Motor Tua Bapak

Cerpen: Fatma Hayati
Di tengah gelapnya malam, Bapak tak patah semangat mendorong motor bututnya yang pecah ban belakang. Tidak sekali dua kali motor tahun 90-an itu berulah saat bersama bapak. Kadang tanpa sebab dia mogok tiba-tiba dan kadang karena spare part–nya yang sudah harus diganti namun bapak tak kunjung punya uang yang cukup untuk menggantinya. Alhasil, ia mogok lagi-mogok lagi.
Malam ini begitu gelap. Jarum jam yang melingkar di tangan bapak hampir menunjukkan jam 10.30 malam. Suasana malam di kampung tentu jauh berbeda dengan malam di ibu kota. Di desa kami yang sangat jauh dari pusat kota, malam-malamnya sunyi. Biasanya, habis Isya orang-orang sudah tidak keluar rumah. Lampu-lampu rumah penduduk hanya terlihat remang karena mereka sudah berangkat tidur merebahkan badan di kasur kapas setelah lelah bekerja seharian.
Kondisi yang sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan ibu kota, tak ada lampu jalan yang memancarkan dispersi warna, tak juga ada bunyi klakson mobil yang terdengar dengan frekuensi bunyi tanpa nada, dan juga tak ada cuitan manusia malam yang selalu bikin gaduh gendang telinga. Malamnya tenang seperti tenangnya bocah yang tengah tertidur lelap di pangkuan ibunya.
Dalam keheningan itu, bapak tetap semangat mendorong motornya. Sesekali, kulihat ia menyeka keringat yang deras di dahi. Aku yang waktu itu baru memasuki usia abege, merasa sedikit ketakutan. Kesunyian malam yang pekat membuat bulu romaku berdiri sempurna. Dalam hati, aku merutuki motor tua itu. Aku kesal dan sakit hati. Kenapa di malam yang pekat ini pulalah ia harus pecah ban dan kenapa besi tua ini tak pernah lelah membuat bapak sengsara, sepertinya ia mempunyai rumus turunan yang banyak untuk menguji kesabaran bapak sehingga ia mogok lagi – mogok lagi.
Lelaki 50 tahunan itu seperti mengerti gerutu hatiku malam itu. Lelaki bijaksana itu memahami kegalauan hatiku. Ia menyemburatkan senyum yang hampir tak terlihat olehku karena senyumnya adu-beradu dengan pekatnya malam. Tapi aku yakin, di tengah lelahnya mendorong, ia masih menguatkanku dengan senyumnya itu.
“Ril, kamu berjalan duluan di depan bapak. Nanti tak jauh dari sini ada bengkel motor, kita tambal motornya.”
Aku hening. Langkahku laju maksimal mendahului bapak dan motornya. Tak berselang lama, posisiku sudah ada di depannya. Setelah 1 kilometer lebih berjalan, akhirnya terlihat lampu yang remang dari pondok kecil di pinggir jalan. Itulah ia pondok kayu si tukang tambal yang bapak maksud. Sepanjang perjalanan menuju rumah, bapak banyak hafal tempat-tempat penambal ban. Mungkin karena ulah si motor yang berulang yang membuat dia hafal semua bengkel-bengkel di jalan yang ia lalui.
Tak lama berselang, sampailah kami di pondok itu. Lampu depan pondok itu nyala agak sedikit terang namun na’as ternyata bengkelnya sudah tutup. Sangat mustahil juga sebenarnya jika ada bengkel yang buka sudah semalam itu. Bapak melirik ke kiri dan kanan bengkel, mengetuk pintu agar pemilik bengkel keluar, tapi tak ada jawaban dari dalam. Bapak menghela napas panjang sambil berkata “Ril di depan ada bengkel lagi. Kita jalan lagi aja. Nanti kita tambal di sana,” semburat senyum terus hadir di wajahnya. Aku menahan kesal yang dalam sambil mengangguk tanpa perlawanan.
Hampir 2 km kami berjalan. Aku sudah tidak punya energi untuk melanjutkan perjalanan malam itu. Rasa hausku menjadi-jadi. Tak satu pun warung yang buka yang kami temui. Semua sudah tutup sehingga untuk mendapatkan seteguk minum pun sangat sulit, aku yakin apa yang aku rasa juga dirasakan lelaki yang tengah mendorong motor itu, tapi dia tetap tenang melaluinya.
Pada kesempurnaan lelahku. Akhirnya, kami sampai di kios tambal ban. Kali ini, kiosnya cukup besar dari pondok yang sebelumnya. Bapak mengetuk pintu kios dan berharap sangat sang pemilik bengkel keluar. Aku duduk di kursi panjang menunggu Bapak. Ia terus saja menggedor pintu itu dengan sangat hati-hati. Pada gedoran kesekian, akhirnya tuan yang punya badan keluar sambil mengucek-ngucek bola matanya. Dengan sangat hati-hati dan santun, Bapak menyampaikan hajatnya. Tukang bengkel itu menyambut kedatangan kami dengan sangat baik, setelah menyodorkan dua gelas air, ia memulai pekerjaannya. Di kursi panjang, bapak menyeka rambutku dan menggosok-gosok kepalaku dengan lembut. Bapak mengerti kepenatanku malam itu.
“Ril, nanti kalau sudah cukup uang bapak mau ganti saja motor ini biar tidak mogok terus,” begitu bapak mengawali kalimatnya.
“Kamu pasti lelah berjalan 3 km lebih, tapi kita tak punya piliha. Kita harus hadapi semuanya. Anak laki-laki tidak boleh cepat menyerah, tidak boleh cepat putus asa, dan lelaki yang kuat akan menjaga martabat keluarganya. Anak laki-laki harus lebih kokoh langkah kakinya, bekerja keras, dan tak boleh malas. Apa pun yang terjadi dia harus mampu melaluinya tanpa kata sepakat. Di Radio FM, bapak pernah mendengar pidato Buya Hamka, beliau adalah simbol lelaki Minangkabau yang kuat. Kata Buya”Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.”
“Malam ini mungkin masalah motor yang kamu hadapi Nak. Kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari. Kita tidak mampu untuk menakar takdirnya. Apa pun yang akan kamu lalui nanti, teruslah bersemangat. Jangan cepat menyerah dan berputus asa”.
Aku hanya mampu mengangguk menyahuti kata-kata yang mengalir di bibir Bapak. Perlahan, aku merapatkan dudukku padanya. Serapat kutub utara magnet saat didekatkan dengan kutub selatan. Aku mendekap lengannya kuat. Kali ini, bukan karena dekapan ketakutan karena malam, tapi dekapan kagum dan bangga karena aku memiliki lelaki bertuah seperti bapak.
Pamulang, 30 Oktober 2020
Tentang Penulis:
Fatma Hayati, M.Pd. Alumni Universitas Negeri Padang (UNP) dan Universitas Indraprasta PGRI. Baru belajar menulis, beberapa karyanya telah dimuat dalam beberapa buku antologi di antaranya; Menuju Titik Puncak (2020), Sinar Keteladanan (2020), Haru Catatan Ramadhan (2020), Batas Keangkuhan (2020), dan Rahasia Jodoh (2020), dan Akhir Sebuah Penantian (2020).
Mencermati Struktur Cerita dalam Cerpen “Motor Tua Bapak”
Oleh: M. Adioska
(Guru dan Pengurus Forum Lingkar Pena
Sumatera Barat)
Lagi, secara sederhana, cerita pendek dapat dimaknai sesuai dengan namanya, yaitu cerita yang pendek. Namun sejauh ini, para pakar bahasa dan penggiat sastra lebih cenderung membatasi “pendek” tersebut berdasarkan pada peristiwa yang diceritakan, yaitu hanya menceritakan satu peristiwa saja. Tarigan (1984) menyatakan bahwa cerpen adalah cerita rekaan yang masalahnya singkat, jelas dan padat, dan terkonsentrasi pada suatu peristiwa atau kejadian. Jika Tarigan mengukur “kependekan” sebuah cerita berdasarkan jumlah peristiwa yang diceritakan, maka Jacob justru mengukurnya dengan hal yang lebih abstrak lagi. Ia menyatakan bahwa cerita pendek adalah cerita fiksi yang selesai dibaca dalam “sekali duduk” (2001). Ukuran sekali duduk ini tentu akan memiliki banyak makna dan tidak dapat diukur secara konvensional.
Di sisi lain, HB Jassin melihat cerpen dari sudut struktur yang membangunnya. Ia menyatakan bahwa cerpen ialah cerita singkat yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian dan penyelesaian. Artinya, selain peristiwa yang hanya mencakup satu kejadian saja, sebuah cerpen seharusnya juga memiliki struktur tertentu. Mengenai struktur cerpen tersebut, Nurhayati (2019) secara terperinci mengklasifikasikan struktur cerpen secara berurutan menjadi; orientasi, komplikasi, pencapaian konflik, puncak konflik, penyelesaian dan koda.
Cerpen “Motor Tua Bapak” karya Fatma Hayati secara garis besar menceritakan tentang usaha seorang bapak dan anaknya yang harus berjalan sejauh 3 kilometer lebih untuk mencari bengkel lantaran sepeda motor yang mereka kendarai mengalami bocor ban. Tengah malam pula. Sebuah ide yang sederhana. Namun dari kesederhanaan itu, penulis dengan piawai mampu mengembangkan imajinasi dan menyusun kata demi kata sehingga terbentuklah sebuah kisah yang apik dan menarik untuk dibaca. Barangkali seperti itulah pengertian pendek dalam konteks cerpen yang disebutkan para pakar seperti dijelaskan di atas, yaitu hanya menceritakan dan terfokus pada satu peristiwa saja. Jelas, dalam cerpen ini peristiwanya hanya satu, yaitu kendaraan si tokoh yang mengalami bocor ban di malam hari dan mereka berusaha mengatasi itu.
Di sisi lain, penulis dengan mahir mampu membalut ceritanya dengan memaparkan gambaran tentang sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. “Suasana malam di kampung tentu jauh berbeda dengan malam di ibukota, di desa kami yang sangat jauh dari pusat kota, malam-malamnya sunyi.”. Selain itu, gaya bahasa dan cara bercerita yang digunakan dalam cerpen ini juga terasa mengalir dan mudah dipahami, sehingga gambaran tentang kampung yang sunyi terasa benar-benar hidup. Pembaca seakan ikut terbawa dalam suasana yang diceritakan penulis.
Namun, meskipun berhasil mengangkat dan mengembangkan hanya satu peristiwa saja, cerpen ini terkesan belum kompleks atau paling tidak, ada ekspektasi dari sebuah cerpen yang belum terpenuhi dalam kisah ini. Dalam hal ini, penjelasan yang paling masuk akal barngkali adalah dengan cara melihat beberapa struktur yang terkandung di dalam cerpen tersebut.
Cerpen “Motor Tua Bapak” langsung dibuka dengan peristiwa utama yang menjadi inti cerita dalam cerpen ini. “Di tengah gelapnya malam, Bapak tak patah semangat mendorong motor bututnya yang pecah ban belakang.” Alih-alih membuka cerita dengan cara konvensional berupa perkenalan tokoh atau pengenalan setting cerita, penulis langsung menceritakan kejadian yang menjadi dasar pengembangan ceritanya. Membuka sebuah cerita dengan cara ini memang sudah lumrah ditemukan pada banyak cerpen. Hal ini barangkali terjadi karena adanya anggapan bahwa sebuah cerita akan lebih menarik jika langsung menuju pada masalah utamanya sehingga pembaca tidak merasa bosan pada perkenalan-perkenalan awal yang kadang hanya terkesan sebagai formalitas dari sebuah cerita.
Jika dilihat dari strukturnya, membuka cerita seperti ini jelas telah mengabaikan tahap orientasi dalam bercerita. Tidak ditemukan perkenalan. Tidak ada gambaran awal mengenai suasana yang akan diceritakan seperti yang ditemukan dalam gaya cerita lama. Namun meskipun tanpa adanya pengenalan cerita secara eksplisit, biasanya pembaca akan mendapatkan keterangan-keterangan itu sejalan dengan membaca penuh ceritanya. Sehingga tanpa disampaikan dengan jelas pun, biasanya pembaca akan mengerti sendiri ceritanya.
Di sisi lain, membuka cerita dengan cara langsung menuju peristiwa utama akan memberikan tantangan tersendiri bagi penulisnya. Tantangan itu terkait dengan lanjutan cerita atau alur yang ingin ditawarkan bagi pembaca. Jika inti cerita sudah ada diawal cerita, tentu pembaca akan menjadi penasaran tentang apa kiranya yang akan disampaikan penulis selanjutnya, atau ke arah mana kiranya penulis akan membawa cerita tersebut. Pada tahap inilah biasanya muncul twisted plot atau ending yang mengejutkan. Memang pada umumnya, cerpen yang dimulai cara ini akan memberikan kejutan pada akhir ceritanya. Sayangnya, cerpen “Motor Tua Bapak” ditutup tanpa kejutan.
Struktur cerpen lainnya yang menggelitik dalam kisah ini adalah mengenai konflik yang disajikan. Konflik utama yang disajikan dalam cerpen ini berupa konflik internal, yaitu konflik yang terjadi dalam diri si tokoh Aku. “ Dalam hati aku merutuki motor tua itu, aku kesal dan sakit hati, kenapa di malam yang pekat ini pulalah ia harus pecah ban dan kenapa besi tua ini tak pernah lelah membuat bapak sengsara”. Dalam ungkapan tersebut, jelas bahwa pergelutan yang muncul hanya terjadi dalam hati si Aku.
Secara umum, konflik yang ada sepanjang cerpen ini baru sampai pada tahap pencapaian konflik. Dari awal hingga akhir, cerpen ini hanya menyajikan satu konflik saja sebagaimana yang sudah dipaparkan diatas. Sementara, dari sisi tokoh Bapak, tidak ada konflik yang muncul. Tokoh bapak digambarkan sebagai orang tabah, sabar dan berpengalaman menghadapi situasi yang sedang diceritakan sehingga dalam situasi hampir tengah malam dan sunyi, tidak ada yang dirisaukan oleh si Bapak.
“Dalam keheningan itu, Bapak tetap semangat mendorong motornya, sesekali kulihat ia menyeka keringat yang deras di dahi.” “Bapak melirik kiri kanan bengkel, mengetuk pintu agar owner bengkel keluar, tapi tak ada jawaban dari dalam, Bapak menghela nafas panjang sambil berkata “Ril di depan ada bengkel lagi, kita jalan lagi aja, nanti kita tambal di sana,” semburat senyum terus hadir di wajahnya, aku menahan kesal yang dalam sambil menganggut tanpa perlawanan.”
Jika dibandingkan dengan kebanyakan cerpen lain, konflik internal seperti di atas biasanya digunakan untuk membuka alur cerita. Sebagai lanjutan, penulis biasanya akan menyajikan masalah tambahan sebagai pembanding atau melanjutkan konflik internal yang telah disampaikan pada awal cerita sehingga pada akhirnya, secara struktur akan terbentuklah puncak konflik.
Pada sudut pandang lain, jika pun permasalahan yang dihadapi para tokoh di atas sudah dianggap sebagai puncak, berarti konflik yang disajikan dalam cerita ini bersifat statis atau tidak dinamis. Barangkali, hal ini pulalah penyebab lain cerita ini tidak memiliki kejutan diakhir kisahnya.
Selanjutnya, pada tahap penutup, atau disebut juga dengan koda. Penulis secara eksplisit menyisipkan pesan moral yang ingin didapat pembaca. Bahkan lebih lebih jauh, penulis menyisipkan kutipan dari seorang tokoh ternama. Memang tidak ada aturan yang mengikat tentang harus atau tidaknya menyampaikan pesan pada akhir cerita, tapi pada kenyataannya tidak semua cerita memiliki koda, terutama karya-karya sastra serius yang bersifat tidak ingin menggurui. Kebanyakan para penulis ingin pembaca menyimpulkan sendiri amanat yang terkandung dalamnya. Karena bagaimana pun, pembaca adalah orang-orang cerdas.
Terakhir, untuk mengalas semua penjelasan di atas, menulis sebuah cerpen adalah capaian yang luar biasa. Tidak semua orang mampu menghasilkanya. Menentukan ide, gaya bercerita, alur, struktur, dan unsur-unsur cerpen lainnya adalah wewenang mutlak dari penulisnya. Sebuah cerpen yang baik tidak mesti harus mengikuti teori-teori yang ada sebab garis penting sebuah cerita adalah berusaha membuat pembaca mengerti tentang apa yang diceritakan. Namun, sekali pun penulis bebas mengembangkan ceritanya, tentu dibalik itu ada tantangan tersendiri yang harus diatasi pada setiap pilihan tersebut. Pada akhirnya, cerita yang ditulis akan menjadi lebih menarik dan berkesan. Selamat kepada Fatma Hayati. Teruslah berkarya. Practice make perfect.
Bukittinggi, 19 Februari 2021
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan