
LIMAPULUHKOTA, SCIENTIA – Minangkabau terkenal dengan banyaknya keunikan tradisi yang melekat turun temurun.
Salah satunya ialah Bapoko’ atau ada juga yang menyebut Baiyo-iyo.
Sebuah tradisi yang dilaksanakan beberapa minggu sebelum “Baralek” atau hajatan pernikahan.
Bapoko’ artinya Bermufakat, sementara Baiyo-iyo diartikan Seia Sekata atau Sependapat.
Bapoko’ atau Beriyo-iyo mempunyai makna yang sama yaitu kesepakatan sekelompok orang untuk tujuan tertentu yang mana lebih di perdalam dalam hal kegiatan hajatan.
Tradisi ini sudah ada sejak lama bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia.
Beberapa sumber mengatakan tidak bisa dipastikan kapan tahun pasti tradisi tersebut dimulai tetapi jauh sebelum kemerdekaan Indonesia tradisi Bapoko’ atau Baiyo-Iyo sudah dilaksanakan di beberapa daerah di Kabupaten Lima Puluh Kota seperti di Kecamatan Luak.
Bapoko’ atau Baiyo-Iyo dimulai pada siang hari hingga malam.
Siang hari beberapa Ibu-ibu yang telah diundang sebelumnya akan datang kerumah pemilik hajatan dengan membawa beras dan telur untuk diserahkan kepada pemilik hajatan dan Ibu-ibu ini akan disuguhi cemilan tradisional Minangkabau seperti Pinyaram, Goreng Pisang, Limpiang, Lemang Bakar dan lain sebagainya.
Puncaknya setelah magrib, pria dewasa yang telah diundang sebelumnya akan berbondong-bondong datang kerumah pemilik hajatan dengan disuguhi cemilan yang sama ditambah minuman seperti teh manis dan kopi.
Pria dewasa yang diundang adalah yang sudah atau pernah menikah.
Kalau para Ibu-ibu membawa beras dan telur tapi kalau kau bapak-bapak cukup membawa uang saja untuk disumbangkan kepada tuan rumah.
Proses Bapoko’
Adapun proses Bapoko’ atau Baiyo-Iyo pada malam hari tersebut dimulai dengan perundingan antar Niniak Mamak atau Pemimpin Kaum dikampung tersebut untuk membicarakan waktu hajatan dan apa saja kegiatan tambahan saat hajatan.
Kemudian Niniak Mamak tuan rumah mengumumkan kepada seluruh undangan yang hadir jadwal dan kegiatan tambahan saat hajatan nantinya.
Setelah itu para undangan yang hadir akan menyumbangkan uang kepada tuan rumah.
Jumlah sumbangan disepakati, misalnya 15ribu atau 20ribu perorang walaupun banyak juga yang memberi sumbangan lebih.
Tujuan dari Bapoko’ atau Baiyo-Iyo untuk memperingan beban atau biaya hajatan.
Biasanya uang yang terkumpul pada malam Bapoko’ atau Baiyo-Iyo berjumlah lumayan seperi jutaan rupiah bahkan ada juga yang puluhan juta. (HZ)

Tinggalkan Balasan