
Paritmalintang, Scientia – SR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI (Stop TB Partnership Indonesia) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menggelar Seminar Pemberian TPT (Terapi Pencegahan TBC) Bagi Balita dan Anak di Ruang Pertemuan Ibnu Sina, Dinkes Padang Pariaman, Rabu (3/5).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kadinkes Padang Pariaman, Aspiruddin Darab dan dihadiri sebanyak 60 peserta yang terdiri dari unsur Pimpinan Puskesmas, dokter Puskesmas dan para kader Penabulu se-Padang Pariaman.
Adapun narasumber yakni Abdul Kadir sebagai manajer SR Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI Sumbar dan dr. Finny Fitry Yani, SP.A (K) sebagai dokter spesialis anak yang juga menjabat sebagai Ketua Kopi (Koalisi Organisasi Profesi Indonesia) TB Sumbar.
Dalam pemaparannya, Abdul Kadir, menyampaikan bahwa Komunitas Penabulu mendapat mandat dari Dinas Kesehatan Republik Indonesia untuk mengeliminasi TB di dua daerah di Sumbar, salah satunya Padang Pariaman.
“Seminar ini merupakan agenda rutin dalam rangka memperingati Hari TB Sedunia (HTBS) tahun 2023. Kami Komunitas Penabulu bekerjasama dengan Dinkes Padang Pariaman sudah menjalankan program ini selama dua tahun. Nah, sekarang memasuki tahun ketiga, “katanya.
Capaian di Bawah Target
Dikatakan Dedi sapaan akrab Abdul Kadir, selama 2 tahun menjalankan program ini di Padang Pariaman, capaian TPT masih dibawah target yang diharapkan.
Sehingga kegiatan kali ini lebih diprioritaskan pada pencegahan penyakit TB dan bagaimana penyakit TB tidak tersebar serta upaya yang dilakukan komunitas dapat diterima masyarakat.
“Intinya, seminar ini khusus memberikan pemahaman tentang TPT dan mekanisme penyediaan logistik, juga obat terapi pencegahan yang menjadi ranahnya Dinkes dan Puskesmas, karena domain kami memang bagaimana mengawal Anak dan Balita agar ada peningkatan penerima TPT secara signifikan di tahun 2023,” lanjut Abdul.
Selain itu, kata dia, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan angka capaian penerima TPT serta dimaksudkan agar dapat meningkatkan output, salah satunya mengelaborasi antara data yang dikeluarkan komunitas dan data yang ada di Dinkes. Sehingga data tersebut bisa lebih terbuka lagi nantinya.
“Rata-rata capaian kami tiap semester hanya sekitar 20-25 persen, harapannya di tahun ini bisa minimal lebih 50 persen” urainya.
Menurutnya data yang diperoleh komunitas pada semester dua tahun 2022 saja sebanyak 76 anak dan 256 balita kontak serumah dengan pasien TB. Kemudian ada lebih dari 1000 orang kontak erat dengan orang terkena TB di Padang Pariaman.
Meski demikian, Ia juga tidak menampik adanya kendala yang dihadapi kadernya di lapangan, mengingat para kader berbasis masyarakat, bukan orang kesehatan.
“Kendala yang paling sulit adalah memberikan pemahaman kepada orang tua agar anaknya mau diterapi, mungkin cara memberikan edukasinya perlu kita perkuat lagi kedepannya, “tutupnya.
Perlu Komitmen Bersama
Sementara itu, dr. Finny Fitry Yani, SP.A (K) yang menyampaikan materi tentang mekanisme pemberian TPT, menyebutkan perlunya komitmen bersama dalam penanggulangan TB di Padang Pariaman.
“Kita sangat bersyukur Padang Pariaman sebagai kabupaten terpilih dalam kegiatan penanggulangan TB. Ini sangat membantu pekerjaan puskesmas,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kadinkes Aspiruddin Darab, juga mengatakan tentang persamaan persepsi dan saling menguatkan antara Pemerintah dengan Penabulu-STPI dalam menyelesaikan masalah TB di Padang Pariaman. Ia bahkan mencanangkan Nagari bebas TB di Padang Pariaman.
“Jadi, tadi kita sudah minta kepada Puskesmas Ampalu untuk menyiapkan konsep besar ini, kita ambil satu Nagari sebagai percontohan, lalu menjadikan Nagari tersebut bebas Tuberkulosis (TBC) atau nol kasus, kalau ini berhasil maka konsep ini akan kita terapkan di 103 Nagari lain yang ada di Padang Pariaman” katanya. (AKB)

Tinggalkan Balasan