Kategori: Puisi

  • Puisi-puisi Mahareta Iqbal Jamal

    Puisi-puisi Mahareta Iqbal Jamal

    Eri 1 “Pada pukul berapa film selanjutnya akan diputarkan?” Seorang lelaki tua dengan penglihatan meremang bertanya pada penjaga karcis dengan nada pelan. Tanya tak bertemu jawab. Ia berjalan dengan topangan tongkat kayu ke satu sisi luar bioskop itu. Pelan sekali. Reklame film memburam, tak jelas film akan diputar pukul berapa. Suara azan berkumandang mengusir anak-anak…

  • Puisi-puisi Reno Wulan Sari

    Puisi-puisi Reno Wulan Sari

    Anak Kertas dalam sebuah persalinan yang begitu hebat dan matang ia memilin kertas hingga pipih, seperti pipinya yang melesut urat nadi lehernya mengeras hingga tengah malam pada saat mata orang-orang terpejam, ia terjaga untuk mengerami bola-bola origaminya dalam kehangatan tubuh yang jujur malam pun menyerahkan diri di ujung jarinya tak berkutik, pada proses persalinan yang…

  • Puisi-puisi Roma Kyo Kae Saniro

    Puisi-puisi Roma Kyo Kae Saniro

    Enam Kupetik enam tangkai bunga di tanah melankolis sendu Kelopaknya yang anggun, kulihat batangnya gatal berbulu Seperti kau, dulu harap sekarang luluh Nyatanya, sudah enam tahun berlalu Ketidakpastian atas segala sesuatu Mekar subur antara kini dan masa lalu Enam tidak cukup tuk menjawab pandangan sentimental Atau harap yang sudah dirunut hingga tetiba batal Enam pun…

  • Puisi-puisi Riza Mika Wijaya

    Puisi-puisi Riza Mika Wijaya

    Kasih Sayang Ibu Maafkan ibu, Nak Ibu terlalu cepat mengajarkanmu segala hal Mengajarkanmu tentang berartinya shalat Tentang pentingnya pendidikan Bahkan pekerjaan rumah pun sudah ibu ajarkan Kelak jika kau dewasa Tidak ada rasa canggung lagi dalam dirimu Kau sudah terbiasa bangun di waktu subuh Bahkan pekerjaan rumah pun sudah terbiasa kau lakukan Terima kasih ibu ucapkan karena selalu patuh…

  • Puisi-puisi Ria Febrina

    Puisi-puisi Ria Febrina

    Parsel Lebaran Di kantorku ada parcel lebaran dikemas dengan pita kepura-puraan isinya ya sembako, minyak goreng, teh, dan gula tapi tahukah kamu, ujung atas plastiknya sudah bocor dari sana berlembar kertas merah sudah dibagi sama rata eh, beda sedikit, antara ketua dan yang di bawah dari pucuk ke bawah, tak akan ada yang mengira bawahan kan sudah…

  • Puisi-puisi Reno Wulan Sari

    Puisi-puisi Reno Wulan Sari

    Menuju Kutub Kusebut kau bumi, Kasihku. Mengenal ombak lautmu yang pasang dan surut Ketika bercengkerama dengan para nelayan Untuk membaca pesan dari bongkahan awan sehabis senja Aku berteman dengan mereka Ketika kami sama-sama memandang laut lepas, menafsirkanmu Bagi mereka, kau keberkahan Namun bagiku, kau tempat bersemayam Kusebut kau bumi, Cintaku Menapaki telaga dan hutan lindungmu…

  • Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

    Ingatan yang Samar-Samar Aku terbangun di atas kasur setiaku Tempat aku bebas menggerutu Melampiaskan kerandoman yang tak kunjung usai Kulihat embun tak lagi tampak di pelupuk mata Ia meninggalkan jejak di dalam lamunanku Mentari yang sangar pun sangat menjengkelkan Memaksaku menghentikan seruan angin yang datangkan Membawa bualan mesra Merenggut episode permulaan skenario Mengapungkan asa, membenamkan…

  • Puisi-puisi Ria Febrina

    Puisi-puisi Ria Febrina

    Si Makin Kundang Ini cerita Si Makin Kundang dari lembah hendak ke bukit dari kampung hendak ke kota dari sini hendak ke sana membawa humor menanyai orang-orang yang sedang santai di sebuah kafe atau sebuah lepau sejenak singgah jua di pematang ratapan “Buah apa yang durhaka?” katanya melempar teka-teki. Orang-orang larak-lirik mengulum senyum. “Bukan buah itu,”…

  • Puisi-puisi Indah Wulandari Pulungan

    Puisi-puisi Indah Wulandari Pulungan

    Mengkaji Kemustajaban Lama sudah kita berbaring di pelupuk kekufuran Berdendang berbuai-buai dalam dekapan nikmat duniawi Meringik lara di ambung ciptaan-Nya yang tak kekal Sedang Ia terlupakan di setiap sujud yang tak sampai Malam ini sekar sajadah menunggumu di malam pengampunan Menagih iman yang sempat terguncang keramahan dunia Sedang engkau lupa pemilik dari segalanya Gelojoh akan…

  • Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

    Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

    Robinhood Suci Maksimal Pagi-pagi buta bau kretek dan embun Gerombolan laki-laki muda baru merebahkan diri ke lantai keramik setelah semalaman bergunjing tentang Marx dan Lenin Nietzche dan Pablo Escobar Tak lain, mereka bercita-cita hendak jadi Robinhood Gemar pesta dengan penguasa sekaligus merampok hartanya Setelah itu, bersuci seratus kali agar tampak suci maksimal Purwokerto, 26 Maret…