Kategori: Literasi
-

Puisi-Puisi Liza Warni dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Puisi-puisi Liza Warni Aku Bukan Aku Lagi Tersesat di antara paradise-paradise fana dunia Lalai akan sinarnya yang tak disangka membutakan jiwa, aku bukan aku lagi Bagai seorang pengelana yang dimabuk harumnya pengembaraan Lupa diri hingga kutak sadar lagi, bekal habis di tengah perjalanan, aku bukan aku lagi Menyusuri malam panjang tanpa ujung Untuk memungut kembali…
-

Puisi-puisi Diego Alpadani
Berbahasa Memperkaukan dalam mempercobakan telah kuganti dengan proses setelah kekesalan membentuk memperkaukan pada pergantian Dengan sangat, aku mencoba agar diperkau bukan Kesalahan dalam kebarbaran berbahasa. Selama ini dan sesingkat kau terdiri dari tiga bunyi yang tak bermakna gramatikal sebelumnya. Begini diperkau begitu memperkaukan. Aku megap-megap mencari obat formula mempercobakan dalam memperkaukan atau diperkau. Berterima namun…
-

Cerpen Karya Najla Anissa Fatin “Bansi Pak Kaharuddin” dan Ulasannya oleh M. Adioska
Bansi Pak Kaharuddin Cerpen Oleh: Najla Anissa Fatin Baru-baru ini, Pak Kaharuddin mendadak sangat terkenal di dunia maya, karena keberadaannya menyaingi berita persiapan piala dunia. Pak Kaharuddin menjadi tranding topic di twitter, dan menjadi buah bibir paling hot di facebook. Pak Kaharuddin sebenarnya adalah seorang pengamen yang saban hari berdiri di depan sebuah pusat perbelanjaan…
-
Menyapa dan Menyebut, Apakah Sama?
Berbicara tentang menyapa dan menyebut, apakah kedua bentuk ini sama? Secara lingual, jelas ada perbedaan. Dalam linguistik, menyapa merujuk kepada orang kedua dan dapat menggunakan bentuk Anda, Saudara, Bapak, atau Ibu dalam komunikasi secara langsung, baik lisan maupun tertulis; sedangkan menyebut merujuk kepada orang ketiga dan dapat menggunakan bentuk dia atau mereka. Namun, seringkali kita keliru dalam…
-

Puisi-puisi Apriwanto
Purnama di Matamu Melukis indah wajahmu Mentari bersinar pagi hari Berakhir sudah sayembara rasa Terhempas keras gelombang pasang Memantul keras karang di lautan Terusir dalam sebingkai harapan Memegang erat kilauan batas Mengepal dalam gelombang pasang Matamu bias akan harapan Raga terdampar dalam jeruji besi Terusik perihal waktu Harapan hanya sebatas kilauan Padang XI Punggasan, 27…
-

Dilema Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
Ada banyak definisi tentang bahasa dari para linguis, di antaranya bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran, media atau pesan yang disampaikan untuk berkomunikasi, sesuatu yang bersifat konvensional, dan sebagainya. Pada umumnya, bahasa dinyatakan sebagai lambang. Jika bahasa adalah lambang, pembentukan dan penggunaannya tidak terlepas dari kesepakatan masyarakat yang kemudian dikenal dengan istilah konvensional. Para pemakai…
-

Puisi-puisi Afriyanti Imam Al Amir dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye
Igau Perempuan Gaza Negeriku kian berdarah tanahku tak kuat lagi menahan pilu menyaksikan mereka yang asyik dengan tumpukan asap jahanam itu mereka bangga, Bunda tapi ragaku menangisi mereka airku menyesali mereka berhari-hari kukumpulkan garis demi garis untuk membentuk satu lukisan tentang generasiku namun kanvas terlalu suram, Bunda berbungkus kafan putih bernama Gaza aku ingin bercerita banyak,…
-

Berdamai dengan Wabah, Berdamai dengan Istilah Narasi Besar Covid-19
Covid-19 mengingatkan tentang konsep narasi besar (grand narrative) dari Jean Francois Lyotard, seorang filsuf pencetus teori Postmodernisme yang menyatakan bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang benar-benar total dan abadi dengan kebenaran dan keberadaannya, yang suatu saat akan runtuh. Wacana runtuhnya narasi besar (grand narrative) adalah wacana pemikiran filsafat postmodern yang menyatakan bahwa narasi pengetahuan ilmiah yang…
-

Cerpen “Tuah Pusaka Tinggi” Karya Yulfia Afaz dan Ulasannya Oleh Azwar Sutan Malaka
Tuah Pusaka Tinggi Cerpen: Yulfia Afaz Lelaki itu mematung tepat di depan Halimah. Tatapan matanya penuh iba seakan mengharap belas kasihan. Halimah merasa di alam mimpi. Beberapa kali ia mencubit pergelangan tangan dan merasakan sakit. Itu artinya ia tidak sedang berhalusinasi. “Benar ini alamatnya Bu?” tanya salah seorang pria yang memapah lelaki itu. Beberapa menit…
-

Puisi-puisi Hutami Febrianti
Ribang Sua Ada temu yang ingin diulang Harap kau bisa kembali pulang Bersama kisah-kisah usang Yang telah lama terbentang Lihatlah kursi klasik itu Kita pernah duduk bersama Menyemai masa depan berdua Menjamah segala tentang cita Lihatlah pepohonan rindang Di sana kita pernah berbincang Menuai mimpi yang kian hilang Menjadikan kisah kita bersambung Bak merpati yang…