Kemarau Melanda, Petani Jagung di Dharmasraya Merugi

Dharmasraya, Scientia.Id – Musim kemarau panjang yang berkepanjangan telah melanda Kabupaten Dharmasraya, mengakibatkan kerugian besar bagi para petani jagung. Setidaknya 28 hektar lahan jagung milik kaum Chaniago di Jorong Koto Lamo, Nagari Padang Laweh, kini berubah menjadi ladang kering kerontang.

Maman, seorang petani setempat, mengungkapkan keprihatinannya. “Ini sudah kali ketiga kami gagal panen dalam waktu singkat. Sebelumnya, banjir dan hama penyakit juga merusak tanaman kami,” ujar Maman Selasa, (30/7/2024).

Kerugian yang dialami Maman cukup besar, mengingat harga bibit jagung yang ia tanam cukup tinggi. “Bibit jagung saya, Pioner 32 Singga, seharga Rp 650.000 untuk 1/4 hektar, semua gagal panen,” ungkapnya dengan nada kecewa.

“Jika kali ini kembali gagal panen ditaksir kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah,” ungkapnya.

Gagal panen jagung di lahan seluas 28 hektar yang didominasi oleh suku Chaniago ini tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal. Pasalnya, jagung merupakan salah satu komoditas utama yang dihasilkan oleh masyarakat Jorong Koto Lamo.

Kurangnya Pengetahuan dan Penyuluhan Perparah Situasi

Selain faktor alam, Maman juga menyoroti kurangnya pengetahuan petani dalam mengatasi serangan hama dan penyakit.

“Petani di sini kurang memahami cara mengatasi hama dan penyakit pada tanaman jagung,” jelasnya.

Minimnya penyuluhan pertanian juga menjadi kendala. “Layanan penyuluhan kurang efektif dalam memberikan informasi dan solusi kepada kami,” tambah Maman.

Maman meminta kepada pemerintah daerah agar dapat mengirimkan penyuluh pertanian yang lebih sering untuk memberikan bimbingan.

Masalah lain yang dihadapi petani adalah keterbatasan pupuk. Maman menjelaskan, “Dulu, kami mendapatkan pupuk subsidi hanya 1 karung berat 50 Kg dengan harga Rp 165.000. Sekarang, kuota kami hanya bertambah 1 karung dan untuk mencukupi kebutuhan pupuk kami terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga yang jauh lebih mahal yaitu sebesar Rp 360.000.”

Baca Juga: Ratusan Hektar Lahan Pertanian di Dharmasraya Terendam Banjir

Maman juga berharap kepada pemerintah daerah dapat segera mengambil tindakan untuk membantu para petani. “Kami mohon pemerintah daerah dapat menyediakan fasilitas irigasi,” pinta Maman. “Tanpa air, kami tidak bisa berbuat banyak,” pungkasnya. (tnl)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *