Karma

Cerpen:
Amalia Aris Saraswati

Kota diguyur hujan lebat. Cahaya matahari melesat-lesat melalui celah di antara derai hujan. Bulir-bulir hujan tampak berkilauan sebab cahaya itu. Aku menepi untuk berteduh di teras deretan ruko dekat kampus. Tampias hujan menerpa tubuh. Tidak ada pikiranku kecuali ujian tengah semester yang sedang kutempuh. Pikiranku dibuyarkan oleh kedatangan perempuan manis yang muncul tiba-tiba dari sebuah ruko. Aku tak percaya pada mataku yang menangkap sosoknya. Tubuh 150 senti meter itu mendekat. Napasku tercekat.

Wajahnya masih seperti saat pertama bertemu dulu. Manis, penuh kasih dan mengandung begitu banyak kebaikan. Hari yang takkan kulupakan, pertama bertemu dengannya pada suatu sore yang begitu cerah di depan gedung CH (Convention Hall) kampusnya. Kampusku berada di dalam wilayah kampusnya yang sangat luas. Dulunya, kampusku merupakan bagian dari universitas legendaris itu. Kemudian, di tahun 2014, kampusku memisahkan diri dan berubah status menjadi politeknik yang berdiri sendiri. Sampai kini letaknya di puncak kawasan universitas besar itu

Saat itu, aku dalam perjalanan pulang dari kampusku dan sepeda motorku mogok kehabisan bahan bakar. Aku terpaksa mendorong sepeda motorku sampai gerbang kampus hijau tersebut. Di sana, ada penjual bensin eceran dan dengan begitu aku dapat segera pulang. Jarak antara gedung megah CH hampir satu kilo meter. Itu artinya aku harus menempuh jarak itu dengan mendorong sepeda motorku sendirian. Sore itu, matahari belum rendah dan berpendar terik. Sial sekali!

Sampai ketika ada seorang mahasiswi menghentikan sepeda motornya di depanku yang bersimbah peluh. Masih kuingat keindahan wajahnya, juga pakaiannya saat itu yang model perawat.

“Kenapa motornya, Bang?” tanyanya ramah.

“Kehabisan bensin, Kak.”, jawabku singkat.

Tanpa diminta, perempuan itu meminjamkan sepeda motornya padaku untuk membeli bensin. Ia menunjukkan arah terdekat penjual bensin eceran. Sepeda motorku yang malang dijaganya di tepi jalan itu. Setelah mendapatkan bensinnya, aku menyodorkan minuman dingin untuknya. Balasan atas kebaikannya hari itu.

“Bolehkah aku menyimpan kontak Kakak? Mana tahu kita bisa bertemu lagi.” Aku memberanikan diri meminta nomor telepon malaikat itu.

“Tidak masalah.”

Setelah hari itu, aku sering menghubunginya dan mulai merasa perempuan itu diciptakan untukku. Setiap aku mengedarkan pandangan, selalu ada wajahnya yang dihiasi senyum. Tak butuh waktu lama untukku merasa bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Pada kelembutan dan kebaikannya itu, aku bertanya pada Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang, mengapa jatuh cinta tidak logis adanya?

“Hai, Akbar! Senang bertemu denganmu di sini.”, sapanya manis.

Bertemu lagi di bawah tampias hujan seolah-olah mimpi dalam pingsan belaka. Malaikatku terjatuh dari langit tepat di hadapanku. Aku belum siuman.

Aku segera menguasai diri. Aku masih tak percaya. Ia tampak insecure.

“Sedang apa kau di sini, Aris? Aku mencarimu, menunggumu selama dua tahun ini. Nomormu tidak aktif dan aku tidak bisa menemukanmu di instagram. Tiba-tiba aku menemukanmu di pertemuan tak terduga ini?”

“Aku minta maaf soal itu. Oh iya, beberapa kali aku melihatmu di jalan. Kau tampak dalam rombongan mahasiswa demonstrasi,” katanya, seolah tak bersalah.

“Oh, waktu itu sedang demo tentang RUU-PKS. Kami menolaknya,”

“Aku tidak terlalu suka demo. Menurutku dari ribuan massa itu hanya beberapa gelintir orang yang paham akan tuntutan. Selebihnya hanya…”

“Oh, wait. Apa maksudmu? Kita sebagai mahasiswa tentu harus kritis dan idealis, bukan? Lalu ketika kritik tak didengar, dengan cara apa lagi untuk menyampaikan aspirasi kalau tidak dengan demonstrasi?” Aku agak tersinggung.

“Terserah apa pendapatmu. Yang jelas, aku belum tertarik untuk demo. Pacarku mungkin suka demo sepertimu,”

“Pacar? Kau punya pacar? Tolong kau jelaskan padaku, Aris. Aku mencari, menunggu dan terus menunggu sewaktu-waktu kau datang lagi. Kiat bisa melanjutkan semuanya. Dua tahun, Aris, aku menunggu tanpa titik terang darimu. Aku berusaha berdamai dengan itu dan tiba-tiba kau muncul di depan mataku untuk berkata kau sudah milik orang lain?” Dadaku sesak mengatakannya.

“Aku minta maaf. Kukira kita sudah berakhir waktu itu,” ucapnya lirih. Matanya menghindari tatapanku.

“Bisakah kau jelaskan padaku?”

“Setelah menghilang setahun, aku menghubungimu untuk mengatakan bahwa aku tidak seperti yang dulu. Aku sudah berubah, tidak sebaik yang kau bayangkan saat awal bertemu. Kupikir kita akhiri saja semua karena laki-laki sebaik dirimu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Kukira kau mengerti saat itu,” kilahnya. Ini tak masuk akal.

Memang ia pernah berkata seperti itu via Whatsapp dan aku berusaha membuatnya percaya diri. Sepotong pesan itu saja, kemudia ia menghilang lagi dan sekarang ia katakan itu kode untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tak percaya malaikatku seketika menjadi Lucifer, sang iblis jahat. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya seketika menjadi belati, mencabik lagi luka lama yang hampir mengering.

Aku begitu kehilangan Aris. Ia belahan jiwaku. Bahkan aku berani menyatakan diri untuk menikahinya suatu hari nanti, aku tak main-main. Aris adalah perempuan pertama yang kukenalkan pada keluargaku. Ibundaku menyambut Aris dengan hangat, adik-adikku juga menyayanginya. Aku, bunda, dan kedua adik perempuanku sangat merindukan malaikat itu. Rindu segala kemanisan dan kebaikan-kebaikannya. Aris raib tiba-tiba.

Jika kukenang masa Aris meninggalkanku, aku tak ubahnya jatuh tertimpa tangga sekalian genting tanah liat keras itu berguguran dari atap menimpa kepalaku. Lalu menginjak paku, kebetulan pakunya karatan. Celaka tiga belas! Aku mengalami kecelakaan saat menuju kampus. Tulang keringku retak, mendapat lima belas jahitan di kepala dan lenganku robek parah. Tak sampai di situ, aku bermasalah dengan dosen yang mengakibatkan aku harus pindah jurusan. Mengulang mata kuliah dari awal, beradaptasi dengan ilmu-ilmu baru, satu tahun yang telah terbuang sia-sia. Juga tiba-tiba aku harus menjadi tulang punggung keluarga ketika ayahku stroke. Aku menjalani semua saat aku kehilangan Aris. Rasanya duniaku berakhir sampai situ.

“Kau takkan mengerti lukaku. Aku sangat kecewa. Salahku juga menganggapmu masih denganku dan semua akan kembali seperti sedia kala. Tapi, kini kau di hadapanku dan aku harus menerima kenyataan itu. Aku memaafkanmu. Terima kasih atas pelajaran berharganya, Aris.”

Hujan agak reda. Aris terpaku. Aku meninggalkannya yang tenggelam dalam perasaan bersalah yang dalam.

-o-

“Akbar, maaf aku mengganggumu lagi. Aku ingin bicara sebentar.” Sebuah pesan  dari nomor baru masuk ke ponselku. Beberapa saat kemudian ia menelepon.

Suara di seberang telepon sana membuatku ulu hatiku tersengat. Aku tidak tahu dari mana perempuan itu mendapatkan nomor teleponku, yang jelas bibirku tersenyum. Aris!

“Aku ingin minta maaf sekali lagi untuk semua kesalahan yang telah kubuat. Aku ingin memastikan bahwa kau benar-benar telah memaafkanku dan tiada dendam di hatimu,” ujar suara lembut di sana. Apa lagi ini?

“Apa yang terjadi padamu? Bagaimanapun, aku harus memaafkanmu. Orang yang di hatinya masih menyimpan kebencian kepada orang lain tak akan tenang hidupnya, bukan?”

“Mungkin ini terakhir kali aku mengganggumu dengan kata maaf. Aku kini ditinggalkan kekasihku dan kupikir ini karma yang mesti kutanggung karena pernah menyakitimu.”, ucapnya, menahan tangis.

Aku menghela napas sebentar. Ia datang lagi padaku ketika ia ditinggalkan. Apa-apaan ini? Sekali lagi ia menohok ulu hatiku.

“Adakah yang ingin kau sampaikan lagi sebelum aku benar-benar menutup hatiku untukmu? Kesempatan terakhir.”

“Tidak ada. Aku terlalu malu untuk kembali denganmu. Aku ingin memastikan kau benar-benar memaafkanku dan membiarkan aku hidup tenang.”

“Semua kesalahanmu kumaafkan, Aris. Berhentilah mengatakan itu padaku. Menurutku, kau perlu sendiri mengejar semua ketertinggalanmu di akademik, mencapai segala yang kau cita-citakan. Aku senang kau terus menulis. Kudoakan suatu hari nanti jadi penulis hebat.”

Agaknya aku telah berdamai dengan kekecewaanku. Kudengar tangisnya lirih di ujung telepon. Aku pamit menutup percakapan karena aku harus kembali bekerja di tempat magang. Kuharap Aris menemukan lelaki baik. Kecintaan terdalam, yaitu mendoakan yang terbaik ketika melihat orang yang dicintai bahagia dengan pasangannya.

            Hatiku selembar kaca:

            kau pecahkan berkeping-keping

            dan kakimu menginjak-injaknya.

Puisi Husein Widiya mengalir pelan. Aku tersedu sedan.

*Kisah sahabat M. Fahmi Akbar dengan kekasihnya


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *