
Oleh: Siti Rubaiah Al Adawiyah
(Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Indonesia merupakan negara yang kaya akan folklor. Folklor mengacu pada kepercayaan, legenda, serta adat istiadat yang telah lama ada kemudian diteruskan dari generasi ke generasi secara lisan maupun tulisan pada suatu bangsa (Chaer, 1986:29). Salah satu masyarakat yang memiliki folklor adalah masyarakat Sunda di Desa Weninggalih, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.
Masyarakat Desa Weninggalih memiliki suatu kepercayaan dan tradisi yang masih dipercaya hingga saat ini. Kepercayaan tersebut adalah cerita mengenai asal-usul penamaan ‘Ma Beurang’ yang merupakan dukun beranak untuk membantu proses persalinan. Ma Beurang sudah menjadi sosok pembantu persalinan dari zaman dahulu sampai dan saat ini masih ditemukan keberadaannya.
Zaman dahulu, Ma Beurang didatangi oleh orang yang membutuhkan bantuan persalinan ketika malam hari. Orang tersebut harus membawa obor. Jika malam hari mendatangi atau mencarinya, jangan sendiri karena diyakini sering ada genderuwo. Jika malam hari, harus dua orang yang pergi. Genderuwo tersebut menurut cerita, sering menampakkan diri sebagai sosok Ma Beurang dan akan mengganggu orang-orang yang ingin mencarinya. “Ia disebut Ma Beurang” karena setiap didatangi atau dicari, baik siang ataupun malam akan tetap terang. Jika malam hari, cahaya terang didapat dari obor yang dibawa. “Ma” merujuk pada sebutan nenek karena yang menjadi ma beurang atau dukun beranak adalah perempuan dan umumnya berusia lebih dari 50 tahun, sedangkan “Beurang” merujuk pada siang hari yang berkorelasi dengan terang dan siang hari identik dengan terang.
Cerita ini terus menyebar dari generasi ke generasi hingga saat ini. Namun, kini sudah tidak banyak lagi yang mengetahui cerita tersebut karena sudah banyak generasi muda yang tidak peduli dengan kepercayaan yang ada di masyarakatnya. Ma Beurang memiliki peran yang penting di masyarakat khususnya dalam membantu persalinan. Sosok Ma Beurang sudah ada jauh sebelum tenaga medis seperti bidan dan dokter. Banyak keunikan yang dimiliki oleh Ma Beurang baik dari kepercayaan mengenai asal-usul penamaan, fungsi di masyarakat, serta doa-doa yang digunakannya.
Salah satu Ma Beurang yang saat ini masih aktif dalam membantu persalinan adalah Anih (73). Beliau mengatakan bahwa keinginan menjadi Ma Beurang datang dari panggilan hatinya untuk membantu orang-orang yang membutuhkannya. Perjalanan menjadi Ma Beurang beliau mulai dengan berguru kepada Ma Beurang lainnya. Setelah itu, ia mulai membantu banyak calon ibu yang akan melahirkan anaknya. Beliau sudah menjadi Ma Beurang sejak tahun 1999 dan hingga saat ini setiap bayi yang dibantu dalam persalinan olehnya selalu beliau catat pada sebuah buku lengkap dengan data nama, waktu kelahiran dalam tahun hijriyah dan tahun masehi, serta nama Ibu sang anak. Uniknya, ketika zaman dahulu RT atau RW setempat akan melakukan sensus data penduduk mereka akan mendatanginya untuk melihat data penduduk melalui buku yang dimiliknya tersebut.
Peran Ma Beurang di masyarakat sangat banyak. Tidak hanya sekedar membantu persalinan semata. Beberapa peran Ma Beurang diantaranya adalah mengetahui tanda-tanda kelahiran seperti keluarnya lendir coklat yang menandakan kelahiran dua hari lagi, keluar darah berarti kelahiran hanya beberapa jam lagi, dan kemudian keluarnya air yang terus menerus hal ini merupakan tanda bahaya karena diyakini bayi terlilit tali pusar sehingga memerlukan waktu yang lebih lama. Ma Beurang juga membantu membenarkan posisi bayi yang sungsang atau posisinya tidak sesuai. Membantu proses persalinan dengan tidak lupa untuk menggunakan sarung tangan untuk menjaga kebersihan. Selain membantu proses persalinan, Ma Beurang juga membantu untuk membersihkan bayi dan Ibu serta memotong tali ari-ari, serta menguburkan plasenta. Ma Beurang juga berperan untuk melukan pemijatan terhadap Ibu yang telah melahirkan agar menghilangkan rasa nyeri dan juga membantu Ibu yang susah mengeluarkan ASI. Proses pemijatan tersebut dilakukan yaitu di hari ke-3, ke-7, ke-14, ke-30, dan ke-40 setelah melahirkan. Selain itu, Ma beurang juga membantu dalam tindik pada telinga bayi perempuan.
Pada setiap kegiatan yang dilakukannya, Ma Beurang selalu membaca ayat suci Al Quran untuk melancarkan kegiatannya. Di antaranya ketika Ibu hamil sudah memasuki usia kehamilan 4-9 bulan, Ma Beurang akan mengusap perut Ibu hamil dengan membaca Surat Maryam. Hal itu diyakini untuk memberikan kelancaran pada saat proses persalinan, sama seperti saat Siti Maryam melahirkan Nabi Isa yang tanpa dibantu orang lain. Lalu, ketika memotong tali ari-ari, Ma Beurang akan membacakan Surat Al-Qadr. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya ada doa-doa tersendiri.
Saat ini, Ma Beurang sudah tidak lagi membantu persalinan secara mandiri. Hal ini dikarenakan peraturan pemerintah yang melarang dukun beranak untuk membantu persalinan tanpa ada tenaga medis. Hal yang dilakukan oleh Ma Beurang saat ini hanya sebatas pada mendampingi proses persalinan, menguburkan plasenta, dan memijat ibu hamil. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang menggunakan jasa Ma Beurang.
Ma Beurang kini sudah tidak banyak lagi ditemukan. Anih (73) menyebutkan bahwa jumlah Ma Beurang di Desa Weninggalih hanya 7 orang. Tidak ada lagi generasi muda yang berkeinginan untuk menjadi Ma Beurang. Padahal, beliau sangat berharap ada yang melanjutkan profesinya tersebut. Tradisi dan kepercayaan tradisional memang sudah banyak tergerus oleh zaman. Kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup membuat tradisi dan kepercayaan tradisional menjadi terlihat ketinggalan zaman sehingga, banyak generasi muda yang enggan mengetahui kekkayaan budaya yang dimiliki oleh nenek moyangnya.

Tinggalkan Balasan