Kategori: Puisi

  • Puisi-puisi Hutami Febrianti

    Puisi-puisi Hutami Febrianti

    Rindu Negeri yang Permai Semesta bergemuruh Segala aktivitas lumpuh Ekonomi dan pendidikan mulai rapuh Bahkan, kepercayaan terhadap Tuhan pun hampir runtuh Gundah gulana menari di hati Ketakutan mulai menyelimuti Tak ada satu pun yang peduli Semua memikirkan diri sendiri Negeriku berduka Isak tangis di mana-mana Menelan banyak korban jiwa Menghadirkan luka lara Doa-doa dipanjatkan Menanti…

  • Puisi-puisi Julian Makhmudasa

    Puisi-puisi Julian Makhmudasa

    Kepada yang Esa dalam pertemuan ini, ingin kusampaikan bahwa segala yang tunduk pada senja ialah jingga yang melilit tubuhku dan segumpal cahaya terpenjara di dalamnya saat berkata tentang pelik yang bergumul bertandang bagai hidangan semerawut tak ada lagi nisbi yang meranggas pada tubuh yang kian sesak bernapas melodi-melodi aneh menjelma alunan kekusutan angin bertiup mengantarkan…

  • Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

    Malang Aku terpaut di sini Dijebak gelisah keramaian Aku berlari menyongsong angin Harapkan hembusan segar di tepi sunyi Entah apa yang kupuja Tetap bertahan nikmati tarian badai salju Hingga kerlip bintang pun tak sedikit tampak cahaya Menerka-nerka indahnya senja Aku bertanya pada gelombang surut pulang Tentang hempasan kuat tak bisa menerjang Arusnya berlari membentuk tepian…

  • Puisi-puisi Diego Alpadani

    Puisi-puisi Diego Alpadani

    Menampar Purnama Biarkan aku menampar purnama karena rindu adalah bentuk paling asing dalam kehidupan yang kapitalis ini. Sedang rintik hujan adalah kebengongan bahasa yang diper- malukan! Bagai emak-emak lampu sen kanan belok ke kiri. Apakah ini rahasia semesta dalam mempertelekan ideologi? Tangan ini sudah lama gatal hendak menampar purnama. Melepas rindu dengan membelai sangat konvensional,…

  • Puisi-puisi Mhd. Irfan

    Puisi-puisi Mhd. Irfan

    Urat-Urat Cina pada sebuah pengaduan atas nama pengabdian ia membawa pedang dari zaman nabi yang dikaitkan di pinggang serta atribut lengkap seperti telah siap untuk berperang memerangi diri sendiri dengan ketaksaan berkelindan pada sintal kepala memintal urat-urat Cina dengan tubuh bungkam ia berjalan menuju utopia tempat rahmat cinta bersemi di dada kecintaan kepala-kepala manusia tak…

  • Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

    Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

    Pulang Padamu Padamu Alif, aku pamit Saat selat menjadi sempit Hanya biru sejauh pandang Tak putus-putus Aku tercepuk-cepuk di atasnya Hujan harusnya datang Oktober nanti Tapi mataku sudah basah begini Alif, lain waktu ‘kan kutulis surat buatmu Tentang awan sisik Januari Mengapung di atasku yang pedih tak terperi Juga tentang bunga-bunga bakung ungu Mereka buang…

  • Puisi-puisi Mhd. Irfan

    Puisi-puisi Mhd. Irfan

    Bus Melaju dengan Cepat Bus melaju dengan cepat kita melihat hamparan tanah merah dan bekas tambang emas yang merana bagai habis manis tinggal sepah ditinggalkan begitu saja tak ada kesuburan yang tersisa bagi tanaman Bongkahan tanah yang bila kemarau retak demi retak menjalar ke segala yang terhampar kerontang hingga bila ditiup angin dan kita di…

  • Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

    Nyanyian Air Asin Sepagi itu apa yang kau tunggu? Tanya tegas hempasan laut Tidak ada kerjaan lain saja Tawanya di ayunan riak Lihat aku dong, Tertawa lepas hanyutkan gelombang Kugulung-gulung, kuhempaskan Tetap saja, sedih itu teman setiaku Kau harus tahu Aku di sini melihatmu seorang diri Lamunkan kebahagiaan yang tak akan kau jumpa lagi Sudahlah,…

  • Puisi-puisi DP Dinata

    Puisi-puisi DP Dinata

    Sianok Bicaralah, Dubalang Dinginnya ngarai harusnya tak membuatmu bungkam Atau kau perlu seteguk lagi kopi itu? Bicaralah Tadi kau gagah sekali Bersafari putih, tegap dipajang Kenapa bungkam? Atau kau perlu seteguk lagi kopi itu? Tak kutanya kau di depan jam gadang Karena singgasanamu tinggi menjulang Di sini Dubalang Di Sianok, nan tingginya mungkin sepadan Kenapa…

  • Puisi-puisi Rizky Amelya Furqan

    Puisi-puisi Rizky Amelya Furqan

    Berkubang   Ya, satu hal yang ku tau saat ini. Kau hanyalah bayang yang harusnya kupejam dari dulu. Hanya saja, aku yang mengangan lebih. Hanya saja, aku yang duduk terlalu ke pucuk. Aku tak pernah sadar kalau pucuk juga yang sering dipatahkan Lalu, bukankah dengan rintik yang hadir Pada setiap sorenya Akulah yang akan mendingin…