Kategori: Literasi
-

Puisi-puisi Mutiara Lembayung
Di Meja yang Sama aku mencintai langit biru menyukai cericit burung merasakan desah dedaunan menghitung butir embun di pagi hari menghirup aroma hutan dalam diri semesta dan menikmati musik jalanan nan sendu kau bercerita tentang Rossi yang pensiun dari sirkuit Marquez yang meliuk-liuk menakluk tikungan demi tikungan lalu tentang Ronaldo yang kembali pulang ke MU…
-

Mengenal Frasa dan Fungsinya
Pada mata pelajaran atau mata kuliah bahasa Indonesia, kita sering mendengar istilah frasa. Beberapa ahli menyebut frasa dengan frase. Akan tetapi, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata baku untuk satuan gramatikal tersebut adalah frasa. Frasa dalam KBBI memiliki makna “gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif”. Berdasarkan itu, kita bisa menarik kesimpulan terkait…
-

Puisi-puisi Lidia Ningsih dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Ingkar Atap rumah tinggi menjulang Tembok raksasa tua adalah saksi bisu Kau junjung kesetiaan pada satu hari yang tak berdosa Saat itu titik dari mulutmu begitu jelas Bibirmu bergetah sehingga tak satu pun menentang Pikiranmu semakin tajam mengawang hingga menembus langit Tuhan Jalanmu tiada dapat kuperoleh Dalam seperempat jalan kamu berubah akal Kata tak berpucuk…
-
Salah Kaprah dengan Kata Sedikit, Mungkin, dan Kebetulan
Tahukah kamu bahwa kata sedikit, mungkin, dan kebetulan merupakan kosakata bahasa Indonesia yang paling sering digunakan, tetapi termasuk ke dalam pemakaian yang salah kaprah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia (2016) mendefinisikan bahwa salah kaprah adalah kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan. Kita bisa lihat pada contoh berikut. 1. Saya ingin sedikit…
-

Puisi-Puisi Mhd. Irfan
Senin Sebuah meja hitam berkaki empat meredup dalam sebotol teh pucuk harum dan piring kaca sumbing di sebelah getar jam tangan segalon air menetes ke kaki anak semut Smartphone dengan nada pagi berkicau di daun telinga kepulangan pertama tidak berketahuan anak-anak meminta jatuhkan mainan dari pesawat kertas yang diterbangkan kembalilah demi sepatu kusam tanpa kaos kaki…
-

Cerpen “Pulanglah, Bujang” Karya Hasbunallah Haris dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Pulanglah, Bujang Cerpen: Hasbunallah Haris Aku pulang ke Batipuh sekitar dua hari yang lalu, langsung kutemui pria tua berjenggot lebat di rumah gonjong itu sesuai yang diamanatkan sahabat karibku, Harfan. Sebelum kematiannya di Bukit Alang Lawik, tak tega aku melihat air muka orang tua itu ketika beruluk salam padanya. Mata tua keriputnya yang sendu menatapku…
-

Puisi-puisi Bio Handika dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Taring-Taring Tumpul haru biru tanah pusakaku republik yang lugu tanah para kucing-kucing lapar yang sedang menggerogoti tikus kecil di terowongan mana nyalimu sang kapiten? yang rendah dihantam yang tinggi kau gentar! aku deretan sikecil di gedung tua saudara dari sikerdil yang kau sandera bukanku mengutuk tuan bukan pula tak ikut aturan tapi hanya sekedar mengingatkan…
-

Mengenal Simulfiks sebagai Imbuhan Nonstandar
Kata dalam bahasa Indonesia tidak hanya terdiri atas kata dasar, tetapi juga kata berimbuhan atau kata berafiks. Imbuhan atau afiks terbagi lagi atas beberapa afiks, seperti prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan simulfiks (imbuhan nonstandar). Simulfiks akan menjadi bahasan pada klinik bahasa Scientia.id minggu ini. Simulfiks merupakan afiks yang tidak digunakan dalam bahasa Indonesia…
-
Puisi-puisi Yogi Resya Pratama
Tertipu Di perempatan pusat kota malam itu Kau tahan malu, menjajakan lesu Meraut irisan sembilu di atas tumpukan batu-batu Nantikan haru sang supir bukakan pintu Cahaya merah meringkus sangar tatapanmu Angankan kepingan seribu-seribu Tak sadar kau telah ditipu Riasan indah, kelap-kerlip warna lampu Di perempatan pusat kota malam itu Kau genggam tangis, demi buah hatimu Ibu…
-

Cerpen “Prasangka Keliru” Karya Masaput dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka
Prasangka Keliru Cerpen: Masaput Terkadang, di balik sikap riang seseorang, kita tidak tahu masalah apa yang sedang ia pendam. Begitu pun pada seseorang yang menampakkan isi hatinya. Dari tampilannya yang menyeramkan, apakah ada secercah sinar kebaikan tersimpan rapat di lubuk hatinya. *** Pagi yang menggetar, mata yang sayu telah melebar. Selimut masih mengambang di atas kasur membadung setengah…