
Solok Selatan, Scientia – Tak banyak orang yang mau turun tangan mengurusi masalah sosial. Mulai dari membantu keluarga miskin mengakses bantuan pemerintah, membantu orang terlantar yang tidak diketahui asal usulnya, bahkan mengurusi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang tidak memiliki identitas. Orang dengan pekerjaan ini dikenal dengan istilah Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).
Pekerjaan inilah yang dilakoni oleh Reno Susi Sandra (40) sejak tahun 2006 hingga sekarang. Saat ditemui Scientia di Dinas Sosial PMD Solok Selatan pekan lalu, Reno berkisah. Mulanya ia diminta oleh Camat Koto Parik Gadang Diateh (KPGD) tempat ia bekerja untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Solok Selatan.
“Awalnya saya tidak tahu menahu apa itu pekerja sosial masyarakat. Namun, setelah pelatihan saya ditugaskan melakukan pendataan ke masyarakat yang memiliki masalah sosial. Sekarang disebut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)” ujarnya, Minggu (14/3).
Sejak itu, Reno aktif mengurus berbagai masalah sosial di wilayah kerjanya Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh. Aktivitasnya mulai dari mendata, memfasilitasi dan membantu masyarakat dalam menangani permasalahan sosial yang tengah dihadapi.
Bekerja sebagai PSM mengharuskan Reno siap tanggap 24 jam mengurus masyarakat. Tak jarang Reno turun ke lokasi pada tengah malam bila terjadi keadaan darurat seperti bencana alam.
Tak hanya itu, dengan profesinya tersebut Reno menjelma menjadi seorang motivator untuk masyarakat. Bahkan, tak jarang ia menjadi yang terdepan memperjuangkan hak mereka memperoleh perhatian dan bantuan pemerintah. Atas kerasnya, pada tahun 2012 Reno terpilih dalam penilaian PSM Teladan Tingkat Nasional.
Mengingat pentingnya peran PSM, saat ini Kabupaten Solok Selatan telah memiliki 39 orang anggota yang bekerja di setiap nagari.
“Dari 39 orang, baru 26 orang yang telah menjadi Tenaga Kontrak Daerah (TKD), sementara 16 lainnya masih sukarela,” kata Reno.
Reno menambahkan sebagai TKD, PSM digaji sekitar Rp 600.000 setiap bulannya. Dengan penghasilan tersebut rasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, meskipun nominalnya kecil, Reno dan kawan-kawan tetap semangat menjadi mitra pemerintah dalam menangani masalah sosial. Selain menjadi PSM, mereka juga memiliki pekerjaan sampingan seperti berdagang atau bertani.
“Hati yang ikhlas dan semangat inilah yang mungkin menyebabkan kami dimudahkan rezeki pada pekerjaan yang lain. Bahkan tak jarang datang rezki yang tak disangka-sangka entah dari mana,” ujar Reno.
Reno yang menjadi koordinator PSM Kabupaten Solok Selatan, berharap kepada Pemkab untuk memberikan perhatian kepada PSM. Terutama yang masih sukarela agar diangkat menjadi TKD. Selain itu, ia juga berharap kelengkapan sarana untuk menunjang kelancaran PSM dalam menjalankan tugas. Khususnya terkait dengan pendataan, PSM juga membutuhkan sarana seperti alat tulis kantor dan perangkat komputer atau laptop.
“Semoga dengan terpilihnya bupati baru sekarang ini, relawan bidang sosial tak hanya PSM. Tetapi ada Tagana, TKSK dan lainnya yang telah bekerja sebagai mitra pemerintah mendapat perhatian lebih oleh pemerintah,” tutup Reno.(yus)

Tinggalkan Balasan