Kategori: Kreatika
-

Puisi-puisi Rara Permata B. dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Kaulah Ibu Kaulah semangat kala lemah meringkup hidupku Kaulah udara kala sesak menyelimutiku Kaulah tegar kala ujian menerpaku Kaulah ibu Dunia indah dengan senyummu Dan dunia lengkap adamu Kaulah pasir penguat debur ombak Kaulah mentari dalam dingin pagi Kaulah ibu Hadiah Tuhan dengan syurga di telapak kakimu Mulialah milikmu Cintalah kasih sayangmu Kaulah ibu Maaf…
-

Cerpen “Lifa” Karya Alhimmatul ‘Aliyah Radhwa dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Lifa Cerpen: Alhimmatul ‘Aliyah Radhwa Lifa, begitu nama gadis kecil itu. Sebagai anak sulung, dia dituntut menjadi lebih dewasa dari usianya. Seperti pada sebuah siang yang panas, tetapi berangin sepoi-sepoi itu. Ia dipaksa menerima kenyataan bahwa Ibunya sedang tidak baik-baik saja. “Lifa bantu ibu cuci piring, Nak! Kepala ibu pusing.” Ibu memanggil Lifa dari dapur.…
-

Puisi-puisi Alya Rekha Anjani dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Trivia aku diam saat mendengar mereka bilang putih pada apa yang kulihat hitam lidahku menjalar saat mencecap manis asin cawan mereka mataku berlarian saat membaca kertas yang mereka tulis tubuhku gesit melakukan apa yang mereka sepakati tanganku galir saat mereka menuntunku ke lubang kelinci hatiku dimiliki mereka yang menjadikan uang tuhannya telingaku merekah lebar mendengar…
-

Ulasan Cerpen “Mamak Jinjingan” Karya Otriramayani dan Ulasannya oleh M. Adioska
Cerpen: Otriramayani Aku menatap amak, menghindar dan menarik napas untuk kesekian kalinya. Sulit. Benar-benar sulit untuk menjawab pertanyaan Amak. Menjawab ya, berarti aku akan berlawanan pendapat dengan kedua kakakku. Sebaliknya, jika menjawab tidak, aku akan membuat beliau kecewa. “Kenapa harus kita, Mak?” Pertanyaan itu yang kemudian keluar dari mulutku. Amak menatapku, mungkin ia heran dengan pertanyaanku.…
-

Puisi-puisi Rina Anjarwati dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Mantra Kupersembahkan sajen ini berisi sekuntum rindu dengan serangkai kata mengasap bersama kemenyan kuselipkan melati yang membau biru dengan patahan hati yang mengabu anyir nan kuat mengusik relung hatimu setetes nadiku rupanya telah menyatu melebur dengan pinta penuh penyerahan mantra ini terus kurapalkan biar sampai ke dasar lalu melambung mencabut atmamu Jambi, 08 Juni 20…
-

Cerpen “Riwayat Asap” Karya Dodi Saputra dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Riwayat Asap Cerpen: Dodi Saputra Dalam pagi teramat menggigil ini, suara kawanan jangkrik masih terdengar di sudut-sudut rumah. Pepohonan masih tampak gemerlap di luar sana. Sebuah lampu minyak menyala dari salah satu rumah. Usai melipat sajadah, Mandeh menuruni tangga menuju dapur bersama lampu minyak itu. Ya, perempuan itu mengenakan kain sarung dan penutup kepala yang…
-

Puisi-Puisi Dara Layl dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Ingatan Malam merangkak dengan sederhana Menghidupkan dingin yang terasa semakin ngilu Dalam pekat yang semakin mencekat Aku terhuyung berlari-lari Lari. Lari. Lari Lari dari ingatan yang terus berpulang sebelum mataku mengistirahatkan diri Aku mencengkeram selimut; menyembunyikan ketakutan Dengan napas yang putus-putus Terdengar bentakan ayah yang membekukan seluruh ruangan Disusul isakan ibu yang beradu bersama piring-piring…
-

Cerpen “Terjebak Masa Lalu” karya Ulul Ilmi Arham dan Ulasannya oleh M. Adioska
Terjebak Masa Lalu Cerpen: Ulul Ilmi Arham Jelita menendang pot bunga di lorong sekolah hingga menggelinding jauh dan menabrak bak sampah. Pot tanah liat itu retak. Seisi tanah merekah dan menampakkan akar-akar tanaman yang mendekam di dalamnya. Jelita tak acuh pada nasib bunga itu. Tak merasa bersalah sedikit pun. Seolah merasa tanaman itu pantas menjadi pelampiasan…
-

Puisi-Puisi Fatma Hayati dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Suara Hati untuk Hati Wahai hati Berhentilah bermuram durja Redamlah gemuruh yang makin bergelora Tak perlu kau mempertikaikan takdirnya Karena kita hanyalah pelakon saja Hati… Bukan tentang sabar yang ingin kukabarkan Tapi tentang Dia yang tak pernah abai Pada takdirmu dan takdirku “Kau arungi saja dengan cara terbaikmu Tak perlu kau pilu bak tersayat sembilu”…
-

Cerpen “Tabir Malam di Pondok Santri” Karya Fitria Sartika dan Ulasannya oleh Medi Adioska
Tabir Malam di Pondok Santri Cerpen: Fitria Sartika Malam semakin dingin dan menggila di antara jangkrik yang berbisik riang. Nafisa masih setia duduk di depan meja belajarnya. Dengkuran teman-teman sekamarnya seakan membuat ia tak berminat untuk ikut merebahkan tubuhnya. Entah sejak kapan kebiasaan begadang ini dilakukan Nafisa. Padahal, dulunya ia adalah santri yang manut aturan…