman tanpa melalui marketplace, sehingga memberikan keuntungan lebih bagi Maharani selama ini.
Kemudian, dia menyebut JNE juga memiliki aplikasi yang memudahkan tracking barang, dan cek ongkos kirim. “Pokoknya JNE sangat support untuk Maharani, apalagi semuanya sudah serba digital, jadi ngirim barang bisa tanpa harus ke kantor JNE,” terangnya.
Marketing JNE Padang, Anggun mengakui Kampung Jahit Maharani sudah lama bermitra dengan JNE. Terutama dalam pengiriman pakaian muslim ke berbagai daerah nusantara.
“Kita bahkan memberikan kemudahan dengan beragam promo. Kami memberikan layanan dari produk premium hingga paling ekonomis,” jelasnya.

Selain itu, JNE juga memiliki layanan baru serba digital melalui aplikasi JNE, sehingga pengiriman barang bisa mencetak resi sendiri, tracking pengiriman, bahkan bisa mengetahui transaksi bulanan.
Terlebih lagi, saat ini sudah tersedia 18 Cabang JNE di Sumbar, dengan 200 karyawan organik dan 300 lebih agen hingga di berbagai pelosok. Sementara itu, costumer JNE di seluruh Sumbar sudah mencapai 100.000 lebih.
“Semuanya sudah serba digital dan terhubung di marketplace, sehingga JNE komitmen untuk memberikan beragam layanan kemudahan,” ujar Anggun.
Kemudian, JNE juga terus mendorong pertumbuhan UMKM di Sumbar. Salah satunya dengan menggelar Seminar UMKM Minangkabau, pelatihan bisnis secara digital, hingga roadshow untuk peningkatan penjualan di berbagai daerah Sumbar.
“Khusus di Sumbar bahkan kita beri satu harga, Rp11 ribu pengiriman di wilayah Sumbar, dan Rp8 ribu untuk wilayah Kota Padang. Mudah-mudahan dengan ini, kita bersama bisa bangkit untuk Indonesia maju,” harapnya. (Wahyu Saputra)

Tinggalkan Balasan