Drum SCN, Buah Cinta Arif

Muhammad Arif, lebih dikenal Arif Asda (24), dengan Drum buatannya. (Foto : Ajo Wayoik)

Padang Pariaman, Scientia – Jatuh cinta pada pandangan pertama dan keinginan untuk memiliki, namun terbentur biaya, menjadi motivasi bagi dirinya untuk membuat sendiri. Hasilnya, drum kit berkualitas tinggi lahir dari tangan kreatifnya.

Dia adalah Muhammad Arif, pemuda 24 tahun asal Pauh Sicincin, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Dari ruangan sederhana sebelah rumah yang menjadi bengkel tempat berkarya, dia menceritakan kisahnya.

Ia mengaku mulai merancang pembuatan Seal Drum pada tahun 2010, saat masih menempuh pendidikan di SMP N 1 2×11 Enam Lingkung. Ia mempelajari cara pembuatan Seal Drum mulai dari bahan kayu, fiber, sampai bahan metal besi hanya dari buku dan melihat di youtube.

“Banyak percobaan dan kegagalan yang sudah saya alami. Baru awal tahun 2020 ini, saya berhasil pemfinalan kualitas bunyi dan ketahanan fisik instrumen tersebut. Dengan lingkar ring dan bahan kayu yang baik, hasilnya alhamdulilllah mumpuni,” kata pemuda yang akrab dipanggil Arif Asda kepada Scientia pada Senin (12/8).

Selepas menyeruput kopi, ia menceritakan bahwa sejak kecil sudah terbiasa mendengar instrument perkusi Tambua dan Rapai. Namun, ia menyukai seni mulai kelas 5 SD saat mengikuti ekstrakurikuler Drum Band di SD N 01 2×11 Enam Lingkung.

Diakuinya, instrument perkusi adalah instrument pertama yang ia sukai terutama Drum, sayangnya tidak dibolehkan memainkan alat musik perkusi karena kekurangan instrument melodis. Saat sekolah di SMP N 1 2×11 Enam Lingkung pun, saat bergabung dengan tim Marching Band sekolah, ia malah ditunjuk menjadi Kondaktor karena bisa memainkan instrumen melodis dan perkusi.

“Jadi, saya berkeinginan memiliki drum sudah sejak SD. Namun, menyadari bahwa saya mencintai seni musik terutama perkusi, khusus Drum mulai SMP. Karena tidak mungkin memiliki dengan cara membeli, maka cari tahu cara membuatnya (drum) di buku-buku dan youtube,” ujarnya dengan penuh semangat.

Kecintaannya dengan musik perkusi dituangkan dengan membentuk kegiatan ekstrakuriler Marchingband saat kelas 1 SMA. Uniknya, ia bukan menjadi pemain instrument, tetapi menjadi pelatih dimana anggota marchingband lebih banyak kakak kelasnya.

“Keluarga saya tidak ada yang seniman, tetapi kami menyukai seni. Maka saat saya melanjutkan pendidikan ke Jurusan Pendidikan Sendratasik UNP pada tahun 2015, mereka mendukung,” terang pemuda yang aktif juga di Forum Batajau Seni Piaman ini.

Walaupun sudah terbiasa menerima pesanan pembuatan instrument Cajon, Arif belum berani membuka pesanan jumlah banyak untuk instrument Drum dengan merek SCN, singkatan dari Sicincin ini. Dari beberapa drum yang sudah di produksi sebagai contoh, jika ada yang berminat, ia jual.

“Butuh dana yang besar untuk melengkapi bahan membuat drum ini, terutama untuk merakit berbagai perangkat penunjang yang terbuat dari logam. Saya membuka diri untuk bermitra dengan pihak lain yang bisa mendukung hingga produk ini (drum) betul-betul komplit satu set untuk dipasarkan. Kalau bisa produksi massal, alhamdulillah sekali,” kata Arif dengan yakin.

Keyakinan Arif dengan kualitas produknya, semakin meningkat saat rekan sesama seniman di Forum Batajau Seni Piaman, Ribut Antoni Sujarwo menguji instrument drum buatannya. Seniman Sumbar yang berhasil menembus festival sekelas Indonesian Drumer Festival mengakui kualitas drum karya Arif.

“Ini drum yang bagus. Sangat mungkin untuk diadu dengan drum buatan luar negeri yang merajai pasar saat ini. Kalau ini diproduksi dan dipasarkan secara massal, saya yakin banyak drumer yang berminat,” sebutnya.

Sebelum mengakhiri pertemuan singkat dengan Scientia, Arif memberikan bocoran bahwa ia akan merancang dan membuat juga drum dengan karakter bunyi Tambua dan Rapai. Karena, instrument pertama dan sering ia dengar adalah instrument perkusi Tambua dan Rapai tersebut. (AjoW/Tan Sati)


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *