Kategori: Kreatika
-

Puisi-puisi R.S. Mila dan Ulasannya oleh Dara Layl
Puisi Puisi R.S. Mila Lentera Kuno Ia berpaut pada sebuah tonggak lama Menopang seluruh harapan Berharap bisa berguna Rembulan menerangi kegelapan Cahaya itu tetap berpacu mengalahkan cahaya bulan Fajar pun tiba Kini rembulan sedang beristirahat hingga malam Angin bertiup menggoyangkan lampu gantung itu Lentera disebut pelita Ia selalu terjaga Mengalahkan waktu Hingga ia sampai pada…
-

Cerpen “Memilih Jalan Tuhan” Karya Muttaqin Kholis Ali dan Ulasannya Oleh Dara Layl
Memilih Jalan Tuhan Oleh: Muttaqin Kholis Ali Sinar mentari menyapa penuh kehangatan. Orang-orang bersuka cita, menyambut hari dengan semangat empat lima. Adalah Parna, bocah berusia 10 tahun yang duduk di tepian sungai dekat tempat tinggal orang tua angkatnya. Wajahnya penuh lelah dikarenakan keadaan. Kadangkala ia ingin mengeluh. Betapa ia juga berharap memiliki kehidupan penuh kebahagiaan…
-

Puisi-puisi Sri Wardani dan Ulasannya oleh Dara Layl
Sepi Sekeping Hati Kerjap bintang menjulur dalam kelam Sunyi menyusuri malam Denyut sepi merangkak enggan Pengemis iman datang menyalam Duka mengakar menjalar jiwa Lemah, lelah menguasai raga kehampaan mengganyang rasa berpilin benang melilit resah Menyesakkan Terbelenggu ikatan kenestapaan Terlempar dalam lumpur yang membenam Tersadar, dosa memeluk badan menjemput keampunan Keluh kesahku pada-Mu basah di lidah…
-

Cerpen “Telur Kemerdekaan” Karya Otriramayani dan Ulasannya oleh Azwar, M.Si.
TELUR KEMERDEKAAN Cerpen: Otriramayani “Lho mang kenapa kalau mereka bernyanyi, menari dan berlomba?” Dia masih bersungut. Muka temanku itu merah padam, marah! “Mereka keasyikan beryanyi, menari dan berlomba,” “Lha biarin aja, mereka bergembira untuk merayakan….” “Merayakan apa?” dia makin meradang, “Merayakan kemalangan saya?” Aku tertawa, seperti orang orang yang sering menertawakan kenaifan dan kebodohan…
-

Cerpen “Pulang ke Rahim Ibu” Karya Amalia Aris Saraswati dan Ulasannya oleh Azwar, M.Si.
Pulang ke Rahim Ibu Oleh : Amalia Aris Saraswati Maghrib hampir jatuh, tapi aku masih termangu di bangku peron. Aku baru tiba dari perjalanan Cikarang-Kramat. Bukannya melanjutkan perjalanan ke kontrakan, aku justru memilih duduk di bangku stasiun agak lama. Orang-orang memperhatikanku, seakan aku perempuan muda yang tampak seperti orang linglung, lupa jalan ke rumah daripada…




