
Oleh:
ALFITRI
(Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas)
Setelah absen selama dua tahun, Jurusan Sosiologi FISIP Unand kembali mengadakan roadshow ke luar Sumbar. Sebelum pandemi, ini adalah agenda rutin tahunan. Di awal Februari 2022 lalu, roadshow kembali dilakukan dengan mengunjungi dua SMA Negeri dan FISIP USU di Medan. Di kedua SMA Negeri tersebut, dipromosikan Jurusan Sosiologi FISIP Unand. Sedangkan di FISIP USU diadakan penandatanganan MoU kerja sama, seminar tentang aspek sosial kebencanaan, dan diskusi terkait implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kali ini, saya dan teman-teman rombongan roadshow memilih naik bus wisata pp. Tentu saja ini dilakukan dengan prokes yang cukup ketat, antara lain dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak dengan hanya mengisi separo dari kapasitas bus.
Alhamdulillah, perjalanan berjalan lancar, menyenangkan, serta disambut dengan baik dan hangat oleh pihak-pihak yang dikunjungi. Setelah kunjungan tiga hari di Medan, rombongan balik ke Padang dengan menginap semalam dan menikmati keindahan dan kesejukan Kota Berastagi dan juga Danau Toba. Biasalah, dalam perjalanan balik ke Padang, di Berastagi itu rombongan mampir-mampir di pasar maupun kedai-kedai di pinggir jalan untuk beli berbagai macam oleh-oleh. Umumnya, pedagang dan penjualnya adalah ibu-ibu yang biasa dipanggil dengan inang-inang. Keberadaan perempuan pedagang di pasar dan sepanjang jalan Berastagi terasa menonjol. Ini tidak hanya dari sisi jumlah tapi juga dari cara mereka berhadapan dengan konsumen dan juga pelayanan yang diberikan oleh inang-inang tersebut.
Dalam bahasa Batak Toba inang berarti ibu. Maka, secara harfiah “inang-inang” berarti ibu-ibu. Namun, dalam realitas keseharian “inang-inang” diartikan sebagai ibu-ibu yang berjualan atau berdagang di pasar maupun di kedai atau lapak-lapak di pinggir jalan. Kendati bukan semua pedagang yang demikian berasal dari etnik Batak Toba karena ada juga yang berasal dari Tanah Karo dan lainnya. Namun, lazim secara umum ibu-ibu pedagang di daerah Sumatera Utara itu dipanggil dengan inang-inang. Di Bukit Gundaling dan Pasar Berastagi kebanyakan inang-inang menjadi pedagang cendera mata atau oleh-oleh khas Berastagi. Sedangkan yang di lapak-lapak pinggir jalan umumnya berdagang atau menjual hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan.
Hal yang menarik bagi saya terkait inang-inang ini adalah kemampuan dan daya tahannya dalam membujuk dan melayani konsumen. Dari pengalaman sendiri, maupun mengamati teman-teman, terasa dan tampak yang semula tidak niat belanja atau membeli akhirnya pun membeli. Di objek wisata Bukit Gundaling, mungkin lantaran menyimak kami yang melintas dan ngobrol dalam Bahasa Minang di depan lapaknya, inang-inang ini pun menyapa dalam Bahasa Minang. Kami yang semula, tidak berniat untuk mampir, akhirnya pun mampir di lapaknya. Persuasi dan pelayanan ramah inang-inang plus kualitas barang yang cukup bagus dan harga yang masuk akal membuat ibu-ibu anggota rombongan membeli sweater rajut dengan tulisan Berastagi sebagai oleh-oleh untuk suami dan anak-anaknya.
Inang-inang yang menyapa konsumen dengan bahasa yang dipakai konsumen itu mengingatkan saya kepada sebagian pedagang toko di Jeddah, Singapore, Bangkok dan Melbourne. Mereka sengaja belajar menguasai sedikit Bahasa Indonesia atau merekrut pelayan toko yang pandai berbahasa Indonesia untuk bisa menyapa, tawar menawar dan melayani orang Indonesia yang memang sudah dikenal suka berbelanja itu. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa konsumen adalah salah satu jurus jitu untuk menarik konsumen dan menjadikan mereka mampir dan berbelanja.
Di Pasar Berastagi, saya mengamati inang-inang yang dengan sabar melayani ibu-ibu anggota rombongan yang belanja tanaman/bunga. Harga tanaman/bunga yang ditawarkan memang lebih murah ketimbang di Padang, tapi saya ragu apakah tanaman/bunga dari daerah yang berudara sejuk seperti Berastagi itu bisa tumbuh dengan baik di Padang yang berhawa panas. Selain itu, sebagian tanaman itu juga banyak yang menjualnya di daerah sekitar Kota Padang. Namun, saya lihat inang-inang tersebut sabar dan pandai meyakinkan ibu-ibu yang banyak bertanya dan rajin menawar itu. Inang-inang itu dengan terampil juga mem-packing tanaman/bunga tersebut sehingga mudah dibawa dan betahan hidup di bagase bus wisata untuk perjalanan 24 jam ke depan.
Masih di sekitar Berastagi, dalam perjalanan balik ke Padang, saya dan teman-teman juga mampir di lapak inang-inang di pinggir jalan yang menjual buah-buahan. Macam-macam buah-buahan yang ditawarkan ada strawberry, jeruk, salak dan markisa. Kendati kami turun dari bus wisata yang tergolong bagus, tapi harga buah-buahan yang ditawarkan inang-inang itu “bersahabat”, masuk akal, dan pasti lebih murah jika dibandingkan dibeli di Padang. Ini tidak seperti yang biasa kejadian di tempat lain, di mana harga sering dinaikkan jika konsumennya turun dari bus wisata, mobil plat merah atau mobil mewah. Saya terkesan dengan inang-inang yang menjual dengan harga yang wajar dan tidak “menyesuaikan” harga itu. Mereka tetap melayani dengan baik kendati sebagian dari yang membeli masih rajin menawar. Bahkan inang-inang itu dengan senang hati mempersilakan konsumen untuk mencicipi dulu buah-buahan yang ditawarkan. Tidak ada tampak muka masamnya. kami sebagai konsumen pun lantas merasa nyaman, dan akhirnya pun masing-masing membeli dalam jumlah banyak.
Dalam disertasinya yang dipertahankan di UGM, Baiduri (2015) menunjukkan bahwa bagi inang-inang berdagang itu bukan hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikan anak-anak mereka. Namun, yang terpenting dengan pekerjaanya inang-inang itu mampu menunjukkan eksistensi dan martabat dirinya di tengah budaya patriarki yang ada. Melalui kerja kerasnya inang-inang mendapatkan tempat dan martabatnya dalam kehidupan rumah tangga, kerabat, dan masyarakatnya. Kecuali itu, bagi saya, selain bekerja keras inang-inang itu pun bekerja cerdas dengan mampu mempersuasi konsumen dari yang tidak berniat membeli menjadi membeli. Bahkan membuat yang berbelanja nambah-nambah lagi. Luar biasa inang-inang ini. ***

Tinggalkan Balasan