Kategori: Literasi
-

Puisi-puisi Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Merah Putih Jiwaku Erat Memelukmu Kekasihku, di itikafmu mereka Merusak khusyuk pencarianmu Berharap tenang merindu syahdu Menikmati bersama Rabb-mu Terusik terhempas gelegar mesiu Pencarian malam seribu bulan Lailatul Qadar-mu di Al Aqsha Dibela batu berkawan Quran Menjaga mulia Baitul Maqdis Kiblat pertama kita nan suci Saudaraku, di sini aku berteriak! Geram! Marah! Sedih! Tontonan tangan-tangan…
-

Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati
Pergi ke Tuhan Orang-orang meyuruhku pergi ke Tuhan di mata mereka, aku adalah si kafir itu yang harus merangkak menuju kepada-Nya dan berjanji akan beriman sepanjang hayat Mereka meneriakiku, “Bertaubatlah, kafir!” Namun, adakalanya mereka merendahkan suaranya padaku, “Kau telah berjalan terlalu jauh dari-Nya, kembalilah sebelum terlambat,” “Itulah sebabnya Tuhan menciptakan kalian untukku,” jawabku. Orang-orang menyuruhku…
-

Pentingnya Diksi ketika Berbahasa
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi memiliki makna “pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Oleh sebab itu, istilah diksi juga dikenal sebagai pilihan kata. Sejalan dengan makna tersebut, beberapa ahli bahasa juga mengungkapkan hal yang serupa mengenai diksi. Zaenal Arifin menyatakan bahwa…
-

Cerpen “Suatu Sore” Karya Yulfia Afaz dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Cerpen: Yulfia Afaz Rabu, 30 September 2009 Angin sore terasa dingin namun begitu menyengat di pori-pori Hasan. Sesekali mulut angin menghempaskan aroma amis dan berhasil hinggap di hidungnya yang bangir kemudian lenyap begitu saja. Meskipun suhu udara terasa berbeda dari biasanya, kekhusukan menunaikan empat rakaat tidak membuat mahasiswa semester 5 itu terganggu sedikit pun. Setelah melipat sajadah,…
-
Kok bika ambon dan rendang Padang Beda?
Antara bika ambon dan rendang Padang memang merupakan dua nama makanan yang berbeda. Namun, tahukah teman-teman, perbedaan yang dimaksudkan pada judul tulisan ini ialah perbedaan pada penulisan bika ambon dan rendang Padang. Kata Ambon pada frasa bika ambon tidak menggunakan huruf kapital, sedangkan kata Padang pada frasa rendang Padang menggunakan huruf kapital. Kok bisa berbeda? Makanan rendang merupakan makanan khas…
-

Puisi-puisi Rilen Dicki Agustin
Sawah dalam Lambung : hari tani nasional 24 September I. dalam lambung petani, sawah selalu kelaparan akan ditumbuhi padi dan bunyi mesin tapi bisakah orang-orang sadar selepas perutnya kenyang ada tangis darah para petani dalam lambungnya? II. sawah dalam lambung petani adalah kehidupan, tapi malah dianggap halu : kok bisa, sih? tanya tikus ya, bisa.…
-

Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Di Sini Setelah Hujan Cukup lama musim bercerita tentang ladang-ladang dan tanah-tanah dengan retaknya lalu sehelai demi sehelai daun meninggalkan ranting yang mengacung kering menunjuk matahari serasa berbisik “masih adakah harapan untuk menemui gerimis esok hari” lalu kutemui kau saat ini. Di sini setelah hujan gazebo sepi lembab menghadap sungai menanti harapan menjadi tunas tunas…
-

Menghindari Redudansi atau Kata Mubazir dalam Menulis
Menulis tidak hanya bermodalkan inspirasi dan ide atau gagasan. Masih ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menulis. Salah satunya pengetahuan kebahasaan. Dengan berbekal pengetahuan kebahasaan, penulis akan mudah menuliskan ide-idenya. Pengetahuan kebahasaan tidak bisa dianggap sepele, sebelah mata, atau dianggap recehan. Sebagian orang menganggap ilmu bahasa hanya sebagai pendukung karena dianggap tidak bisa membangun…
-

Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati
Palsu gerimis membasahi kota malam itu membasuh hatiku yang hampir patah aku berlari pada kekasih ia tak berada di tempat hanya rumah yang dingin dan kesepian dalam setiap langkah, bersamaan hujan deras di mataku “Ya Tuhan, ampuni aku,” “Ya Tuhan, ampun,” “Ya Tuhan,” “Ya Tuhan,” “Ampuni aku yang telah kafir, memuji nama indah-Mu tapi kekasih…
-

Cerpen “Sang Guru dari Negeri Kabut” Karya Silvianti dan Ulasannya oleh M. Adioska
Cerpen: Silvianti Berpuluh-puluh motor dan mobil merangkak perlahan di antara gelimang debu yang menari-nari. Berpacu dengan detak jarum jam yang tak pernah mau berhenti barang sebentar. Tua muda, laki perempuan, besar kecil, kaya miskin, saling salip, tikung kiri, dan tikung kanan. Yang berani lari, yang takut tersikut, dan yang lambat mengumpat. Sumpah serapah berhamburan bebas dari mulut-mulut…