Kategori: Kreatika
-

Cerpen “Rumput yang Tak Pernah Bergoyang” Karya Adelia Febriyossa dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Lebih jauh, Nuryatin dan Irawati (2016) menyampaikan bahwa secara etimologis cerpen pada dasarnya adalah karya fiksi atau ”sesuatu yang dikonstruksikan, ditemukan, dibuat atau dibuat-buat”. Hal itu berarti bahwa cerpen tidak terlepas dari fakta. Fiksi yang merujuk pada pengertian rekaan atau konstruksi dalam cerpen terdapat pada unsur fisiknya. Sementara itu, fakta yang merujuk pada realitas dalam cerpen terkandung dalam temanya. Dengan…
-

Puisi-puisi Moch Aldy MA dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Meski menyindir, puisi Aldy tetap dapat dibaca dengan enak. Ungkapan-ungkapan yang digunakannya dengan pas memberikan gambaran atas persoalan yang disuarakan, seperti ‘tekun flexing di sosial media’, yang menyinggung masalah jejak digital yang dapat menjadi bumerang dari aktivitas sosial di dalam kehidupan nyata, di samping dapat pula berarti sindiran atas kebiasan wasring time, buang-buang waktu dengan…
-

Cerpen “Novel Kosong” Karya Afrizal Jasmann dan Ulasannya Oleh Azwar Sutan Malaka
Entah ajian apa yang digunakannya. Akhirnya, Ivan bisa meyakinkan redaksi untuk menerima ide novel kosongnya itu. Seiring waktu berjalan akhirnya novel itu naik cetak dan disebar ke berbagai toko buku. Sehari dua hari, seminggu dua minggu, bahkan sampai pada hitungan bulan aku dan Ivan terus memantau penjualan buku tersebut. Yang dipantau bukan masalah laris atau tidak laris semata,…
-

Puisi-puisi Vania Kharizma dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Pada edisi kali ini, Kreatika memuat tiga puisi karya Vania Kharizma. Ketiga puisi tersebut berjudul “Ketika Kita Saksikan Saudagar Mengurut Perut di Waktu Iftar”, “seperti: Aku adalah Butir di Tengah Megah Sulaiman”, dan “Mereka Cuma Memoles Ramadan”. Puisi-puisi Vania memiliki struktur fisik berupa klausa-klausa panjang yang meliuk-liuk, seperti layang-layang di perayaan musim panen. Puisi-puisi yang…
-

Cerpen “Jasa Saluang” Karya M. Adioska dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Jasa Saluang Cerpen: M Adioska Taksi itu terus melaju namun tidak semulus sebelumnya, karena kini ia harus melewati jalan desa yang cukup sempit. Hanya pas untuk mobil yang berselisih, itupun harus hati-hati. Tidak jarang salah satu mobil yang sedang berselisih itu harus berhenti untuk menghindari terjadinya kecelakaan kecil. Di dalam taksi itu tampak seorang pemuda.…
-

Wabah
Kubaca pesan grup. Sorak-sorai temanku karena masuk daftar penerima BLT pemerintah. Padahal, hidupnya berkecukupan dan berpendapatan stabil sebagai karyawan perusahaan. Namun, tetap membusungkan dada dan mengulurkan tangan untuk sesuatu yang bukan haknya. Beberapa harinya, kutelepon ibuku dan kutanyakan mengenai kabar BLT tersebut karena di televisi sontak telah memberitakan wajah-wajah penguasa yang tersenyum lebar sedang memberikan…
-

Puisi-puisi Novi Handra dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Di dalam konteks kehidupan Islami, manusia diberi waktu untuk beribadah kepada Sang Pencipta, Allah SWT,“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Menyembah Tuhan dimaknai dengan tindakan beribadah, sebagai wujud dari melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Mengisi waktu dengan membaca huruf-huruf kitab suci untuk menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan…
-

Cerpen “Dosa Jariah” Karya Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Dosa Jariah Cerpen: Sakura Alvino Aku tidak tahu, bagaimana aku harus menyikapi kenyataan ini. Ibu yang begitu aku hormati, telah merampas rasa hormat itu. Aku yang sangat mencintainya, tapi setelah mendengar kenyataan ini, aku lebih memilih pergi dan tak peduli. Aku kecewa. Teramat sangat. Ketika tahu, bahwa perjalanan pernikahanku yang sudah menginjak lima tahun adalah pernikahan…
-

Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Kenangan Yang tak pernah aku lupa ketika warna jingga menghiasi langit di belakang rumah kita Ada mimpi yang kita bisikkan dalam tiap helaan napas doa Seperti lafal puisi kelak akan kita tampilkan di hadapan Ilahi Tetapi kini cerita telah berbeda Tak ada lagi senja karena ia telah kau bawa bersama secangkir mimpi dan aku hanya menyimpan puisi dalam kenangan…
-

Cerpen “Hutan Larangan” Karya Uda Agus dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Hutan Larangan Cerpen: Uda Agus Kampung Jati hanyalah sebuah kampung kecil. Penghuninya sekitar seribu jiwa. Letaknya di balik bukit yang mempunyai hutan lebat di belakangnya. Hutan larangan, begitu warga menyebutnya. Kata ibu, dulu hutan itu tidak angker. Tidak ada yang menyebutnya hutan larangan. Nama itu baru muncul beberapa tahun terakhir. Entah siapa yang membawa kabar…