Kategori: Kreatika
-

Puisi-puisi Fatta Adiba Arif dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Gagak dan Merpati Hei, lihatkah kau di sana! Di antara cecabang hitam beku musim dingin Seekor gagak dan seekor merpati bertengger di dahan yang sama Watak dan rupa mereka berbeda Cobalah terka sedang beretorikakah mereka Sampai mana kau bisa terbang saat ini? Sudah ke mana sajakah dirimu berkelana? Pernahkah kau disentak badai? Atau sayapmu pernah patah dan terjatuh menghempas tanah?…
-

Cerpen “Idulfitri untuk Ibu” Karya Siswati dan Ulasannya Oleh Azwar Sutan Malaka
Idulfitri untuk Ibu Cerpen: Siswati Pukul 10 malam. Gerimis masih membasahi setiap jengkal tanah yang kupijak. Sementara, angin berhembus kian kencang menusuk hingga ke persendian tulangku. Kurapatkan mantel yang tengah kupakai. Perlahan aku mulai melakukan tugasku, mengunci pintu pagar. Tugas ini hanya kulakukan ketika aku pulang kampung, ketika jadwal sekolah libur. Malam ini, aku…
-

Puisi-puisi Fury Buhair dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Kau, Bertanya Malam [?] Malam: Pelabuhan, kelopak matamu adalah malam bukan? gelap dan penuh air mata kesunyian pintalan rahasia kau jalin ia dengan jari-jari yang mengusap Malam: Kesedihan, seberapa basah pun wajah teguh itu sesendu Selat Sunda dengan hamparan luka? kau tak hirau… tak ‘kan ada bibir dingin yang mempersoalkan Malam: Hitam, tak perlu repot membalut…
-

Cerpen Sakura Alvino “Sarha Perjuangan” dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Sarha Perjuangan Cerpen: Sakura Alvino Pagi ini, dengan suasana yang terus waspada, aku duduk di kursi dan menyesap syai buatan Aisha, istriku. Tidak ada yang tahu waktu-waktu akan bergulir membawa kepedihan. Tanpa prediksi, serangan udara dari Israel bisa saja mendarat meluluhlantakkan pemukiman kami. Benar saja, dinding bergetar hebat. Beberapa detik yang lalu bom sudah mendarat di…
-

Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F.Daye
Memagut Kenangan Semua ini tak pernah sampai padamu yang terlanjur pergi pamitmu tak kembali masih tersisa aroma pagi di matamu dan aku ingin melihatnya kembali Di pantai belakang rumah kita hanya ada bayangmu Angin terasa tak sejuk lagi, begitu juga laut dan gelombang, dan senja dengan lembayungnya Tak sempurna tanpa jejakmu Siluet dengan pesonanya yang abadi…
-

Cerpen “Warisan Ayah” Karya Silvianti Cing dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Cerpen: Silvianti Cing Kusingkapkan sedikit daun jendela kamar yang menghadap ke arah timur. Berderit-derit di antara derap langkah cecak yang kedinginan. Kulayangkan pandang menembus pekatnya kabut, menelusuri jejak rembulan yang terseok-seok dikejar semburat kuning di titik nadir. Hembusan udara pagi berbisik, segar napasnya menyelinap di balik daun jendela yang mulai berlubang di beberapa bagiannya, dimakan…
-

Puisi-puisi Surya Hafizh dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Telaga dan Surau Tua aku tak hendak jadi suara menjadi kerikil jatuh yang kau lempar ke telaga mengusik bias bayang surau tua aku tak hendak mendengarmu menyusun suara parau mengungkit-ungkit kaji lama aku tak hendak menjadi aroma tubuh yang memikat: malam dan segenap setan memperalati waktu, membuatmu ketakutan menunggu kabut diam-diam meminjam wajahmu —diam-diam hendak menjadimu mengulurkan…
-

Cerpen “Lelaki Penjemput Pelangi” Karya Fadli Hafizulhaq dan Ulasannya oleh M. Adioska
Lelaki Penjemput Pelangi Cerpen: Fadli Hafizulhaq Tidaklah pernah kuhitung selang waktu kepergian Ayah. Sungguh tak kukira akan sebegitu lama, sejak saat hanya rambut yang dapat kusisir hingga telah piawai pula memoles bibir. Telah lama memang ia menghilang, tersebab sebuah alasan yang terdengar konyol : menjemput pelangi, begitu kata Ayah waktu itu. Bualan yang pada akhirnya membuatku…
-

Puisi-puisi Dara Puspa Mulyana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
[vc_row][vc_column][vc_column_text] Sebuah Ketulusan Aku terlahir dari hatimu yang paling suci Pancaran matamu menjagaku untuk tetap merasa tenang Tanganmu merangkulku dengan kebijaksanaan Kata-katamu mendidikku dengan kearifan Ayah, Tak terbilang segala jerihmu Di pagi buta Kau hadang sang lentera dengan kerja keras Di keelokan senja Kau ajak aku berdialog perihal mimpi-mimpi Di malam sepi Kau peluk kegelapan…
-

Cerpen “Ketika Uni Lia Pergi” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Cerpen: Ali Usman Angin Bukik Cubadak menyapu dingin bulu romaku. Daun-daun pohon duku berjatuhan menangis terlepas dari tangkainya. Suara gemericik air cucian Uni Lia mengikuti irama angin. Sisa gemericik air itu juga menemani jatuhan dedaunan pohon di depan rumah. Amak bergegas mandi ketika Uni Lia masih asyik menyuci pakaian. “Maan… Lakeh lah…! Pai ndak samo…