![Pimpinan Ponpes Nurul Yaqin Imam Al-Ghazali Kayu Tanam, Luki Permensyah. [foto : sci]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2022/08/IMG-20220819-WA0017.jpg)
“Kita patut berbahagia dan bersyukur. Sebab, saat ini santri dapat menikmati kemerdekaan yang sebenarnya. Santri dapat belajar dengan aman dan nyaman tanpa ada hambatan,” ujar Luki.
Luki menceritakan kisah perjuangan Buya Syekh H. Ali Imran Hasan yang selalu berpindah tempat (nomaden) saat menuntut ilmu. Kondisi ini bukan disebabkan atas ketidaknyamanan, melainkan atas ketidakamanan tempat menuntut ilmu yang selalu diganggu para penjajah.
“Nomaden menuntut ilmu pada masa itu sudah dianggap lumrah. Sebab keadaan yang pada saat itu yang mengharuskan,” sebut Luki.
Luki menjelaskan bahwa pada saat penjajahan di Indonesia, kebebasan dalam menuntut ilmu sangat dikekang. Karena jika dibebaskan, akan menjadi ancaman bagi para penjajah.
“Sekarang kita sudah merdeka, apa yang dapat kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan selaku santri. Salah satunya belajar dengan rajin, berprestasi dan berakhlak mulia. Sebab, meningkahkan prestasi adalah bentuk syukur atas kemerdekaan RI,” jelasnya. (mwp)
![Pimpinan Ponpes Nurul Yaqin Imam Al-Ghazali Kayu Tanam, Luki Permensyah. [foto : sci]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2022/08/IMG-20220819-WA0017.jpg)
Tinggalkan Balasan