
Padang, Scientia – Lembayung perlahan menghilang di ufuk senja. Adzan bersahut, seolah menyambut kedatangan sebuah kapal yang baru saja datang dari pulau terluar Sumatera Barat, yang acap kali disebut Tanah Sikerei.
Terdengar langkah kaki puluhan orang turun dari kapal Mentawai Fast usai jangkar dilemparkan. Beberapa di antaranya juga turis Asing. “Buk, ada bawa barang, biar saya angkat,” ucap Edward (45) dengan sopannya kepada seorang perempuan, pada Kamis (31/8) senja itu.
“Oh ya. Saya cuma bawa satu tas dan kardus, gak apa-apa,” balas Ratna (38) yang baru saja turun dari kapal Mentawai Fast di Muara Padang. Tepatnya Jalan Batang Arau No. 88, Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.
Ratna yang berasal dari Desa Sikabaluan, Kepulauan Mentawai ini nampak tak canggung dan seolah-olah sudah terbiasa dengan moda transportasi Bluebird ini. Dia bersama anaknya langsung masuk ke mobil sedan milik Bluebird yang telah dibukakan pintunya oleh sopir.
Konon kata Ratna, setiap menyeberang ke Kota Padang dia makin betah dan tak berpaling dari jasa “Burung Biru” ini. “Sudah terbiasa sejak lama dengan Bluebird. Apalagi bagi kami dari Kepulauan Mentawai yang juga tak terbiasa memakai aplikasi, pasti memilih Bluebird,” ucapnya saat diwawancarai.
Kendati demikian, dia juga tahu moda transportasi ini ada aplikasi My Bluebird untuk mempermudah pelanggan. Hanya saja, sebagai anak pulau yang sekali-kali ke Kota Padang rumit jika harus mengunduh aplikasi tersebut di Playstore androidnya.
Terlebih, lanjut perempuan yang memiliki satu anak ini, ketika sudah kembali ke Mentawai aplikasi itu tidak bisa digunakan, karena Bluebird belum masuk ke Tanah Sikerei tersebut. Jika diunduh aplikasinya saat tiba di Padang, saat di Pulau Mentawai dia hapus lagi agar tak memenuhi memori telepon genggamnya.
“Dari pada repot kayak gitu, mending pas ada mobil tulisan Bluebird naik langsung saja. Kalau selain Bluebird gak bisa, karena wajib pesan lewat aplikasi. Bagi kami merepotkan, apalagi datang dari pulau, tiba-tiba gak ada sinyal,” ulasnya.
Selain merasa sangat nyaman, dan terjamin keamanannya, bagi Ratna taksi Bluebird ini lebih gampang dicari. Apalagi armada yang dipakai juga baru-baru, dibanding armada lain yang sering dipakai untuk keluarga sopirnya sehari-hari.
“Dengan Bluebird itu gampang saja. Sopir-sopirnya ramah, gak neko-neko. Kita baru keluar dari pulau seperti tadi, langsung ditawari, ditanyai tujuannya, dan angkat barang bawaan kita,” urai Ratna yang ditemani anaknya yang berusia 8 tahun.
Sementara, saat Scientia wawancara, Edward selaku sopir taksi Bluebird Cabang Padang tengah membawa kardus barang bawaan Ratna dari pulau, kemudian disusun dengan rapi di bagian bagasi mobil. Begitulah bentuk pelayanan ekstra yang diberikan untuk penumpang Bluebird agar tambah nyaman.
“Ya, kita memberikan kenyamanan penumpang dengan pelayanan yang ekstra. Kita tidak gengsi jemput dan angkat barang-barangnya, pintu dibuka, jadi penumpang hanya masuk dan duduk dengan tenang,” tutur Edward yang telah 10 tahun lebih bergabung dengan Bluebird ini.

Tak hanya itu, sebagai pengemudi Bluebird juga mesti memiliki daya tarik bagi penumpang. Mulai dari servis pelayanan, punya wawasan luas, dan cakap berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan motto ANDAL layanan Bluebird, yakni Aman, Nyaman, Mudah, dan Personalise.
“Karena banyak penumpang dari luar juga. Jadi jika ada penumpang bertanya tentang apapun, kita mesti bisa memberi jawaban, sehingga penumpang bisa terbantukan, dan merasa lebih nyaman,” terangnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Irwandi (49) dan Putra Hakimi (35), saat berbincang sambil menunggu penumpang di Jalan A Yani Padang. Jika pelayanan yang diberikan memuaskan, penumpang otomatis nyaman dan bakal memakai jasa Bluebird secara berulang.
Kendati saat ini banyak moda transportasi serupa, baginya Bluebird masih bisa bersaing sehat. Salah satunya dengan memberikan pelayanan ekstra bagi penumpang, yang belum tentu rival taksi lainnya sanggup lakukan.
“Kita tidak boleh nolak penumpang, seberapa jauh pun tujuannya harus kita antar. Sebab, kalau penumpang merasa puas, suatu saat dia pasti pakai Bluebird lagi. Makanya yang kita utamakan itu pelayanan,” kata Irwandi dengan lugas.
Ditambah Putra Hakimi, saat ini semakin banyak yang memesan dengan My Bluebird. Hal ini tentu sangat mempermudah kedua belah pihak, baik bagi driver maupun bagi penumpang. Selain itu, pembayaran juga bisa dilakukan dengan aplikasi QRIS, Gopay, maupun secara tunai.
Menurutnya, layanan digital yang diberikan Bluebird, sebagai bentuk komunikasi kepada masyarakat bahwa Bluebird tetap sangat relevan dengan generasi masa kini yang menyesuaikan perkembangan zaman. Terutama bagi kaum Millenial dan Gen Z yang makin melek digital.
“Tapi umumnya penumpang pakai non tunai, karena semuanya sudah serba digital. Jadi penumpang bisa bayar pas sesuai harga. Tidak ada yang dirugikan. Harganya pun hanya Rp4.700 setiap per kilometer,” jelasnya.
Berkaca di masa COVID 19, pendapatan pengemudi Bluebird Kota Padang saat ini jauh lebih meningkat. Apalagi dari awal tahun hingga sekarang banyak event yang digelar di Kota Padang maupun di wilayah Sumbar lainnya, yang bisa mengundang wisatawan datang lebih banyak.
“Kalau ada iven, kami sangat senang, karena banyak tamu jadi penumpang. Kita bisa kerja ekstra minimal 24 hari, setoran bisa lebih dari Rp375.000 per hari. Selain bisa mengantongi lebih dari Rp100 ribu per hari, juga dapat bonus bulanan dari perusahaan,” tutupnya.
Sementara di sisi lain, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono menuturkan Bluebird di usia 51 tahun ini berkomitmen melakukan langkah kolaboratif. Tak hanya kenyamanan dan keamanan bagi penumpang, tapi juga aman bagi masyarakat luas lainnya.
Salah satunya, dengan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih. Hal ini juga sejalan dengan komitmen BlueSky dan BlueLife yang diusung Bluebird selama ini. Tahun 2023 ini, Bluebird bekerja sama dengan komunitas Rethink Plastic dalam inisiatif reuse, reduce, and recycle (3R).
“Kami di Bluebird berkomitmen untuk melakukan langkah-langkah kolaboratif yang mendorong terbentuknya lingkungan yang lebih baik, sejalan dengan komitmen kami di dalam pilar BlueSky dan BlueLife,” ucapnya dalam keterangan resmi pada, Kamis (31/8).
“Setiap Kilometer Berarti” yang terlihat bukan hanya dalam hal layanan, tapi juga melalui komitmen mewujudkan Visi Keberlanjutan Bluebird 50:30 untuk mengurangi dampak emisi dan gas buang operasional hingga 50% pada 2030 mendatang.
Adapun upaya yang dilakukan, Bluebird mengajak lebih dari 5.000 pertisipan Bluebird Run & Ride untuk mengkonversi setiap kilometer yang dilaluinya. Yakni menjadi donasi berupa alat pengering bagi petani rumput laut yang merupakan bagian dari komunitas Rethink Plastic dan juga menjadi pemasok bahan baku alternatif substitusi plastik.
Diketahui, PT Bluebird yang berkantor pusat di Jakarta ini, hingga saat ini armada yang dimiliki lebih dari 20.000 unit, dan 23.000 lebih karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dikutip dari bluebirdgroup.com, tahun 2022 Bluebird berhasil membukukan pendapatan Rp3,58 Triliun, atau meningkat 62 persen dibanding tahun sebelumnya.
#karyajurnalisANDAL2023

Tinggalkan Balasan