
Bukittinggi, Scientia – Wakil Ketua TP PKK Kota Bukittinggi, Nurna Eva Marfendi, bekerja sama dengan Minang Care Indonesia (MCI) berikan bantuan kepada seorang wanita warga Tangah Sawah, yang kehidupannya kurang beruntung.
Wanita itu adalah seorang janda, punya anak 5 bernama Ratna Wati berusia 42 tahun. Dia, selain menderita penyakit menahun, tinggal pun di rumah kontrakan berukuran 3 x 4 meter.
“Bantuan sudah kita antarkan kemarin. Bantuan yang kita berikan berupa uang untuk membayar kontrakan rumah dan kebutuhan sehari-hari ibu Ratna,” kata Eva kepada Scientia, di Bukittinggi, Jumat (3/9/2021).
Selain bantuan, lanjut istri Wakil Wali Kota (Wawako) Bukittinggi yang akrab disapa Bunda ini, juga diberikan bantuan pakaian dan benda atau barang keperluan rumah tangga layak pakai.
“Pakaian dan barang bekas layak pakai juga kita berikan, diperlukan ibu Ratna untuk dijual kembali. Sebab, selama ini mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari beliau, hanya dengan berjualan pakaian dan barang bekas. Tapi, sejak menderita sakit, ibu Ratna tidak mampu lagi mengumpulkan atau membeli pakaian dan barang bekas tersebut,” terangnya.
Bunda berharap, dengan diberikan sedikit bantuan tentunya dapat meringankan beban yang ditanggung ibu Ratna.
“Bagaimana pun, ibu Ratna tentu butuh bantuan kita semua agar kebutuhan beliau bisa teratasi. Membantu mencukupi kebutuhan ibu Ratna dan anak-anak beliau itu, hingga kini komunitas MCI Bukittinggi terus berupaya mengumpulkan pakaian dan barang bekas melalui media sosial,” ucapnya.
Sekedar diketahui, Ratna menderita sakit kanker payudara sudah 10 tahun, tumor di usus dan di anus serta pendarahan otak.
Komplikasi penyakit yang diderita ibu Ratna, mengakibatkan dia tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Jangankan bekerja mencari nafkah, melakukan aktivitas di rumah pun sangat sulit.
Anak nomor 2 ibu Ratna, Redo berusia 19 tahun juga mengalami hal sama dengan orang tuanya. Redo pun menderita penyakit infeksi usus. Sehingga Redo tidak bisa berbuat banyak membantu perekonomian orang tua dan
adik-adiknya. Bahkan dia lebih banyak terbaring di ruangan berukuran 1 x 2 meter dibatasi dinding triplek dalam rumah kontrakan berukuran 3 x 4 meter tersebut.
Sementara, anak tertua Ratna mencoba merubah nasib di perantuan, akan tetapi juga tidak mampu membatu keluarga. Dia diperantauan hanya bekerja serabutan.
Terkait sakit yang dialami Redo, Ratna telah mencoba membawanya berobat ke Pukesmas dan rumah sakit. Namun, tidak mengalami kesembuhan. Untuk berobat secara berkala, hal itu tidak mampu dilakukan keluarga ibu Ratna sebab biaya berobat yang mengandalkan BPJS Kesehatan tidak aktif lagi. (aef)

Tinggalkan Balasan