
Padang, Scientia – Pada Hari Penyiaran Nasional ke-88, 1 April, Presiden Joko Widodo dalam pidato daringnya menegaskan arti penting Keterbukaan Informasi. Menurut presiden, keterbukaan informasi menjadi kebutuhan masyarakat di masa pandemi Covid-19.
“Konsekuensi keberlimpahan dan keterbukaan Informasi adalah sebuah kebutuhan. Informasi yang berlebihan merupakan tantangan yang harus kita kelola,” ujar Jokowi via Zoom Meeting, Kamis (1/4).
Presiden menambahkan, tuntutan masyarakat yang menuntut keterbukaan dan kecepatan informasi juga harus dikelola. Pentingnya keterbukaan, kecepatan, dan akurasi informasi sangat terasa dihadapi saat penanganan pandemi.
“Keterbukaan informasi telah turut mempercepat penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi kita. Di tahun-tahun ke depan tantangan pengelolaan informasi akan semakin besar, digitalisasi informasi akan semakin mempermudah masyarakat mengakses informasi,” kata Jokowi.
Ketua Komisi Informasi (KI) Sumbar, Nofal Wiska mengatakan pidato presiden di Hasiarnas ke-88 menjadi angin segar bagi pengarusutamaan keterbukaan informasi publik di semua aspek. Bahkan KI yang mengemban amanah mengawal keterbukaan informasi publik terutama di masa pandemi terus berkontirbusi.
“Di Sumbar, Komisi Informasi berperan aktif membangun budaya keterbukaan informasi untuk pencerahan kepada publik, baik sosialisaai protokol kesehatan, program vaksinasi covid-19 dan bantuan langsung tunai ke masyarakat terdampak penanganan covid-19, semua itu tidak lepas dari pantauan Komisi Informasi Sunbar,” ujar Nofal Wiska, Jumat (2/4).
1 April diperingati sebagai Hari Penyiaran Nasional yang tahun ini peringatannya dipusatkan di Kota Solo. Karena, Solo menjadi tonggak sejarah radio pertama didirikan anak pribumi sejak penjajahan Belanda.(pzv/rls)

Tinggalkan Balasan