Cerpen “20 Cm Menuju Haram” Karya Silvianti dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

20 Cm Menuju Haram

Cerpen: Silvianti

“Bu, sudah larut, ibu istirahatlah dulu,” Aku membujuk ibu yang masih asyik menenun. Songket berwarna merah hati dengan benang emas yang ibu tenun sejak sepekan yang lalu baru siap sepertiga.

“Ibu belum mengantuk, lagi pula target ibu selama dua hari ini belum tercapai. Kemarin ibu hanya bisa menenun sebanyak 12 cm, hari ini baru 14 cm, sekurang-kurangnya hari ini 20 cm,” ibu bersikukuh melanjutkan menenun. Lagi pula ini baru jam sebelas.

Aku pasrah. Kalau sudah begini tak ada yang bisa mengalahkan keinginan ibu.

“Ya sudah, tapi kalau bisa jangan sampai lewat tengah malam. Ingat kesehatan ibu. Tenaga ibu tentu tidak sekuat dulu. Kalau ibu sakit malah jadi tidak bisa menenum selama sepekan. Lebih besar ruginya, kan.”

Ibu diam saja. Kulihat ibu sedang mengulas beberapa helai benang yang putus dari ikatannya.

“Makin lama kualitas benang ini makin kurang bagus saja. Dulu, waktu awal-awal ibu menenun hanya benang warna hitam yang sering putus. Sekarang, semua warna sama saja, sama-sama mudah putus. Tabiat orang kita, ya begitulah. Kalau dagangan sudah laku, kualitas makin berkurang, ukuran makin kecil.”

Kutinggalkan saja ibu bersungut-sungut sendiri. Malam telah terlalu larut. Tak baik juga kalau aku masih keluyuran kendati ke rumah orang tua sendiri. Kasihan jagoan-jagoanku yang kutinggal tidur. Aku memang tidak lagi tinggal serumah dengan ibu. Sejak menikah kami memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua. Meski penghasilan sebagai guru honor di sebuah madrasah swasta tidak seberapa, tapi aku tak ingin menambah beban ayah dan ibu.

Sesampainya di rumah, aku tak langsung tidur. Ada beberapa tugas sekolah yang mesti kuselesaikan malam ini. Untungnya sang imam tak pernah melarangku untuk melanjutkan tugas-tugas sekolah yang terbengkalai ketika sudah berada di rumah. Jadi, aku bisa tenang bekerja meski harus mengorbankan sedikit waktu istirahatku.

Jarum jam menunjukkan pukul 00.48. Syaraf-syaraf di punggungku terasa mati rasa, tengkuk rasanya kaku. Tugas-tugas yang kubuat untunglah tinggal cetak saja. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan besok di sekolah. Syaraf-syaraf di sekujur tubuhku seperti kompak memberi komando ke otak besar supaya mataku mengantuk.

***

“Bunda, nenek tadi nangis, mama juga nangis,” berondong sulungku ketika aku baru saja sampai di rumah. Mama adalah pangggilan anak-anakku untuk adikku yang nomor dua.

“Kenapa nenek nangis, Nak?” Tanyaku sambil melepaskan jaket lalu menggantungnya di gantungan kain di belakang pintu kamar.

“Tadi siang Aina jatuh dari sepeda, trus keningnya berdarah, lalu dibawa Atuk ke puskesmas. Kata nenek, kening Aina dijahit.”

“Iya, Bun. Kata Mama jahitannya banyak.”

“Jadi mama sudah pulang?”

“Sudah, Bun. Tadi waktu pulang, mama marah-marah ke nenek. Lalu mama masuk kamarnya sambil gendong Aina. Trus pintu kamarnya dibanting keras-keras, Bun. Aku sama abang sampai terperanjat. Nenek juga,” kata si bungsu.

“Trus nenek sekarang di mana?”

“Menenun, Bun. Bunda lihat nenek, ya. Kasihan nenek tadi nangisnya lama.”

“Ya, sudah. Bunda ke rumah nenek, ya. Eh, sampai lupa. Tadi Bunda beli komik Al Fatih vs Dracule edisi 2 sama edisi 3. Abang sama adek baca, ya,” kataku sambil menyodorkan dua buah komik dengan kover warna merah hati, bergambar seorang kesatria sedang melompat sambil mengayunkan sebilah pedang panjang.

“Ehmm, baca bukunya besok saja ya, Bun. Kita pinjam Hp Bunda saja, boleh…….” kata si bungsu dengan mimik wajah yang sungguh membuatku tak kuasa mengatakan tidak.

“Boleh, …”

“Yeeeee……”

“Eits, tapi ada syaratnya, cuma setengah jam, tidak boleh lebih, trus berdua sama abang,” kataku.

“Oke, Bunda……”

***

“Ibu sudah tua, sebetulnya ibu sudah tak kuat lagi kalau harus menjaga Aina.” Kulihat mata ibu masih sembab.

Aina, keponakanku yang baru berumur empat tahun. Aku tak heran kalau ibu kewalahan. Kata dokter Aina menderita hiperaktif akibat sejak kecil sering terpapar radiasi android kedua orang tuanya yang sehari-hari bekerja di sebuah bank swasta konvensional. Lelah letih selepas bekerja menjadi alasan kuat mereka membiarkan Aina kecil bermain game di android mereka. Parahnya, Aina hanya bisa tidur kalau sudah lelah bermain game.

“Kalau ibu sudah tidak kuat, Ibu tidak usah menjaga Aina. Kalau Ibu tidak berani bicara ke Fitri, biar aku yang sampaikan.”

“Trus, kalau bukan ibu yang menjaga Aina, siapa lagi?”

“Aina itu tanggung jawab orang tuanya, bukan tangggung jawab ibu. kalau ibu tidak bisa, mamanya Aina kan bisa berhenti bekerja. Papanya kan sudah ada kerjaan tetap,” kataku meyakikan Ibu.

“Kalau Fitri berhenti bekerja, sayang kan ijazahnya cuma disimpan di lemari saja. Dulu susah payah ibu menguliahkan kalian supaya kalian ada pekerjaan tetap, jadi pegawai, jadi orang kantor. Tidak jadi orang susah seperti ibu dan ayah, yang kalau tidak bekerja tidak ada uang, tidak ada yang akan dimakan. Cukuplah kami saja yang merasakan pedihnya jadi orang susah. Kalian tidak boleh susah,” kata ibu menghapus bulir-bulir bening yang tak berhenti mengalir dari kedua mata cekungnya.

“Kalau begitu ibu cukup menjaga Aina saja tidak usah lagi ke sawah dan menenun.”

“Mana bisa begitu. Kalau ibu tidak bertanam padi, apa yang akan dimakan. Sejak ayahmu menderita stroke, cuma ibu yang memikirkan belanja rumah tangga. Mulai dari beras yang akan ditanak sampai lauk yang akan dimakan. Kalau gas habis, ibu juga yang harus mencari kayu bakar. Kalau ibu tidak bertanam padi ibu juga yang harus mencari uang untuk membeli beras.”

“Kalau begitu ibu tak usah menenun lagi, jadi kalau malam ibu bisa istirahat. Banyak kegiatan bisa buat ibu stres, banyak pikiran. Kalau banyak pikiran, asam lambung ibu bisa naik, biasanya kalau asam lambung ibu tinggi, darah tinggi ibu juga kumat, kalau sudah begitu ibu jadi tidak bisa apa-apa. Tidak bisa ke sawah, tidak bisa menenun, tidak bisa masak, tidak bisa jaga Aina juga. Kalau ibu tidak bisa jaga Aina, mama atau papanya akan libur bergantian, biasanya kalau sudah begitu, Fitri suka uring-uringan, suka marah-marah tak menentu, ibu juga jadi serba salah kan…” uraiku panjang lebar.

Semenjak bekerja, Fitri lebih sering melawan pada ibu, lebih sering marah-marah tak menentu. Dulu ketika masih kuliah, Fitrilah yang paling perhatian ke ibu, paling suka bermanja-manja kalau pulang kuliah. Fitri juga jadi kesayangan ibu sejak dulu, meskipun dia bukan anak bungsu. Namun, semua berubah 360 derajat semenjak Fitri bekerja.

***

Dua pekan berlalu semenjak perselisihan ibu dan Fitri. Selama itu pula, ibu tetap masih menjaga Aina. Masih pergi ke sawah setelah Subuh sampai pukul tujuh pagi, lalu kembali lagi ke sawah setelah Ashar sampai sebelum Maghrib. Setelah Maghrib, ibu mengaji sebentar, kemudian memasak sayur atau gulai untuk makan malam. Setelah Isya, ibu menenun sampai larut malam. Kadang-kadang, kalau tidak sempat menenum setelah Isya, ibu akan bangun dinihari. Setelah tahajud, ibu akan menenun sampai sebelum Subuh. Begitulah, senantiasa ibu saban hari.

Namun, semua itu seolah bukan sesuatu yang luar biasa bagi Fitri. Sedikitpun tak terbersit di hatinya menaruh simpati atau perhatian pada ibu. Menanyakan kabar pun tak pernah dilakukannya. Pernah suatu ketika, ibu demam tinggi sepanjang malam karena asam lambungnya naik. Semalaman ibu menahan perih yang menyesak ke dada, menahan dingin yang menjalar dari sumsum tulangnya. Paginya ibu beringsut keluar kamar, mengatakan kalau hari itu dia tidak bisa menjaga Aina karena badannya masih lemah.

“Kenapa ibu baru bilang kalau ibu tidak bisa menjaga Aina. Kalau dari tadi kan aku bisa kirim surat izin ke kantor,” bentak Fitri yang sudah  siap untuk berangkat. Sambil menggerutu tidak jelas, Fitri membuka helmnya, meletakkannya di lantai dengan kasar, menimbulkan bunyi yang meluluhlantakkan hati ibu, meremukredamkan jiwanya.

“Ya Allah… Ampuni hamba ya Rabb, ampuni  hamba karena belum bisa menjadi ibu yang baik, ampuni hamba lantaran belum mampu mendidik anak hamba menjadi anak yang santun, bimbinglah dia, tunjukilah dia jalan yang baik, ya Rabb ” pinta ibu dengan air mata berlinang.

***

“Maafkan kelakuanku tempo hari, ya Bu,” ujar Fitri sambil bersujud di kaki Ibu. Air matanya tumpah membasahi jemari kaki ibu.

Ibu mengusap lembut kepala Fitri. Keduanya sama-sama terisak. Fitri menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan hangat ibu. Terakhir kali Fitri memeluk ibu adalah ketika hari pernikahannya. Itu artinya sudah lima tahun lebih.

“Mulai Senin besok, ibu tak perlu lagi menjaga Aina. Permohonanku untuk mundur dikabulkan pimpinan.”

“Kenapa berhenti, Nak. Sayang kan ijazahmu tidak terpakai. Susah mencari pekerjaan tetap zaman sekarang. Ibu masih kuat kalau harus menjaga Aina. Kamu kecewa pada ibu, karena sudah tidak kuat menjaga Aina?”

“Sama sekali bukan begitu, Bu. Mungkin akan lebih berkah kalau aku menekuni usaha jual beli songket. Selama ini aku fokus untuk berjualan terbagi dengan tanggung jawabku di kantor. Mudah-mudahan Allah meridhoi usahaku kali ini.”

***

Sujud terakhir ibu di Subuh kali ini terasa panjang sekali. Bulir-bulir hangat yang menetes di sajadah ibu turut meng-aamiin-kan untaian doanya.  Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Terima kasih ya Rahiim. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menyelesaikan 20 cm tenunan tiap hari. Ibu mengusap wajahnya yang berlinangan air mata. Air mata bahagia, bahagia karena jalannya menuju Haram, menuju Baitullah semakin nyata. Labbaik Allaahuma Labbaik…. (*)

Biodata Penulis:

Silvianti lahir di Halaban, 13 Juni 1980. Penulis alumni Sastra Indonesia Universitas Andalas dan guru MTsN 4 Lima Puluh Kota dan MTsS Halaban Kab. Lima Puluh Kota. Ia pernah Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Tk. Kab. Lima Puluh Kota Tahun 2013, Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2014 dan 2015, Juara 2 Lomba Penulisan Sejarah Kemenag Kab. Lima Puluh Kota Tahun 2015, Juara 1 Lomba PTK Tk. Kab. Lima Puluh Kota Tahun 2017. Artikelnya pernah dua kali dimuat di Jurnal PAB  Sumatera Barat tahun 2014 dan 2015.


 

Moral dalam Karya Fiksi

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Pengurus FLP Sumbar dan Dosen Universitas
Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta)

Beberapa waktu belakangan ini, saya berkesempatan membaca karya-karya fiksi dari teman-teman penulis yang memiliki latar belakang sebagai seorang guru. Ada benang merah menarik dari membaca karya-karya teman guru ini. Hampir semua karya yang saya baca itu memiliki pesan moral yang kuat, baik itu cerpen-cerpen atau puisi-puisi yang mereka tulis.

Menyadari fenomena tersebut, saya maklum bahwa latar belakang teman-teman penulis yang merupakan seorang guru ini memengaruhi karya mereka. Guru yang hampir setiap hari dalam kehidupan mereka mendidik dan mengajar anak-anak bangsa ini, tentu saja sangat peduli dengan moral anak-anak bangsa ini. Oleh sebab itu, ketika menulis karya fiksi, baik itu cerpen ataupun puisi, bahkan mungkin kalau mereka menulis novel, pesan moral ini tidak bisa mereka lepaskan dari karya-karya mereka.

Barangkali, banyak orang yang berpendapat bahwa karya fiksi tidak perlu dibebani dengan berbagai pesan moral karena fiksi bukan kotbah agama atau petuah-petuah tentang adab dan lain sebagainya. Menurut saya, tentang pesan moral dalam sebuah karya fiksi sah-sah saja, dengan catatan sang penulis harus pintar menyampaikan dalam karyanya.

Tentang moral dalam karya sastra, terlepas dari berbagai perdebatannya, kadang pesan moral itu disampaikan penulis tidak dengan maksud menggurui pembacanya atau menceramahi penikmat karya sastra. Akan tetapi, karena nilai-nilai moral itu sudah terintegrasi dalam dirinya. Sang penulis fiksi yang baik yang sehari-hari menularkan dan mengajarkan kebaikan pada banyak orang, tanpa disadari ketika menulis fiksi akan memasukkan nilai-nilai yang dianutnya  ke dalam karya.

Saya berada dalam posisi membela teman-teman penulis yang berpendirian seperti ini. Tidak perlu juga menghujat penulis-penulis yang menyisipkan nilai-nilai moral dalam karyanya dengan alasan  tindakan tersebut membebani karya sastra dengan ideologi atau nilai yang dianut pengarangnya. Teman-teman penulis ini sah-sah juga jika berpendapat karya sastra adalah media untuk memperbaiki moral pembaca, atau karya sastra adalah media untuk mewariskan nilai-nilai bangsa.

Kreatika edisi minggu ini memilih sebuah cerpen karya Silvianti, seorang guru di Kabupaten 50 Kota yang baru bergabung dengan FLP Sumatera Barat. Silvianti memberi judul cerpennya dengan “20 CM Menuju Haram”. Dari judul cerpennya, sudah terlihat bahwa cerita ini berkisah tentang keinginan seorang tokoh untuk pergi ke Baitullah, baik untuk naik haji ataupun umrah.

Walaupun tidak sepenuhnya bercerita tentang seorang ibu yang setiap malam menenun sepanjang 20 CM untuk menabung sebagai ongkos untuk ke Baitullah, cerita Silvianti ini bercabang dengan kisah lain yang terkait, yaitu aktivitas sang ibu mengasuh cucunya karena anak dan menantunya bekerja sebagai pegawai di sebuah Bank Nasional. Di sinilah, penulis membangun konflik cerita yang sarat moral. Penulis menganggap bahwa tidak pantas lagi seorang ibu mengasuh cucunya walaupun Sang Ibu sangat mencintai anak dan cucunya.

“Ibu sudah tua, sebetulnya ibu sudah tak kuat lagi kalau harus menjaga Aina.” (Silvianti, 2021).

Begitulah penulis menyampaikan pesan moralnya tentang ibu yang harus mengasuh cucunya. Penulis melanjutkan:

“Aina itu tanggung jawab orang tuanya, bukan tangggung jawab ibu. kalau ibu tidak bisa, mamanya Aina kan bisa berhenti bekerja. Papanya kan sudah ada kerjaan tetap,” (Silvianti, 2021).

Hal tersebut kutipan singkat tentang standpoint pengarang akan moral (etika) seorang anak terhadap ibunya. Hal ini mungkin menjadi menarik karena banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini. Banyak orang tua berkarier dan bekerja kemudian menitipkan anak pada ibu mereka. Inilah keberanian penulis menyampaikan pesan moral tersebut. Mungkin yang dialami langsung oleh orang-orang yang dikenalnya atau orang-orang dekatnya.

Bicara tentang moral dalam karya sastra,  Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi yang diterbitkan Gajah Mada University Press, Yogyakarta pada tahun  2012 menyampaikan bahwa moral dalam karya sastra merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya yang merupakan makna yang terkandung dalam cerita. Selain itu, moral merupakan cerminan pandangan hidup pengarang. Sikap dan tingkah laku tokoh dalam cerita merupakan pandangan mengenai moral yang diterapkan oleh pengarang. Moral dalam cerita merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun dalam pergaulan.

Lebih jauh, Nurgiyantoro menyampaikan istilah “bermoral”mempunyai pertimbangan baik dan buruk yang bersifat relatif. Pandangan seseorang tentang moral, nilai-nilai, dan kecenderungankecenderungan, biasanya dipengaruhi oleh pandangan hidup, way of life, bangsanya. Pesan moral dalam sastra lebih memberat pada sifat kodrati manusia yang hakiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan, dan dihakimi manusia. Bahkan, adakalanya ia tampak seperti  bertentangan dengan ajaran agama. Jika dalam cerita terdapat sikap tokoh yang kurang terpuji, bukan berarti bahwa pengarang menyarankan untuk bersikap seperti itu, akan tetapi diharapkan agar pembaca tidak mengikuti sikap tersebut dan mengambil hikmahnya.

Selain itu, Burhanudin Salam dalam buku Etika Individual: Pola Dasar Filsafat Moral yang diterbitkan PT. Rineka Cipta tahun 2000 menyampaikan bahwa moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan, memuat ajaran tentang baik buruknya perbuatan. Perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Salam juga mengungkapkan bahwa moral langsung mempunyai hubungan dengan perbuatan manusia sehari-hari, mempunyai hubungan langsung bagaimana manusia harus berbuat dalam kehidupannya sehari-hari.

Kembali ke Cerpen “20 Cm Menuju Haram” karya Silvianti, secara umum cerpen ini menarik, ditulis dengan bahasa yang menarik juga, dengan tidak menyisakan kesalahan-kesalahan dalam ejaan dan tata bahasa kepenulisan. Hal ini dapat dimaklumi karena penulisnya adalah seorang guru bahasa Indonesia yang bisa menjadi contoh untuk siswa-siswanya dalam menulis. Selain menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis cerita, penulis juga sudah berhasil menyampaikan pesan moral dalam cerita tanpa terkesan menggurui. Pesan moral itu disampaikan dengan baik, bahkan menyentuh sisi kemanusiaan setiap anak manusia yang membacanya.

Ke depan, semoga penulis semakin produktif menghasilkan karya-karya yang baik dan sekaligus karya-karya yang memiliki nilai-nilai moral. Selamat kepada Silvianti yang sudah menulis cerpen ini.(*)

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *